Buleleng, Balienews.com – Sebanyak 15 warga di Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali, menjadi korban gigitan anjing liar yang diduga terinfeksi rabies pada Minggu (8/3/2026). Insiden terjadi di kawasan Jalan Gunung Batur hingga sekitar Pasar Buleleng, Singaraja. Para korban langsung mendapatkan penanganan medis di RSUD Buleleng, termasuk pemberian vaksin anti rabies sebagai langkah pencegahan.
Direktur RSUD Kabupaten Buleleng, Ketut Suteja Wibawa, mengatakan seluruh korban telah ditangani sesuai standar operasional prosedur (SOP) penanganan gigitan hewan penular rabies. Sebagian besar korban telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan awal.
“Sebagian besar korban mengalami gigitan di bagian kaki. Namun ada satu pasien yang masih menjalani rawat inap karena mengalami cedera cukup serius,” ujarnya.
Korban Berasal dari Sejumlah Kelurahan di Singaraja
Data yang dihimpun menyebutkan para korban berasal dari beberapa wilayah di Kota Singaraja, antara lain Kelurahan Paket Agung, Kampung Singaraja, Liligundi, hingga Kendran.
Dari total korban, dua di antaranya merupakan anak-anak berusia 6 dan 7 tahun. Salah satu korban bahkan harus menjalani perawatan lebih lanjut karena mengalami patah tulang pada tangan kiri dan membutuhkan tindakan operasi.
“Satu pasien masih dirawat di rumah sakit karena mengalami patah tulang dan perlu operasi,” jelas Suteja Wibawa.
Seluruh Korban Sudah Mendapat Vaksin Anti Rabies
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, Sucipto, memastikan seluruh korban telah menerima vaksin anti rabies (VAR) sebagai langkah pencegahan infeksi.
Ia menjelaskan bahwa vaksin rabies tersedia di fasilitas kesehatan, sehingga korban akan melanjutkan tahapan vaksinasi di puskesmas terdekat.
“Untuk penanganan sudah kami lakukan. Semua korban sudah mendapatkan vaksin. Vaksin tersedia dan sudah diberikan kepada mereka,” kata Sucipto.
Dalam kasus gigitan hewan penular rabies, korban umumnya akan menerima vaksin dalam beberapa tahap.
“Biasanya vaksin diberikan tiga kali, yaitu setelah gigitan pertama, kemudian dilanjutkan pada hari ke-7 dan hari ke-14. Namun itu juga menunggu hasil pemeriksaan terhadap hewan yang menggigit,” jelasnya.
Sampel Anjing Akan Diuji di Laboratorium Denpasar
Pihak Dinas Kesehatan menduga anjing yang menyerang warga kemungkinan terinfeksi rabies, mengingat perilakunya yang menyerang banyak orang secara beruntun. Namun demikian, kepastian diagnosis masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Sampel otak anjing tersebut rencananya akan diperiksa di laboratorium di Denpasar oleh tim dokter hewan untuk memastikan apakah hewan tersebut positif rabies atau tidak.
“Kalau melihat perilakunya memang mengarah ke anjing gila, sehingga potensi menularkan rabies ada. Tapi kami tetap menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” ujar Sucipto.
Warga Diminta Waspada terhadap Gigitan Anjing
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat agar segera melapor dan mendapatkan penanganan medis apabila mengalami gigitan hewan, terutama anjing liar.
Penanganan cepat dan pemberian vaksin anti rabies menjadi langkah penting untuk mencegah penularan penyakit berbahaya tersebut. (BEM)




