Jakarta, Balienews.com – Kawasan Bundaran HI akan menjadi pusat perayaan Hari Raya Nyepi 19 Maret 2026. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan rangkaian kegiatan religius dan budaya, termasuk pawai ogoh-ogoh serta pemasangan penjor sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Hindu sekaligus simbol toleransi di Ibu Kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menyampaikan bahwa untuk pertama kalinya penjor akan dipasang di Bundaran HI.
“Kami akan menggelar pawai ogoh-ogoh dan memasang penjor di Bundaran HI. Ini mungkin pertama kalinya dilakukan di lokasi tersebut,” ujarnya di Jakarta Pusat, Jumat (27/2).
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Pemprov DKI untuk memperlakukan seluruh agama secara setara serta memberi ruang perayaan hari besar keagamaan secara terbuka dan inklusif.
Empat Klaster Perayaan Nyepi 2026
Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekda DKI Jakarta, Suharini Eliawati, menjelaskan rangkaian Perayaan Nyepi 2026 di Jakarta dibagi dalam empat klaster utama:
- Klaster Keagamaan Inti
Meliputi Melasti, Tawur Agung Kesanga, Nyepi, dan Ngembak Geni. - Klaster Sosial
Bakti sosial, donor darah, serta layanan pengobatan gratis. - Klaster Edukasi dan Ekonomi
Seminar literasi keuangan dan pengembangan UMKM. - Klaster Budaya
Festival budaya, parade ogoh-ogoh, dan Dharma Santi sebagai ajang silaturahmi.
Kegiatan akan tersebar di Jakarta Utara, Jakarta Timur, dan Jakarta Pusat.
Jadwal Prosesi Keagamaan
Prosesi Melasti dijadwalkan berlangsung pada 15 Maret di Pura Segara, Jakarta Utara, dan akan dihadiri umat Hindu se-DKI Jakarta.
Sementara itu, Tawur Agung Kesanga digelar pada 18 Maret di Pura Aditya Jaya, Rawamangun.
Puncak Hari Raya Nyepi jatuh pada 19 Maret, ditandai dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Perayaan akan ditutup dengan Ngembak Geni dan Dharma Santi sebagai momentum mempererat persaudaraan lintas umat.
Perkuat Citra Jakarta sebagai Kota Toleran
Pemprov DKI berharap perayaan Nyepi di Bundaran HI tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga memperkuat citra Jakarta sebagai kota yang inklusif, toleran, dan kaya budaya.
Dengan menghadirkan atribut khas Bali di jantung ibu kota, pemerintah ingin menunjukkan bahwa keberagaman adalah kekuatan Jakarta.
Masyarakat diimbau untuk ikut menjaga ketertiban dan menghormati rangkaian ibadah umat Hindu selama perayaan berlangsung. (BEM)




