back to top
Jumat, Maret 13, 2026
- Advertisement -spot_img
BerandaBeritaDaerahBMKG Prediksi Kemarau 2026 di Bali Lebih Panjang

BMKG Prediksi Kemarau 2026 di Bali Lebih Panjang

Denpasar, Balienews.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Bali memprakirakan musim kemarau 2026 di Bali akan lebih panjang dan berpotensi lebih kering akibat pengaruh fenomena El Nino lemah yang diperkirakan terjadi pada Juli–Oktober 2026.

Kondisi ini berpotensi memicu kekeringan panjang hingga ekstrem di sejumlah wilayah Pulau Dewata, terutama di bagian utara Bali dan kawasan kepulauan.

Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang

Prakirawan Stasiun Klimatologi Bali, Trayi Budi Samantu, menjelaskan fenomena El Nino lemah diperkirakan muncul pada periode Juli hingga Oktober 2026. Kondisi tersebut dapat memperpanjang musim kemarau sekaligus meningkatkan risiko kekeringan.

Menurutnya, musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dibandingkan 2025. Jika pada 2025 kemarau berlangsung sekitar empat bulan, maka pada 2026 durasinya dapat mencapai sekitar enam bulan.

Musim kemarau diprediksi mulai Dasarian I Maret 2026 yang pertama kali terjadi di wilayah Nusa Penida.

Selanjutnya pada Dasarian II Maret, kemarau mulai meluas ke wilayah selatan seperti Gianyar, Klungkung, dan Karangasem.

Sementara itu, wilayah Bali bagian tengah diperkirakan mengalami kemarau paling akhir. Secara keseluruhan, 100 persen wilayah Bali diprediksi memasuki musim kemarau pada Agustus 2026.

Wilayah Bali Utara Rawan Kekeringan

BMKG juga memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan ekstrem.

Daerah rawan tersebut meliputi Buleleng dari bagian barat hingga timur, Nusa Penida, serta wilayah selatan Klungkung.

Wilayah tersebut secara geografis memiliki curah hujan lebih rendah dibanding daerah lain di Bali sehingga lebih rentan terdampak kemarau panjang.

Sebagian Besar Zona Musim Lebih Cepat

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Stasiun Klimatologi Bali, Aminudin Ar Roniri, menyebutkan sekitar 65 persen atau 13 Zona Musim (ZOM) di Bali diperkirakan mengalami kemarau lebih cepat dibandingkan tahun sebelumnya.

Rinciannya 65% ZOM (13 zona) kemarau datang lebih cepat, 15% ZOM (3 zona) sama seperti tahun sebelumnya, dan 20% ZOM (4 zona) mengalami kemarau lebih lambat.

Selain itu, sifat musim kemarau 2026 diprediksi berada di bawah normal hingga 90 persen, yang berarti kondisi lebih kering dibanding rata-rata klimatologis.

Suhu Masih Normal, Namun Risiko Kekeringan Tinggi

Meski kemarau diprediksi lebih panjang, BMKG memperkirakan suhu udara masih berada dalam kisaran normal, yaitu di bawah 35 derajat Celsius.

Namun pemantauan suhu dan kondisi iklim tetap dilakukan secara berkala melalui analisis dasarian dan bulanan untuk memastikan perkembangan fenomena iklim.

BMKG Imbau Antisipasi Kekeringan

BMKG mengingatkan pemerintah daerah, sektor pertanian, dunia usaha, dan masyarakat untuk mulai melakukan langkah mitigasi sejak dini.

Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain:

  • Pengelolaan sumber daya air secara efisien
  • Penghematan penggunaan air
  • Pengaturan distribusi air untuk irigasi pertanian
  • Antisipasi kekeringan dan kebakaran lahan

Mitigasi dini dinilai penting agar dampak kemarau panjang tidak mengganggu ketahanan air dan sektor pertanian di Bali.

Prediksi kemarau panjang pada 2026 menjadi peringatan bagi berbagai sektor di Bali untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

Dengan pengelolaan air yang baik dan mitigasi sejak dini, dampak kekeringan ekstrem diharapkan dapat diminimalkan. (BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI