Mangupura, Balienews.com – Desa Munggu di Kecamatan Mengwi, Badung, meresmikan Monumen Ngrebeg Mekotek pada Kamis (13/11/2025) bertepatan dengan Hari Suci Sugihan Jawa.
Monumen yang dibangun untuk melestarikan tradisi Mekotek ini diresmikan oleh Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa di kawasan Simpang Munggu, sebagai ikon baru yang merepresentasikan sejarah, budaya, dan identitas desa.
Ikon Baru Desa Wisata Munggu
Monumen Ngrebeg Mekotek berdiri di atas lahan seluas 10 are di jantung Desa Munggu, tepat di persimpangan utama yang menghubungkan By Pass Tanah Lot–Jalan Raya Munggu. Kehadiran monumen ini menjadi penanda penting bagi desa yang dikenal sebagai tujuan wisata budaya.
Perbekel Desa Munggu, Ketut Darta, mengungkapkan bahwa keinginan warga untuk memiliki monumen yang mewakili roh tradisi desa telah muncul sejak 2013. Tradisi Mekotek, kata Darta, adalah pintu bagi Munggu untuk dikenal dunia sebagai desa wisata budaya.
“Monumen yang kami idamkan akhirnya terwujud hari ini. Ini menjadi bagian dari upaya kami melestarikan tradisi Mekotek,” ujar Darta usai peresmian yang sekaligus membuka kawasan tersebut sebagai Taman Mekotek Desa Wisata Munggu.
Dibangun oleh Seniman Lokal Selama Empat Bulan
Arsitek sekaligus undagi monumen, Nyoman Ardana atau Man Paya, menjelaskan bahwa proses pengerjaan melibatkan 15 seniman Desa Munggu. Monumen berdimensi 5 × 5 meter dengan tinggi patung 6 meter ini digarap selama empat bulan dan rampung pada Oktober 2025.
Meski para seniman adalah pelaku tradisi Mekotek, proses kreatif tetap menantang. “Menyatukan banyak karakter agar terlihat hidup cukup menguras pikiran,” kata Man Paya.
Monumen terdiri atas 32 karakter manusia yang digambarkan bertelanjang dada dengan destar dan kamen poleng, sesuai busana prajurit zaman dahulu. Mereka digambarkan memegang galah yang ujungnya saling bertemu hingga membentuk kerucut.
32 Karakter Dengan Ekspresi Berbeda
Dari keseluruhan karakter, 15 figur dibuat menyatu dan ditempatkan di pusat kerucut, sementara 17 figur lain berdiri melingkar dengan rangka terpisah. Galah-galah yang digunakan juga dirakit terpisah sebelum disatukan ke tubuh monumen.
Ekspresi para karakter tidak dibuat dari rancangan awal, melainkan digali dari pengalaman masing-masing seniman saat mengikuti tradisi Mekotek setiap Hari Suci Kuningan.
“Ada yang tertawa, ada yang menahan sakit. Semua kami buat berdasarkan pengalaman nyata,” jelas Man Paya.
Sama dengan Monumen Patung Umumnya
Tahap konstruksi dimulai dari pembuatan rangka besi dengan bentuk anatomi kasar menggunakan jaring baja. Setelah itu, rangka ditutup campuran pasir–semen, dirapikan dengan acian semen, lalu difinishing menggunakan cat.
Selain patung utama, terdapat dua patung patih di bagian depan dan relief sepanjang 10 meter di tembok Taman Mekotek. Relief inilah yang pertama dibuat sebagai dasar visual untuk mengemas tradisi Mekotek menjadi monumen permanen.
Relief tersebut menggambarkan asal-usul tradisi Mekotek yang diwariskan oleh I Gusti Agung Nyoman Munggu.
Pelestarian Tradisi dan Potensi Wisata
Pembangunan Monumen Ngrebeg Mekotek mempertegas komitmen Desa Munggu dalam menjaga tradisi leluhur sekaligus mengembangkan potensi wisata budaya.
Dengan peresmian monumen dan taman tematiknya, desa berharap semakin banyak wisatawan yang mengenal keunikan tradisi Mekotek. (BEM)




