back to top
Minggu, Februari 8, 2026
- Advertisement -spot_img
BerandaEkonomiHarga Bitcoin Anjlok Lebih dari Rp 1 Miliar dalam 4 Bulan

Harga Bitcoin Anjlok Lebih dari Rp 1 Miliar dalam 4 Bulan

Balienews.comHarga Bitcoin kembali tertekan tajam dalam perdagangan global. Aset kripto terbesar di dunia ini tercatat telah kehilangan nilai sekitar Rp 1 miliar hanya dalam empat bulan terakhir, dipicu tekanan pasar global, melemahnya minat investor, serta ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat.

Bitcoin Sentuh Titik Terendah Sejak November 2024

Penurunan harga Bitcoin terjadi pada Kamis (5/2/2026) waktu Amerika Serikat, ketika nilainya sempat menyentuh 62.303 dolar AS atau sekitar Rp 1,05 miliar per keping (kurs Rp 16.886).

Level tersebut menjadi harga terendah sejak 6 November 2024, saat Bitcoin masih diperdagangkan di kisaran 68.898 dolar AS.

Pantauan pada Jumat (6/2/2026) pagi menunjukkan harga Bitcoin sedikit membaik di kisaran 64.500 dolar AS atau sekitar Rp 1,08 miliar.

Meski demikian, dalam sepekan terakhir, Bitcoin telah tergerus sekitar 23 persen dan berada dalam tren penurunan lebih dari tiga bulan.

Nilai Bitcoin Turun Lebih dari 45 Persen dari Rekor Tertinggi

Jika ditarik dari titik tertinggi pada Oktober 2025, saat Bitcoin mencetak rekor 126.000 dolar AS per keping, harga saat ini telah jatuh lebih dari 45 persen.

Baca Juga :  Bitcoin Tembus Rekor Tertinggi Baru di Atas $118.000

Artinya, nilai Bitcoin telah menguap sekitar 62.000 dolar AS atau setara Rp 1,04 miliar hanya dalam kurun waktu empat bulan.

Tekanan Merata di Pasar Kripto Global

Koreksi tajam tidak hanya dialami Bitcoin. Sejumlah aset kripto utama juga mencatat pelemahan signifikan. Ether dilaporkan anjlok sekitar 34,5 persen dalam sepekan terakhir, menjadi penurunan mingguan terburuk sejak November 2022.

Sementara itu, XRP turun sekitar 32 persen, dan Solana merosot ke level 77,77 dolar AS atau sekitar Rp 1,3 juta, yang menjadi titik terendahnya dalam satu tahun terakhir.

Analis: Bitcoin Masih Berpotensi Turun ke Level 50.000-an Dolar

Sejumlah analis menilai tekanan terhadap harga Bitcoin belum berakhir. Analis pasar Eric Crown memperkirakan Bitcoin masih berpotensi melemah ke kisaran 55.000–60.000 dolar AS sebelum menemukan titik stabil.

Menurut Crown, koreksi ini masih tergolong wajar dalam siklus besar Bitcoin, yang kerap ditandai lonjakan harga ekstrem diikuti koreksi tajam.

Baca Juga :  Bitcoin Tembus Rekor Tertinggi Baru di Atas $118.000

Pandangan serupa disampaikan Head of Research Galaxy Digital, Alex Thorn. Berdasarkan data historis, ketika Bitcoin turun lebih dari 40 persen dari puncak harga, koreksi biasanya berlanjut hingga mendekati 50 persen.

Dari rekor 126.000 dolar AS, skenario tersebut akan membawa Bitcoin ke kisaran 58.000 dolar AS.

Kepercayaan Investor Melemah, ETF Bitcoin Jadi Penjual Bersih

Tekanan pasar turut diperparah oleh menurunnya kepercayaan investor. Analis Deutsche Bank, Marion Laboure, menilai aksi jual besar-besaran mencerminkan menyusutnya minat investor tradisional terhadap aset kripto.

Laporan CryptoQuant mencatat, ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat yang sebelumnya menjadi pembeli bersih, kini justru berbalik menjadi penjual bersih sepanjang 2026.

Faktor Global Perburuk Sentimen Kripto

Tekanan eksternal juga datang dari ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih ketat, terutama setelah Kevin Warsh dinominasikan sebagai calon Ketua The Fed menggantikan Jerome Powell. Kebijakan suku bunga riil tinggi dinilai berpotensi menekan aset berisiko, termasuk kripto.

Baca Juga :  Bitcoin Tembus Rekor Tertinggi Baru di Atas $118.000

Selain itu, ketidakpastian regulasi kripto di AS serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk sentimen pasar.

Dalam kondisi global yang tidak menentu, investor cenderung mengalihkan dana ke aset aman seperti dolar AS, obligasi pemerintah, dan emas.

Bitcoin Tertinggal dari Emas

Dalam setahun terakhir, kinerja Bitcoin tertinggal jauh dibandingkan emas. Harga Bitcoin tercatat turun hampir 30 persen, sementara harga emas justru melonjak sekitar 68 persen pada periode yang sama.

Risiko Penurunan Lanjutan Masih Terbuka

Dengan berbagai tekanan tersebut, analis menilai risiko penurunan lanjutan harga Bitcoin masih terbuka.

Hingga muncul katalis kuat yang mampu memulihkan kepercayaan investor, pergerakan Bitcoin diperkirakan masih berada di bawah tekanan dalam waktu dekat.

Artikel ini disajikan sebagai informasi terkini terkait industri kripto dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Keputusan membeli atau menjual aset kripto sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. (BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI