BerandaNusantaraBudayaTradisi Mebuug-buugan Kedonganan, Ritual Unik Penyucian Diri di Bali

Tradisi Mebuug-buugan Kedonganan, Ritual Unik Penyucian Diri di Bali

Badung, Balienews.com – Tradisi Mebuug-buugan kembali digelar di Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, pada Jumat (20/3/2026) sebagai bagian dari rangkaian Ngembak Geni, sehari setelah Hari Raya Nyepi.

Sekitar 250 peserta dari berbagai usia mengikuti ritual unik ini dengan melumuri tubuh menggunakan lumpur di kawasan mangrove hingga Pantai Segara, sebagai simbol penyucian diri menyambut Tahun Baru Saka.

Ratusan Warga Ikuti Ritual Mebuug-buugan

Kegiatan diawali dengan doa bersama di depan Pura Desa Adat Kedonganan. Setelah itu, para peserta berjalan menyusuri kawasan hutan bakau (mangrove) saat air laut surut menuju Pantai Segara.

Sebanyak 250 peserta, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, tampak antusias mengikuti tradisi turun-temurun ini. Mereka bersama-sama menjalani prosesi yang menjadi bagian penting dalam rangkaian Ngembak Geni.

Baca Juga :  Uji Lab Unud: Mangrove Bali Selatan Tercemar Solar

Lumpur Jadi Simbol Penyucian dan Keterikatan Alam

Setibanya di lokasi, peserta mulai melumuri tubuh dan wajah dengan lumpur. Momen ini menjadi ciri khas utama tradisi Mebuug-buugan.

Sekretaris Desa Adat Kedonganan, I Made Winda, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan simbol penyucian diri setelah Nyepi.

“Setelah Nyepi, bhuana agung atau alam semesta telah disucikan. Kini manusia sebagai bagian dari alam juga melakukan pembersihan diri melalui tradisi Mebuug-buugan,” ujarnya.

Lumpur yang digunakan melambangkan hubungan erat manusia dengan alam atau ibu pertiwi, sebagai pengingat agar manusia tidak terlepas dari alam dan laut (segara).

Lumpur Khusus Dipilih Demi Keamanan

Tidak sembarang lumpur digunakan dalam ritual ini. Lumpur yang dipakai diambil dari kawasan pantai timur dengan warna cokelat kemerahan, bukan lumpur hitam biasa.

Baca Juga :  Uji Lab Unud: Mangrove Bali Selatan Tercemar Solar

Menurut Winda, lumpur tersebut dipilih karena lebih aman bagi kulit dan tidak menyebabkan iritasi, sehingga peserta tetap nyaman selama mengikuti tradisi.

Suasana Meriah Penuh Canda dan Kreativitas

Tradisi ini berlangsung meriah dengan penuh canda tawa. Para peserta saling melempar lumpur, berkejaran, hingga membuat berbagai kreasi unik di kepala mereka menggunakan lumpur dan tanaman kecil.

Keceriaan semakin terasa saat wajah peserta dipenuhi lumpur, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan penuh makna.

Ditutup dengan Bilas di Laut dan Hiburan Malam

Setelah prosesi selesai, peserta berjalan menuju Pantai Kedonganan untuk membilas diri di laut. Mereka tampak menikmati ombak sambil menyaksikan matahari terbenam.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan hiburan Segara Langu pada malam hari, sebagai penutup seluruh perayaan Ngembak Geni di Desa Adat Kedonganan.

Baca Juga :  Uji Lab Unud: Mangrove Bali Selatan Tercemar Solar

Tradisi Mebuug-buugan tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Tradisi ini sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya yang patut dilestarikan. (BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI