Balienews.com – Kasus pubertas dini pada anak perempuan berusia 7 tahun menjadi sorotan publik setelah orangtuanya membagikan perubahan fisik sang anak di media sosial. Fenomena ini terjadi di Indonesia, viral pada awal Januari 2026, dan memicu diskusi luas tentang pubertas prekoks—kondisi ketika tanda pubertas muncul lebih cepat dari usia normal.
Dokter spesialis anak menegaskan, pubertas dini berkaitan erat dengan aktivasi hormon yang terjadi lebih awal dan perlu dievaluasi secara medis agar tidak disalahartikan.
Fenomena Pubertas Dini Jadi Perhatian Publik
Kasus yang viral memperlihatkan perubahan fisik seperti pertumbuhan payudara dan munculnya bau badan yang berbeda dari anak seusianya. Kondisi tersebut membuat banyak orangtua khawatir sekaligus bertanya-tanya mengenai penyebab pubertas dini pada anak.
Pubertas sejatinya merupakan proses biologis yang berlangsung bertahap sesuai usia perkembangan. Namun, pada sebagian anak, perubahan ini dapat terjadi jauh lebih cepat dari yang diharapkan.
Peran Aktivasi Dini Hormon Pubertas
Dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi, Dr. Faisal, SpA, SubSp.Endo (K), M.Kes, dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, menjelaskan bahwa pubertas dini dipicu oleh aktifnya sistem hormon pubertas lebih awal.
Menurut Faisal, proses tersebut melibatkan poros hormon hipotalamus, hipofisis, dan gonad yang berfungsi mengatur pelepasan hormon pemicu perkembangan organ reproduksi. Jika poros ini aktif sebelum waktunya, tanda-tanda pubertas pun muncul lebih cepat.
Penyebab Berbeda pada Anak Perempuan dan Laki-laki
Dikutip dari Kompas.com, Selasa (6/1/2026), Faisal menyebutkan bahwa penyebab pubertas dini tidak selalu sama pada anak perempuan dan laki-laki.
Pada anak perempuan, sebagian besar kasus bersifat idiopatik, atau tidak ditemukan penyebab medis serius. Sebaliknya, pada anak laki-laki, pubertas dini lebih sering berkaitan dengan gangguan medis tertentu sehingga memerlukan evaluasi yang lebih menyeluruh.
Obesitas Jadi Faktor Risiko Penting
Selain faktor hormonal, obesitas pada anak juga berperan sebagai faktor risiko pubertas dini. Kelebihan lemak tubuh dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan mempercepat aktivasi hormon pubertas.
Faisal menekankan pentingnya menjaga berat badan anak tetap ideal sebagai langkah pencegahan yang bisa dilakukan sejak dini.
Paparan Hormon dari Lingkungan
Paparan hormon dari luar tubuh turut menjadi perhatian. Zat tertentu yang menyerupai hormon dapat berasal dari produk yang digunakan sehari-hari, seperti kosmetik, makanan, atau bahan kimia tertentu.
Karena itu, orangtua diimbau lebih selektif dalam memilih produk yang digunakan anak agar tidak mengganggu keseimbangan hormon alami tubuh.
Faktor Genetik dan Riwayat Keluarga
Faktor genetik juga memengaruhi waktu pubertas. Anak dengan riwayat keluarga yang mengalami pubertas lebih awal memiliki risiko lebih besar mengalami kondisi serupa, meskipun faktor lingkungan tetap berperan signifikan.
Penyebab Medis yang Perlu Diwaspadai
Dalam kasus yang jarang terjadi, pubertas dini dapat disebabkan oleh gangguan pada otak atau jalur pubertas perifer. Kondisi ini memerlukan penanganan medis khusus.
Faisal menegaskan pentingnya pemeriksaan medis yang rasional dan bertahap. Orangtua diminta tidak langsung menyimpulkan penyebab pubertas dini tanpa konsultasi dokter.
“Pubertas dini memang melibatkan hormon, tapi tidak selalu berarti ada penyakit serius. Namun, tetap perlu dinilai secara tepat,” ujar Faisal.
Pentingnya Deteksi dan Evaluasi Dini
Pemeriksaan sejak awal akan membantu menentukan apakah anak hanya perlu pemantauan rutin atau memerlukan terapi lanjutan. Orangtua disarankan segera berkonsultasi ke dokter spesialis anak bila melihat tanda pubertas muncul lebih cepat. (BEM)




