BerandaKesehatanHantavirus Kembali Jadi Sorotan, BRIN Ingatkan Bahaya Penularan dari Tikus Liar

Hantavirus Kembali Jadi Sorotan, BRIN Ingatkan Bahaya Penularan dari Tikus Liar

Balienews.com – Percakapan mengenai hantavirus kembali ramai di media sosial dan platform digital dalam beberapa hari terakhir. Banyak masyarakat mulai bertanya-tanya, apakah virus ini berbahaya, bagaimana penularannya, dan apakah Indonesia berisiko mengalami kasus serupa seperti yang terjadi di sejumlah negara Amerika Selatan.

Menjawab keresahan publik tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengimbau masyarakat agar tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat atau rodensia, terutama tikus liar.

Melansir dari laman resmi BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), hingga saat ini Indonesia belum pernah melaporkan kasus Andes virus, salah satu jenis hantavirus yang banyak dibicarakan publik.

Meski begitu, para peneliti mengingatkan bahwa kondisi lingkungan, kepadatan penduduk, dan tingginya populasi tikus di Indonesia tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan bersama.

Mengenal Hantavirus, Virus yang Ditularkan Tikus

Hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang menyebar melalui rodensia. Virus ini dapat berpindah ke manusia ketika seseorang menghirup partikel halus yang berasal dari urin, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi.

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto menjelaskan, beberapa jenis tikus yang berpotensi menjadi reservoir hantavirus antara lain tikus rumah (Rattus rattus), tikus got (Rattus norvegicus), tikus ladang, hingga mencit liar yang hidup di area permukiman maupun pertanian.

Salah satu jenis yang kini menjadi perhatian adalah Andes virus, yang ditemukan pada tikus liar spesies Oligoryzomys longicaudatus di kawasan Patagonia, Argentina dan Chile.

“Reservoir utama Andes virus adalah tikus liar. Penularan umumnya terjadi ketika manusia menghirup partikel halus dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi,” jelas Ristiyanto.

Virus ini diketahui dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni infeksi paru-paru berat yang bisa berkembang cepat menjadi gagal napas akut.

Gejalanya Mirip Flu, Tapi Bisa Berbahaya

Kenali Hantavirus
BRIN jelaskan penularan, gejala, dan upaya pencegahan Hantavirus.

Salah satu alasan hantavirus perlu diwaspadai adalah karena gejalanya sering menyerupai penyakit umum seperti influenza. Pada tahap awal, penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, tubuh lemas, mual, hingga gangguan pencernaan.

Karena gejalanya tidak spesifik, banyak kasus berpotensi terlambat dikenali.

Dalam kondisi berat, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan serius yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit. Tingkat kematian akibat HPS bahkan disebut cukup tinggi, yakni berkisar 20 hingga 35 persen.

Fakta inilah yang membuat para peneliti menekankan pentingnya deteksi dini serta menjaga kebersihan lingkungan untuk meminimalkan risiko penularan.

Indonesia Belum Temukan Andes Virus

Di tengah ramainya informasi di media sosial, BRIN menegaskan bahwa hingga kini Indonesia belum pernah melaporkan kasus Andes virus.

Penelitian terkait hantavirus sebenarnya sudah dilakukan sejak 1991 oleh Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan, terutama di wilayah Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. Penelitian itu dilakukan untuk memantau penyakit zoonosis dan mengidentifikasi jenis rodensia yang berpotensi menjadi reservoir virus.

Hasil riset vektor dan reservoir penyakit periode 2015–2018 juga tidak menemukan Andes virus pada kelompok tikus domestik, peridomestik, maupun silvatik yang diteliti di Indonesia.

Namun demikian, kewaspadaan tetap dinilai penting mengingat Indonesia memiliki keanekaragaman rodensia yang tinggi dan lingkungan tropis yang mendukung perkembangan populasi tikus.

Benarkah Andes Virus Bisa Menular Antarmanusia?

Pertanyaan ini menjadi salah satu isu yang paling banyak diperbincangkan publik.

Peneliti BRIN lainnya, Arief Mulyono menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami informasi tersebut secara proporsional. Menurutnya, memang terdapat laporan ilmiah mengenai kemungkinan penularan antarmanusia pada Andes virus, tetapi kasusnya sangat jarang terjadi.

“Penularan antarmanusia pada Andes virus sangat jarang terjadi dan umumnya hanya berlangsung melalui kontak erat dan intensif dalam waktu lama,” ujar Arief.

Ia menambahkan, pola penyebaran Andes virus sangat berbeda dibanding penyakit menular cepat seperti influenza, campak, maupun COVID-19.

BRIN juga meluruskan anggapan bahwa kasus pada pasangan intim otomatis menjadikan virus ini sebagai penyakit menular seksual. Penularan lebih mungkin terjadi akibat kedekatan fisik intensif, termasuk paparan air liur atau sekret pernapasan saat fase akut penyakit.

Siapa yang Paling Berisiko?

Paparan hantavirus lebih berisiko terjadi pada kelompok yang sering beraktivitas di lingkungan dengan potensi kontaminasi tikus.

Kelompok tersebut antara lain pekerja pertanian, petugas kebersihan, pekerja kehutanan, penghuni wilayah pedesaan, hingga masyarakat yang membersihkan gudang atau bangunan tertutup yang lama tidak digunakan.

Risiko meningkat apabila ruangan memiliki ventilasi buruk dan terdapat banyak debu yang terkontaminasi kotoran tikus.

Cara Mencegah Hantavirus di Lingkungan Rumah

Pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk mengurangi risiko infeksi hantavirus.

Masyarakat disarankan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar, menutup akses masuk tikus, serta menyimpan makanan dalam wadah tertutup rapat.

Saat membersihkan gudang atau area yang lama tidak digunakan, gunakan masker dan sarung tangan untuk menghindari paparan partikel debu yang mungkin terkontaminasi.

Area tersebut sebaiknya disemprot disinfektan terlebih dahulu dan tidak langsung disapu agar partikel halus tidak beterbangan di udara.

BRIN juga menekankan pentingnya penguatan surveilans, pengendalian tikus, edukasi masyarakat, serta pendekatan One Health untuk mencegah munculnya penyakit zoonosis di masa mendatang.

Di tengah derasnya informasi yang beredar di media sosial, masyarakat diimbau tetap tenang, tidak mudah termakan hoaks, dan memahami langkah pencegahan yang benar. (BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI