Denpasar, Balienews.com – Ribuan umat Hindu dari berbagai daerah di Bali memadati Pura Agung Jagatnatha Denpasar untuk memperingati Hari Suci Siwaratri, Sabtu (17/1), dengan melakukan persembahyangan hingga mekemit atau berjaga semalaman. Peringatan ini menjadi momentum penyucian diri, perenungan, dan pemujaan kepada Sang Hyang Siwa.
Siwaratri sebagai Malam Penyucian dan Perenungan
Pemangku Pura Agung Jagatnatha Denpasar, Ida Bagus Saskara, menjelaskan bahwa pelaksanaan Siwaratri pada malam hari telah menjadi tradisi rutin umat Hindu.
Malam suci ini dimaknai sebagai waktu terbaik untuk melakukan introspeksi diri melalui tapa brata Siwaratri.
“Siwaratri adalah malam perenungan dan penyucian diri. Umat datang untuk sembahyang, merenungi perbuatan, dan mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi Sang Hyang Siwa,” ujar pemangku yang akrab disapa Tuaji Mangku.
Pura Jagatnatha Jadi Magnet Anak Muda
Menurut Tuaji Mangku, suasana Pura Agung Jagatnatha pada malam Siwaratri selalu dipadati umat, terutama kalangan anak muda.
Mereka tidak hanya bersembahyang, tetapi juga berkumpul dan berjaga semalaman bersama teman-teman.
“Sejak dulu, malam Siwaratri di Pura Jagatnatha identik dengan kehadiran anak muda. Setelah sembahyang, mereka mekemit bersama sebagai bagian dari laku spiritual,” katanya.
Umat Datang dari Seluruh Bali
Umat Hindu yang hadir tidak hanya berasal dari Kota Denpasar. Banyak di antaranya merupakan perantau, pelajar, maupun masyarakat dari kabupaten lain di Bali yang memilih Pura Jagatnatha sebagai tempat persembahyangan.
Lokasi pura yang berada di titik nol Kota Denpasar, berdampingan dengan Lapangan Puputan Badung, menjadi daya tarik tersendiri karena mudah diakses dan memiliki suasana yang nyaman.
Wayang Kulit Temani Umat Mekemit
Untuk mendukung umat yang berjaga semalaman, pengelola pura juga menyiapkan pertunjukan wayang kulit di area pinggir lapangan. Hiburan ini diharapkan membantu umat, khususnya generasi muda, agar tetap terjaga tanpa mengurangi kekhusyukan persembahyangan.
“Kebetulan malam ini ada pertunjukan wayang di depan pura. Setelah sembahyang, umat bisa menikmati wayang sambil tetap menjalani makna Siwaratri,” ujar Tuaji Mangku.
Jadwal Persembahyangan Siwaratri
Persembahyangan utama Hari Suci Siwaratri dilaksanakan sebanyak tiga kali, yakni pada pukul 18.30 WITA, 00.00 WITA, dan 05.00 WITA. Meski demikian, umat telah mulai berdatangan sejak pagi hari untuk bersembahyang secara bergantian.
“Persembahyangan dipimpin oleh sulinggih dan para pemangku. Puncak keramaian biasanya terjadi malam hari antara pukul 20.00 hingga 00.00 WITA,” jelasnya.
Ajakan Introspeksi dan Perbaikan Diri
Di akhir, pemangku mengajak umat Hindu memaknai Siwaratri sebagai momentum untuk merenungkan kesalahan, terutama perbuatan negatif, agar tidak terulang di masa depan.
“Siwaratri adalah kesempatan memperbaiki diri. Semoga umat bisa menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya,” pungkasnya. (BEM)




