Tabanan, Balienews.com – Menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1948, masyarakat Desa Adat Kediri, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, kembali menggelar tradisi sakral Tek-Tekan Nangkluk Merana. Ritual turun-temurun ini akan berlangsung selama enam hari, mulai 12 hingga 17 Maret 2026, dengan kegiatan ngider desa atau berkeliling desa yang melibatkan tujuh banjar.
Tradisi ini merupakan upaya spiritual masyarakat untuk menangkal merana, yang diyakini sebagai wabah penyakit maupun hama, agar wilayah desa tetap harmonis menjelang Nyepi.
Berbeda dengan sejumlah desa di Bali yang merayakan malam Pengrupukan dengan pawai ogoh-ogoh, masyarakat Kediri tetap mempertahankan tradisi Tek-Tekan Nangkluk Merana sebagai sarana spiritual menetralisir energi negatif di wilayah desa.
Bendesa Adat Kediri, Ida Bagus Ketut Arsana, menjelaskan bahwa ritual ini sudah diwariskan secara turun-temurun dan memiliki makna penting bagi masyarakat setempat.
“Tradisi Tek-Tekan Nangkluk Merana ini merupakan ritual sakral yang dipercaya masyarakat untuk mengusir merana. Harapannya seluruh wilayah desa menjadi aman dan tenteram saat Nyepi,” ujarnya, Kamis (5/3).
Ngider Desa Selama Enam Hari
Kegiatan ngider desa dijadwalkan berlangsung setiap malam mulai pukul 19.30 WITA. Dalam prosesi ini, masyarakat dari tujuh banjar akan berkeliling desa sambil menampilkan ritual Tek-Tekan sebagai simbol penolak bala.
Tujuh banjar yang terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut yaitu Banjar Panti, Banjar Puseh, Banjar Jagasatru, Banjar Sema, Banjar Delod Puri, Banjar Pande, dan Banjar Tanjung Bungkak.
Menurut Arsana, masing-masing banjar saat ini telah melakukan latihan untuk mempersiapkan rangkaian prosesi.
“Kami berharap tradisi ini dapat menetralisir merana di wewidangan desa,” tambahnya.
Sistem Dua Kelompok Banjar
Dalam pelaksanaannya, panitia membagi tujuh banjar menjadi dua kelompok, yakni Grup A dan Grup B. Pembagian ini dilakukan agar pelaksanaan ritual berjalan tertib dan merata.
Dengan sistem tersebut, setiap banjar akan memperoleh tiga kali kesempatan berkeliling desa selama enam hari pelaksanaan kegiatan.
Selain prosesi keliling desa, masing-masing banjar juga menggelar pementasan ritual di wilayahnya. Pada setiap titik pementasan dihaturkan upakara segehan, sebagai bagian dari rangkaian upacara untuk menetralisir unsur negatif.
Puncak Acara Saat Malam Pengrupukan
Puncak tradisi Tek-Tekan Nangkluk Merana akan digelar pada malam Pengrupukan, yaitu 18 Maret 2026.
Pada malam tersebut, seluruh sekaa dari tujuh banjar akan tampil bersama dalam satu rangkaian pementasan besar.
Prosesi akan dimulai sekitar pukul 19.00 WITA dari depan Puri Kediri, kemudian bergerak ke arah utara menuju depan Kantor Camat Kediri, sebelum berbelok ke timur dan kembali ke banjar masing-masing.
Di beberapa titik pemberhentian juga akan digelar pementasan singkat, yakni sekitar 10 menit di sebelah utara Puri Kediri dan sekitar 20 menit di depan Kantor Camat Kediri. (BEM)




