Jakarta, Balienews.com – Badan Gizi Nasional (BGN) membuka peluang pemanfaatan kantin sekolah sebagai alternatif dapur dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi program, khususnya di wilayah dengan jumlah penerima manfaat yang relatif sedikit sehingga tidak memerlukan pembangunan dapur baru.
Kepala BGN, Nanik S Deyang, menyampaikan hal tersebut saat memberikan keterangan kepada wartawan di Istana Negara, Jakarta, Senin (8/6). Menurutnya, pemanfaatan fasilitas yang sudah tersedia dapat menjadi solusi efektif untuk memperluas jangkauan program sekaligus mengurangi kebutuhan anggaran pembangunan infrastruktur baru.
Kantin Sekolah Jadi Solusi Efisiensi MBG
Nanik menjelaskan bahwa penggunaan kantin sekolah sebagai dapur MBG sangat memungkinkan diterapkan di daerah terpencil maupun wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Menurut dia, pembangunan dapur baru tidak selalu menjadi pilihan terbaik apabila jumlah penerima manfaat di suatu wilayah tergolong kecil. Dalam kondisi tersebut, fasilitas yang telah tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Misalnya di Lombok Barat, saya pernah mengunjungi sebuah pulau dengan jumlah murid hanya 119 orang. Tentu kurang efektif jika harus membangun dapur baru, sementara di lokasi tersebut sudah tersedia kantin sekolah yang dapat dimanfaatkan,” ujarnya.
Fokus pada Daerah Terpencil dan Wilayah 3T
BGN menilai pendekatan ini dapat mempercepat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di berbagai daerah yang memiliki keterbatasan akses maupun jumlah penerima manfaat yang tidak terlalu besar.
Dengan memanfaatkan kantin sekolah, distribusi makanan bergizi kepada siswa tetap dapat berjalan tanpa harus menunggu pembangunan fasilitas baru yang membutuhkan waktu dan biaya lebih besar.
Kebijakan tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan pemanfaatan aset sekolah yang selama ini telah tersedia.
Dapur Umum CSR Juga Dipertimbangkan
Selain kantin sekolah, BGN tengah mengkaji pemanfaatan berbagai fasilitas lain yang sudah ada, termasuk dapur umum yang dibangun melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).
Menurut Nanik, penggunaan fasilitas eksisting menjadi bagian dari strategi efisiensi agar pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis tidak sepenuhnya bergantung pada pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah berharap program prioritas nasional ini dapat berjalan lebih efektif, menjangkau lebih banyak penerima manfaat, serta tetap menjaga efisiensi penggunaan anggaran negara.
Komitmen Perluas Akses Makan Bergizi
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia. Pemanfaatan kantin sekolah dan fasilitas yang telah tersedia diharapkan dapat mempercepat implementasi program di berbagai daerah.
Masyarakat dan pihak sekolah juga diharapkan dapat mendukung pelaksanaan program ini agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh para siswa di seluruh Indonesia. (BEM)




