Jakarta, Balienews.com – Yersinia pestis, bakteri penyebab penyakit pes, tercatat sebagai salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah dunia. Meski kasusnya jarang ditemukan di Indonesia, penyakit ini masih menjadi ancaman serius di sejumlah negara, terutama di wilayah dengan kebersihan lingkungan yang buruk dan pengendalian hewan liar yang lemah.
Menurut penjelasan Alodokter.com, mengenali gejala infeksi Yersinia pestis sejak dini sangat penting karena penyakit ini bisa berkembang cepat dan berakibat fatal tanpa penanganan medis.
Bagaimana Yersinia pestis Menular?
Penularan Yersinia pestis terutama melalui gigitan kutu yang hidup pada hewan pengerat, seperti tikus, yang sudah terinfeksi. Penularan juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan jaringan atau cairan tubuh hewan yang sakit, serta droplet dari penderita pes paru.
Kelompok paling rentan tertular adalah anak-anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh rendah.
Jenis dan Gejala Infeksi Yersinia pestis
1. Bubonic Plague
Muncul 1–7 hari setelah infeksi, dengan gejala:
- Demam tinggi mendadak
- Menggigil, sakit kepala hebat, nyeri otot
- Lemas
- Pembengkakan dan nyeri kelenjar getah bening
2. Septicemic Plague
Gejala muncul 2–7 hari setelah terinfeksi, antara lain:
- Demam tinggi, nyeri perut, mual, muntah, dan diare
- Lemas berat
- Perdarahan di bawah kulit atau organ tubuh
- Kulit tampak kehitaman pada kasus berat
3. Pneumonic Plague
Bentuk paling berbahaya, gejalanya muncul dalam 1–4 hari:
- Batuk, sakit tenggorokan, sesak napas
- Nyeri dada, dahak berdarah
- Demam tinggi
Jika tidak ditangani, bisa berujung pada syok, kerusakan organ, hingga kematian.
Langkah Pencegahan Infeksi
Pencegahan penyakit pes dapat dilakukan dengan cara:
- Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar.
- Mengendalikan populasi tikus dan hewan pengerat lain.
- Menghindari kontak langsung dengan hewan sakit atau mati.
- Menggunakan pelindung diri seperti sarung tangan dan masker bagi pekerja berisiko tinggi.
- Segera berkonsultasi ke dokter bila mengalami gejala setelah kontak dengan hewan pengerat.
“Segera periksakan diri jika mengalami demam tinggi, pembengkakan kelenjar getah bening, atau sesak napas setelah kontak dengan hewan pengerat. Penanganan cepat sangat menentukan peluang sembuh,” tulis Alodokter.com.
Walaupun penyakit pes jarang terjadi di Indonesia, kewaspadaan tetap diperlukan. Dengan mengenali gejala dan menjaga kebersihan lingkungan, risiko infeksi Yersinia pestis bisa ditekan. (BEM)