Denpasar, Balienews.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali bersama Palang Merah Indonesia (PMI) dan Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRKIM) menyalurkan 177.500 liter air bersih ke sejumlah kabupaten untuk mengatasi krisis air akibat mundurnya awal musim hujan. Penyaluran dilakukan secara bertahap di tengah ancaman kekeringan yang diperkirakan masih berlangsung hingga November 2026 akibat fenomena El Nino.
Kepala Pelaksana BPBD Bali, Gede Teja Bhusana, menyampaikan hal tersebut di Denpasar, Selasa (20/10/2026). Ia menjelaskan, awal musim hujan di Bali diperkirakan baru terjadi pada awal November, lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya.
Tabanan dan Buleleng Terima Bantuan Terbesar
Dari total 177.500 liter air bersih yang disalurkan, Kabupaten Tabanan menerima bantuan sebanyak 62.500 liter, sedangkan Kabupaten Buleleng memperoleh 56.000 liter.
Bantuan juga didistribusikan ke Kabupaten Klungkung sebanyak 30.000 liter, Jembrana 24.000 liter, dan Karangasem 5.000 liter.
Penyaluran tersebut dilakukan untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan air bersih selama musim kemarau, terutama di wilayah yang terdampak kekeringan.
Kekeringan dan Kebakaran Masih Mengancam Bali
Mundurnya musim hujan berdampak pada meningkatnya ancaman kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Bali.
Menurut Gede Teja Bhusana, laporan mengenai kekeringan dan kebakaran hutan masih diterima hampir setiap hari.
Kondisi ini membuat penanganan dampak musim kemarau menjadi perhatian BPBD Bali, terutama untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi sekaligus mengantisipasi potensi bencana.
BPBD Catat 16 Kejadian Bencana dalam Sepekan
Berdasarkan Laporan Situasi Mingguan BPBD Bali periode 12–18 Oktober 2026, tercatat 16 kejadian bencana di Pulau Dewata.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 10 kejadian merupakan kebakaran hutan dan lahan, empat kejadian kebakaran gedung dan permukiman, serta dua kejadian cuaca ekstrem berupa angin kencang.
Kabupaten Karangasem mencatat kejadian terbanyak dengan enam insiden, disusul Buleleng dengan empat kejadian dan Jembrana dengan dua kejadian.
Sementara itu, Badung, Tabanan, Klungkung, dan Kota Denpasar masing-masing mencatat satu kejadian bencana selama periode laporan tersebut.
Situasi Bencana Masih Terkendali
BPBD Bali memperkirakan ancaman kekeringan dan karhutla masih berpotensi terjadi hingga November 2026, seiring belum meratanya awal musim hujan di berbagai wilayah.
Meski demikian, BPBD Bali menyatakan situasi kebencanaan secara umum masih terkendali dan tidak terdapat korban jiwa dalam periode laporan yang disampaikan.
Masyarakat diimbau menggunakan air bersih secara bijak serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau. Informasi perkembangan penanganan bencana dapat dipantau melalui kanal resmi BPBD Bali. (BEM)




