Denpasar, Balienews.com – Direktorat Pencegahan Densus 88 Antiteror Polri menjalankan program “Ratakan Bali Pro Max” dengan menyasar 70 sekolah tingkat SMA/SMK sederajat di Bali untuk memperkuat ideologi Pancasila sekaligus mencegah penyebaran radikalisme dan ekstremisme di kalangan pelajar.
Program ini digelar melalui roadshow edukasi kebangsaan pada 13–23 April 2026 di sejumlah sekolah di Provinsi Bali.
Perwakilan Direktur Pencegahan Densus 88 AT Polri, Kombes Pol Moh. Dofir, mengatakan sekolah memiliki peran penting sebagai benteng utama dalam membangun karakter generasi muda yang toleran dan berjiwa nasionalis.
“Sekolah menjadi garda terdepan dalam membangun karakter pelajar yang berintegritas, toleran, dan berjiwa nasionalis,” ujar Dofir di Denpasar, Kamis (16/4).
Fokus Cegah Radikalisme Sejak Dini
Program ini bertujuan meningkatkan daya tangkal pelajar terhadap paham yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Langkah tersebut dilakukan sebagai respons atas meningkatnya ancaman intoleransi, radikalisme, hingga kekerasan di lingkungan pendidikan, terutama di era digital.
Dalam kegiatan tersebut, siswa dibekali pemahaman tentang nilai dasar Pancasila, pentingnya toleransi antarumat, bahaya radikalisme dan ekstremisme, serta ancaman terorisme di ruang digital.
Menurut Dofir, edukasi sejak dini menjadi langkah penting agar pelajar tidak mudah terpengaruh ideologi menyimpang.
Libatkan Polda hingga Dinas Pendidikan Bali
Pelaksanaan Ratakan Bali Pro Max melibatkan berbagai pihak, di antaranya Polda Bali, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, dan Dinas Pendidikan Provinsi Bali.
Kolaborasi lintas sektor ini dilakukan agar pencegahan radikalisme di sekolah berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Bullying Disebut Bisa Jadi Pintu Masuk Radikalisme
Selain membahas ideologi kebangsaan, Densus 88 juga menyoroti fenomena bullying yang marak di lingkungan sekolah, baik secara fisik, verbal, maupun melalui media sosial.
Dofir menegaskan bahwa intoleransi dan perundungan bisa menjadi pintu awal menuju tindakan ekstrem jika tidak ditangani dengan serius.
“Intoleransi dan bullying dapat menjadi pintu masuk menuju radikalisme jika tidak ditangani sejak dini,” katanya.
Karena itu, pelajar didorong menjadi agen perubahan dengan menanamkan nilai empati, persatuan, kemampuan berpikir kritis, dan kecakapan menyaring informasi digital.
Benteng Ideologi Generasi Muda Bali
Melalui pendekatan edukatif dan interaktif, program ini diharapkan mampu membangun kesadaran bersama di lingkungan sekolah untuk menjaga harmoni sosial dan mencegah penyebaran paham radikal.
Program Ratakan Bali Pro Max menjadi salah satu langkah konkret Densus 88 dalam memperkuat ketahanan ideologi bangsa sekaligus mempersiapkan generasi muda Bali yang tangguh dan cinta tanah air.
Masyarakat juga diharapkan ikut berperan dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dari pengaruh radikalisme. (BEM)




