Denpasar, Balienews.com – Umat Hindu di Indonesia melaksanakan Brata Siwaratri pada Sabtu Wage Tambir, 17 Januari 2026. Meski kerap dipahami sebagai malam peleburan dosa, esensi sebenarnya dari hari suci ini adalah perenungan mendalam dan pengendalian diri.
Hal ini ditegaskan oleh Pedharma Wacana sekaligus Penata Layanan Operasional Urusan Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar, Putu Widya Candra Prawartana. Menurutnya, pemahaman yang berkembang di masyarakat, termasuk generasi muda, perlu diluruskan.
Makna Sejati Siwaratri: Perenungan, Bukan Penebusan
Putu Widya Candra Prawartana menjelaskan bahwa Siwaratri, yang jatuh setiap Purwaning Tilem (panglong ping 14) Sasih Kapitu, merupakan hari untuk merenungkan segala perbuatan buruk atau papa klesa yang pernah dilakukan.
“Malam Siwaratri bukan malam peleburan atau penebusan dosa, namun lebih pada perenungan atas segala perbuatan buruk yang telah dilakukan sebelumnya. Dengan kata lain, Siwaratri merupakan ajang introspeksi diri,” ujarnya, mengutip dari sumber-sumber seperti Siwaratri Kalpa, Padma Purana, dan Sweta Suara Upanisad.
Ia menambahkan, dalam teologi Hindu, Tuhan memang memiliki kapasitas untuk mengampuni, tetapi manusia harus terlebih dahulu menyadari dan merenungkan kesalahannya sebagai langkah awal penyucian.
Metafora Pengikisan Dosa
Prawartana memberikan sebuah metafora untuk memperjelas konsep ini. Dosa diibaratkan seperti batu karang besar, sedangkan ilmu pengetahuan dan kesadaran adalah air laut yang mengikisnya.
“Apabila terumbu karang ini direnungkan dengan ombak yang sangat besar, dikikis sedikit demi sedikit dengan ilmu pengetahuan lewat momentum Siwaratri ini, maka dosa itu akan luluh. Bukan berarti ditebus. Kalau ditebus, berarti ada penjaminan terhadap dosa itu sendiri,” paparnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa prosesnya adalah usaha aktif dari individu untuk mengikis keburukan, bukan sekadar meminta penghapusan dosa secara instan.
Pelaksanaan Brata: Tri Brata sebagai Bentuk Pengendalian Diri
Pengendalian diri pada Siwaratri direalisasikan melalui pelaksanaan Tri Brata, yang terdiri dari:
- Mona Brata: Tidak berbicara, sebagai bentuk pengendalian ucapan.
- Upawasa: Tidak makan dan minum, untuk mengendalikan hawa nafsu dan pengaruh duniawi.
- Jagra: Tidak tidur, dengan makna menjaga kesadaran dan mawas diri sepanjang malam.
Pelaksanaan brata ini merupakan wujud konkret dari perenungan dan upaya pembersihan diri.
Di tengah maraknya informasi di media sosial, Prawartana mengajak umat, khususnya generasi muda, untuk menggali makna hakiki Siwaratri di balik ritualnya.
“Sekali lagi, perenungan terhadap papa klesa bukan berarti sebagai sebuah momentum peleburan dosa,” tegasnya.
Dengan pemahaman yang benar, perayaan Siwaratri diharapkan dapat membawa transformasi spiritual yang lebih mendalam bagi setiap individu. (BEM)




