back to top
Rabu, Maret 4, 2026
- Advertisement -spot_img
BerandaBeritaDaerahBioplastik Kulit Pisang Saba, Inovasi Siswa SMPN 2 Marga Raih Juara III...

Bioplastik Kulit Pisang Saba, Inovasi Siswa SMPN 2 Marga Raih Juara III BRIDA

Tabanan, Balienews.com – Tumpukan kulit pisang di warung gorengan yang biasanya berakhir sebagai sampah, disulap menjadi bioplastik ramah lingkungan oleh siswa SMPN 2 Marga melalui kegiatan ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR).

Inovasi berbahan dasar kulit pisang saba (biu gedang saba) ini dikembangkan selama enam bulan dan berhasil meraih Juara III kategori SMP dalam lomba inovasi daerah yang digelar oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA).

Inovasi tersebut digagas oleh Dewa Ayu Fanny Apriliani bersama empat anggota tim, didampingi dua guru pembina KIR, Ni Putu Siska Ratna Ulan Dari dan I Made Agus Yudana.

Proyek ini lahir sebagai respons atas meningkatnya persoalan sampah plastik dan ajakan pengelolaan sampah berbasis sumber yang kerap disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster.

Mereka memanfaatkan limbah kulit pisang dari pedagang sekitar sekolah di Kecamatan Marga, Tabanan, sebagai solusi sederhana berbasis potensi lokal.

Berangkat dari Masalah Sampah Plastik

Permasalahan sampah plastik yang kian mengkhawatirkan, ditambah dampak lingkungan seperti banjir akibat penumpukan sampah di wilayah padat aktivitas, menjadi latar belakang utama inovasi ini.

Tim KIR SMPN 2 Marga melihat banyaknya limbah kulit pisang dari pedagang pisang goreng di sekitar sekolah yang belum termanfaatkan.

“Di sekitar sekolah banyak pedagang pisang goreng. Kulitnya menumpuk dan belum termanfaatkan. Kami berpikir, kenapa tidak dicoba dijadikan bioplastik,” ujar Fanny.

Ide awal muncul setelah mereka membaca referensi penelitian tentang pengolahan kulit singkong menjadi bioplastik. Dari sana, mereka mengembangkan riset dengan bahan berbeda, yakni kulit pisang saba yang memiliki tekstur lebih tebal dan kandungan pati lebih tinggi.

Proses Produksi Bioplastik Kulit Pisang

Pembuatan bioplastik dilakukan melalui beberapa tahapan sederhana:

  1. Kulit pisang dikumpulkan dari pedagang sekitar.
  2. Dicuci bersih dan dipotong kecil-kecil.
  3. Direndam dengan air perasan jeruk nipis.
  4. Diblender hingga halus dan disaring.
  5. Dipanaskan pada suhu sekitar 85°C.
  6. Ditambahkan tepung maizena, cuka, dan gliserin hingga menjadi bubur kental.
  7. Dicetak dan dikeringkan hingga membentuk lembaran menyerupai plastik.

Produk akhir berupa lembaran bioplastik sekali pakai yang mudah terurai, sehingga dinilai lebih ramah lingkungan dibanding plastik konvensional berbahan sintetis.

Masih Perlu Penyempurnaan

Meski berhasil menciptakan produk alternatif plastik ramah lingkungan, tim KIR mengakui masih ada kekurangan. Ketahanan fisik dan daya tahan terhadap air belum sekuat plastik sintetis.

“Untuk barang kering seperti pembungkus buku sudah cukup baik, tapi kalau terkena air masih kurang maksimal. Kami ingin menyempurnakan dari sisi ketahanan dan teknik produksinya,” jelasnya.

Saat ini proses produksi masih menggunakan alat sederhana seperti blender dan cetakan manual. Ke depan, mereka berharap dapat menggunakan mesin pengepres agar hasil bioplastik lebih padat dan kuat.

Lebih dari Sekadar Produk

Pembina KIR menilai inovasi ini bukan hanya soal menghasilkan produk bioplastik, tetapi juga membangun pola pikir ilmiah siswa. Melalui proses penelitian, siswa belajar membaca referensi, menyusun hipotesis, melakukan uji coba, hingga mengembangkan inovasi baru.

Raihan Juara III dari BRIDA menjadi bukti bahwa kreativitas siswa daerah mampu menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan lingkungan.

Langkah kecil ini membuktikan bahwa pengurangan sampah plastik bisa dimulai dari sekolah. Dukungan masyarakat dan pemerintah diharapkan dapat memperluas pemanfaatan bioplastik berbasis limbah organik di masa depan. (BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI