back to top
Kamis, Maret 5, 2026
- Advertisement -spot_img
BerandaLingkunganPantai di Badung Kembali Dikepung Sampah Laut, Capai 40 Ton per Hari

Pantai di Badung Kembali Dikepung Sampah Laut, Capai 40 Ton per Hari

Mangupura, Balienews.comPantai-pantai di Kabupaten Badung, Bali, kembali dilanda sampah laut dengan volume mencapai rata-rata 40 ton per hari. Sampah yang didominasi plastik dan material organik ini merupakan fenomena musiman yang rutin terjadi setiap tahun, terutama pada periode November hingga April, akibat pergerakan arus laut.

Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan dan Limbah B3 DLHK Kabupaten Badung, AA Gede Agung Dalem, menjelaskan bahwa dalam tiga minggu terakhir hampir seluruh pantai di wilayah Badung terdampak kiriman sampah laut. Kondisi ini terpantau merata dari kawasan wisata hingga pesisir barat Badung.

Sebaran Sampah Laut dari Berawa hingga Cemagi

Menurut DLHK Badung, sebaran sampah laut tahun ini terpantau dari Pantai Berawa hingga Cemagi. Hampir setiap hari terdapat kiriman sampah dengan pola yang relatif sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Pada Desember ini hampir semua pantai dipenuhi sampah laut, meski kawasan Kuta relatif lebih aman dibanding wilayah lainnya,” ujar Agung Dalem, Sabtu (20/12/2025).

Sampah laut tersebut tersebar di sejumlah titik strategis, mulai dari Jimbaran, Kedonganan, Setra Kuta, Camplung, Padma, Seminyak, Berawa, hingga Cemagi, yang merupakan kawasan dengan aktivitas wisata tinggi.

DLHK Kerahkan 56 Truk dan 300 Petugas Kebersihan

Untuk menangani lonjakan sampah laut, DLHK Badung mengoperasikan 41 unit truk, ditambah 15 truk sewaan. Penambahan armada ini dilakukan guna mengantisipasi antrean panjang di TPA Suwung.

“Antrean di TPA kerap terjadi saat volume sampah meningkat. Karena itu, sesuai kebijakan Bupati Badung, kami menyewa 15 truk tambahan yang digilir untuk pengangkutan,” jelasnya.

Selain armada, sekitar 300 tenaga kebersihan juga disiagakan untuk membersihkan jalur jalan dan kawasan pantai, khususnya di area Kuta, Seminyak, dan Jimbaran, guna menjaga kenyamanan wisatawan.

Sampah Campuran Masih Dibawa ke TPA Suwung

Agung Dalem menuturkan, sampah laut yang tercampur antara plastik dan organik masih harus dibawa ke TPA Suwung karena belum tersedia metode cepat untuk pengolahan langsung di lokasi.

Sementara itu, sampah kayu berukuran besar diarahkan ke tempat pencacahan kayu di Mengwi Tani.

“Jika penanganan di pantai tertunda, kami khawatir akan memicu keluhan wisatawan. Karena itu, pembersihan dilakukan secepat mungkin,” katanya.

Sampah Laut Bersifat Lintas Negara

DLHK Badung menegaskan bahwa sampah laut merupakan persoalan lintas wilayah bahkan lintas negara. Berdasarkan temuan di lapangan, sumber sampah berasal dari Sumatra, Jakarta, hingga pantai utara Jawa, yang teridentifikasi melalui kemasan produk dari daerah seperti Kebumen, Gresik, Genteng, dan Banyuwangi.

“Bali berada di kawasan teluk, sehingga sampah yang terbawa arus mudah terdampar di sini. Bahkan, ada kemasan yang terbawa arus hingga ke Madagaskar,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pemerintah pusat telah menggulirkan program pengurangan sampah laut berbasis daratan, mengingat sekitar 80 persen sampah laut berasal dari darat, sementara hanya 20 persen dari aktivitas laut seperti kapal dan nelayan.

DLHK Siap Hadapi Lonjakan Sampah Tahun Baru

Menjelang perayaan malam Tahun Baru, DLHK Badung memastikan kesiapan penuh dalam mengantisipasi potensi lonjakan sampah.

“Kami sudah terbiasa. Begitu ada sampah laut, langsung kami pungut dan kumpulkan di lokasi yang tidak mengganggu, sambil menunggu pengangkutan,” pungkas Agung Dalem.

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI