Balienews.com – Industri smartphone global menghadapi tekanan besar akibat lonjakan harga chip memori dan ketegangan geopolitik. Kondisi ini mulai terasa sejak ajang Mobile World Congress awal Maret lalu, ketika sejumlah produsen belum dapat memastikan harga final perangkat mereka. Kenaikan biaya komponen akibat booming kecerdasan buatan (AI) membuat model bisnis ponsel murah semakin sulit dipertahankan.
Harga Smartphone Tak Lagi Stabil
Ketidakpastian harga mulai terlihat di panggung peluncuran produk. Beberapa produsen bahkan belum menetapkan harga final saat memperkenalkan perangkat.
Salah satunya Xiaomi, yang mengumumkan ponsel terbaru dengan harga 999 euro. Namun analis memperkirakan harga tersebut masih bisa berubah saat masuk pasar, seiring fluktuasi biaya komponen, khususnya memori.
Lonjakan Permintaan AI Picu Kenaikan Harga Memori
Kenaikan harga smartphone dipicu meningkatnya kebutuhan chip memori untuk server AI. Teknologi seperti high-bandwidth memory (HBM) kini menjadi prioritas utama industri.
Perusahaan besar seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology mulai mengalihkan produksi ke memori untuk AI.
Akibatnya, pasokan memori untuk smartphone dan laptop menurun drastis.
Laporan TrendForce mencatat lonjakan signifikan pada harga chip memori, di mana DRAM meningkat hingga 90–95 persen dalam satu kuartal, sementara NAND flash naik sekitar 55–60 persen. Bahkan, dalam beberapa kasus, harga DRAM dilaporkan dapat berubah hanya dalam hitungan jam.
Pasar Memori Terbelah Dua
Lonjakan permintaan AI menciptakan kesenjangan dalam distribusi chip memori.
Kelompok pertama adalah perusahaan besar seperti Apple dan Samsung yang memiliki kontrak jangka panjang, sehingga tetap mendapatkan pasokan prioritas.
Kelompok kedua adalah produsen kecil dan menengah yang harus berebut sisa pasokan, membuat biaya produksi mereka melonjak.
Model Bisnis Smartphone Murah Tertekan
Selama bertahun-tahun, produsen China seperti Xiaomi, Oppo, Vivo, dan Honor mengandalkan strategi “spesifikasi tinggi dengan harga murah”.
Namun, strategi ini memiliki margin keuntungan yang sangat tipis. Ketika harga komponen meningkat, keuntungan produsen pun langsung tergerus. Dampaknya, harga ponsel naik sekitar 100–600 yuan, bahkan pada segmen menengah kenaikannya bisa mencapai hingga 20 persen.
Geopolitik Perparah Rantai Pasok
Selain faktor AI, ketegangan geopolitik juga memperburuk kondisi.
Kasus Nexperia menjadi contoh nyata. Pemerintah Belanda mengambil alih kendali perusahaan tersebut dari pemilik China, memicu gangguan pasokan chip global.
Chip produksi Nexperia digunakan oleh sejumlah produsen otomotif besar seperti Honda, Volkswagen, dan Mercedes-Benz. Peristiwa ini menunjukkan bahwa rantai pasok semikonduktor global kini semakin terfragmentasi.
Produsen Kecil Mulai Tersingkir
Tekanan biaya mulai berdampak pada pemain kecil. Merek seperti Meizu dilaporkan menghentikan pengembangan produk baru dan menarik perangkat dari pasar.
Sebaliknya, perusahaan besar lebih siap bertahan. Apple tercatat menguasai lebih dari 70 persen pasar smartphone premium di China, sementara Huawei unggul berkat kekuatan rantai pasok domestiknya. Di sisi lain, Xiaomi tetap kompetitif karena didukung diversifikasi bisnis di luar smartphone.
Industri Masuki “Structural Reset”
Menurut IDC, kondisi ini merupakan “structural reset” atau perubahan mendasar dalam industri smartphone.
Selama ini, ponsel murah menjadi simbol demokratisasi teknologi. Namun kini, dua faktor utama yakni lonjakan permintaan kecerdasan buatan (AI) dan meningkatnya ketegangan geopolitik, mulai mengubah fondasi industri tersebut.
Jika tren ini terus berlanjut, smartphone murah tidak lagi menjadi pilihan yang mudah dijangkau seperti sebelumnya. Konsumen berpotensi menghadapi harga lebih tinggi di masa depan. (BEM)




