back to top
Senin, Februari 23, 2026
- Advertisement -spot_img
BerandaHiburanPelangi di Mars, Film Animasi Anak Tayang Lebaran 2026

Pelangi di Mars, Film Animasi Anak Tayang Lebaran 2026

Jakarta, Balienews.com – Film animasi anak Pelangi di Mars karya sutradara Upie Guava resmi diperkenalkan kepada publik di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (19/2/2026). Film produksi Mahakarya Pictures ini mengusung genre sci-fi dan akan tayang di bioskop mulai 18 Maret 2026, bertepatan dengan libur Lebaran.

Proses produksinya memakan waktu hingga lima tahun demi membangun teknologi CGI dan animasi berkualitas tinggi di Indonesia.

Peluncuran promosi dilakukan dengan menerbangkan balon raksasa di kawasan pusat bisnis ibu kota. Tim produksi menyebut proyek ini sebagai salah satu film animasi anak paling ambisius dalam negeri.

Riset dan Bangun Studio Selama Tiga Tahun

Sutradara Upie Guava mengungkapkan, lamanya proses produksi bukan tanpa alasan. Tiga tahun pertama difokuskan pada riset dan pengembangan teknologi CGI serta pembangunan studio animasi.

“Kami bikin dulu ‘pabriknya’ selama tiga tahun. Kami melakukan banyak hal yang mungkin tidak semua orang mau melakukannya,” ujar Upie.

Ia mengaku terharu mengingat perjalanan panjang film ini yang berawal dari keinginan sederhana menjadi pendongeng untuk anak-anak. Kini, menurutnya, Pelangi di Mars bukan lagi sekadar film pribadi, melainkan gerakan kreatif yang melibatkan banyak talenta.

Pemeran Utama Tumbuh Bersama Proyek Film

Proses panjang produksi juga dirasakan pemeran utama, Messi Gusti. Ia mulai memerankan karakter Pelangi sejak kelas 5 SD dan kini telah duduk di bangku SMA.

Messi mengaku bangga terlibat dalam proyek tersebut, terutama karena pengalaman syuting dengan teknologi XR (extended reality) yang memberinya tantangan baru dalam dunia akting.

Minimnya Film Anak Jadi Keresahan Produser

Produser Dendi Reynando mengatakan, Pelangi di Mars lahir dari keresahan terhadap minimnya pilihan film anak di Indonesia. Menurutnya, film anak lokal masih jarang hadir secara konsisten di bioskop.

“Kalaupun ada, biasanya dari Hollywood. Film anak Indonesia mungkin muncul dua sampai tiga bulan sekali,” ujarnya.

Dendi juga menyoroti kurangnya pengembangan Intellectual Property (IP) film lokal. Ia berharap Pelangi di Mars bisa menjadi cerita yang membentuk narasi positif bagi generasi mendatang.

“Kita percaya cerita adalah instrumen pembentuk peradaban,” katanya.

Strategi Komersialisasi dan Pengembangan IP

Untuk menjaga keberlanjutan IP, tim produksi menyiapkan strategi komersialisasi seperti pembuatan merchandise berupa buku gambar dan figur aksi. Mereka mengaku telah berdiskusi dengan sejumlah retail store dan mendapat respons positif.

Tak hanya itu, sekuel Pelangi di Mars sudah disiapkan dalam cetak biru pengembangan cerita. Rencananya, sekuel akan tayang setiap tahun pada 2028 hingga 2030, tergantung capaian film pertama.

“Film ini sangat menentukan bagaimana IP dan universe-nya akan berkembang,” kata Dendi.

Dukungan Pemerintah dan Kolaborasi Aktor Suara

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mengapresiasi langkah produksi yang telah memikirkan aspek komersialisasi sejak awal. Ia menyebut Pelangi di Mars sebagai salah satu film langka yang mempertimbangkan strategi merchandising secara matang.

Film ini menggabungkan live action dan animasi, serta melibatkan sejumlah aktor sulih suara seperti Bimo Kusumo, Kristo Immanuel, dan Gilang Dirga.

Dengan pendekatan teknologi dan strategi IP yang matang, Pelangi di Mars diharapkan menjadi tonggak baru film animasi anak Indonesia. (BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI