Pekanbaru, Balienews.com – Tradisi Pacu Jalur dari Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, mencuri perhatian dunia setelah viralnya fenomena “Aura Farming” di media sosial. Dinas Pariwisata Provinsi Riau menyambut baik tren ini dan menyebutnya sebagai momentum kebanggaan budaya lokal yang mendunia.
Budaya Pacu Jalur Menjadi Fenomena Global
Kepala Dinas Pariwisata Riau, Roni Rakhmat, mengatakan Pacu Jalur merupakan warisan budaya tak benda yang telah diakui secara nasional oleh Kementerian Kebudayaan. Menurutnya, viralnya tren “Aura Farming” menunjukkan daya tarik universal dari tradisi mendayung khas Kuantan Singingi tersebut.
“Tentu ini merupakan kebanggaan luar biasa bagi kami, bagi Riau, dan khususnya Kuansing. Ini membuktikan bahwa budaya lokal kita memiliki daya tarik universal dan bisa dikenal secara global,” ujar Roni, Jumat (4/7/2025) di Pekanbaru.
Tren TikTok Bawa Pacu Jalur ke Panggung Internasional
Fenomena “Aura Farming” bermula dari video pendek di TikTok yang menampilkan bocah pendayung melakukan gerakan khas mendayung dengan ekspresi penuh percaya diri atau badass, sambil diiringi lagu “Young Black & Rich” karya Melly Mike. Gerakan tersebut dianggap estetik dan berkarisma, memancing rasa penasaran warganet internasional.
Banyak kreator konten luar negeri turut menirukan gaya mendayung dalam bentuk video meme, menjadikan Pacu Jalur sebagai simbol baru dari kebanggaan budaya Indonesia.
Pacu Jalur, Tradisi yang Ada Sejak Masa Kolonial Belanda
Pacu Jalur merupakan lomba mendayung tradisional menggunakan perahu panjang yang dikenal sebagai “jalur”. Acara ini rutin digelar setiap Agustus di Sungai Batang Kuantan, Teluk Kuantan, dan selalu menyedot ribuan penonton, termasuk warga perantauan yang pulang kampung demi menyaksikannya.
Suasana festival penuh semarak, ditandai dengan kostum warna-warni, teriakan penyemangat tim, dan dentuman meriam sebagai penanda dimulainya lomba.
Pacu Jalur juga memiliki nilai sejarah penting. Pada masa penjajahan Belanda, perlombaan ini dijadikan bagian dari peringatan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina setiap 31 Agustus. Lomba biasanya berlangsung selama dua hingga tiga hari, tergantung jumlah peserta.
Daya Tarik Utama Pariwisata Budaya di Indonesia
Dispar Riau memprediksi lonjakan wisatawan ke Kuantan Singingi dan wilayah Riau lainnya pada Agustus mendatang. Festival Pacu Jalur dinilai mampu mengukuhkan diri sebagai daya tarik utama pariwisata budaya di Indonesia.
“Dari sisi pariwisata, Pacu Jalur semakin mengukuhkan posisinya sebagai magnet utama destinasi budaya, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Roni.
Pemerintah Provinsi Riau terus menjadikan Pacu Jalur sebagai agenda wisata unggulan untuk menarik wisatawan nusantara dan mancanegara. Dukungan digital dan tren media sosial menjadi peluang besar untuk memperluas jangkauan promosi budaya lokal. (BEM)