Singasana, Balienews.com – Kasus pneumonia di Kabupaten Tabanan mengalami peningkatan signifikan pada awal tahun 2026. Berdasarkan data Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Singasana, jumlah penderita pneumonia meningkat sekitar 25 persen dalam periode Desember 2025 hingga Januari 2026.
Kondisi cuaca dingin yang disertai angin kencang diduga menjadi faktor utama meningkatnya penyebaran infeksi saluran pernapasan tersebut.
Lonjakan Kasus Tercatat di RSUD Singasana
Data RSUD Singasana mencatat, pada Desember 2025 terdapat 20 kasus pneumonia yang ditangani, baik pasien rawat inap maupun rawat jalan.
Memasuki Januari 2026, angka tersebut meningkat menjadi 25 kasus, dengan rincian 15 pasien menjalani perawatan inap dan 10 pasien rawat jalan.
Cuaca Dingin Mempercepat Penyebaran Virus
Dokter Spesialis Paru RSUD Singasana, dr. Diah Permata Kinanti, SpP, menjelaskan bahwa peningkatan kasus pneumonia berkaitan erat dengan perubahan cuaca ekstrem.
“Selain udara dingin, kondisi berangin saat ini memudahkan penyebaran virus menjadi lebih luas,” ujar dr. Diah, Senin (26/1/2026).
Pneumonia Berawal dari Flu yang Tak Tertangani
Menurut dr. Diah, pneumonia umumnya diawali dari infeksi influenza yang tidak ditangani secara optimal.
Ia menyebutkan, vaksin influenza tersedia sebagai langkah pencegahan, meski efektivitasnya dapat berbeda seiring perubahan strain virus yang terus bermutasi setiap tahun.
“Untuk varian Superflu yang berkembang saat ini, vaksin influenza terbaru masih bisa memberikan perlindungan meskipun efektivitasnya tidak terlalu tinggi,” jelasnya.
Varian tersebut diketahui merupakan strain baru Influenza A H3N2 subclade K yang muncul setelah vaksin influenza terbaru dirilis.
Vaksin Influenza Dianjurkan untuk Kelompok Rentan
Meski efektivitasnya bervariasi, vaksin influenza tetap dianjurkan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit kronis, termasuk penyakit paru kronis, asma, gangguan jantung, dan individu dengan daya tahan tubuh rendah.
Di Kabupaten Tabanan, minat masyarakat terhadap vaksin influenza dilaporkan mulai meningkat.
“Sebagian besar permintaan berasal dari pasien dengan penyakit kronis. Namun, sebelum vaksin diberikan, kondisi pasien harus dipastikan tidak sedang mengalami infeksi aktif,” tambah dr. Diah.
Selain itu, vaksin influenza juga banyak diminati oleh masyarakat yang akan bepergian ke negara dengan empat musim, baik untuk bekerja maupun berlibur. Biaya vaksin influenza berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta, tergantung fasilitas layanan kesehatan.
Imbauan Masyarakat Tetap Waspada
Menyikapi peningkatan kasus pneumonia, dr. Diah mengimbau masyarakat agar tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan. Ia menekankan pentingnya menerapkan pola hidup bersih dan sehat sebagai langkah pencegahan.
“Konsumsi makanan bergizi, cukup minum, istirahat yang cukup, rutin berolahraga, dan hindari begadang. Jika sedang sakit, gunakan masker agar tidak menularkan ke orang lain,” pungkasnya. (BEM)




