Buleleng, Balienews.com – Atlet angkat berat asal Buleleng, Bali, I Gede Wahyu Surya Wiguna, gagal tampil dalam kejuaraan dunia di Druskininkai, Lithuania, setelah tidak memperoleh rekomendasi dan terkendala dana jaminan sebesar 20.000 dolar AS (sekitar Rp339 juta).
Keluhan tersebut disampaikan Wahyu melalui media sosial pada Selasa (7/4/2026), yang kemudian viral dan memicu perhatian publik.
Keluhan Viral di Media Sosial
Wahyu mengungkapkan kekecewaannya karena tidak mendapatkan rekomendasi dari pengurus untuk mengikuti ajang internasional tersebut. Selain itu, ia menyoroti adanya syarat dana jaminan yang dinilai memberatkan.
Menurutnya, dana sebesar 20.000 dolar AS diminta sebagai jaminan jika terjadi pelanggaran selama kompetisi. Ia mempertanyakan kemampuan atlet untuk memenuhi syarat tersebut secara mandiri.
Pabersi: Dana Jaminan Sesuai Aturan
Sekretaris Umum Perkumpulan Angkat Berat Seluruh Indonesia (Pabersi) Buleleng, Ketut Widi Sandiada, membenarkan bahwa Wahyu menerima undangan dari International Powerlifting Federation (IPF) untuk berlaga di kejuaraan dunia.
Namun, hingga batas akhir pendaftaran, rekomendasi dari pengurus belum terbit. Widi menyebut kondisi ini tidak hanya dialami Wahyu, tetapi juga sejumlah atlet lain.
Terkait dana jaminan, ia menegaskan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari ketentuan tes doping sesuai standar World Anti-Doping Agency (WADA), bukan pungutan liar.
“Dana itu bersifat titipan dan akan dikembalikan jika atlet dinyatakan bersih dari doping,” jelasnya.
KONI Buleleng Beri Dukungan
Ketua Harian KONI Buleleng, Putu Nova Putra, menyatakan pihaknya mendukung penuh atlet berprestasi seperti Wahyu untuk tampil di level internasional.
Namun, ia menegaskan bahwa proses administrasi, termasuk rekomendasi kejuaraan dunia, merupakan kewenangan organisasi di tingkat pusat.
KONI Buleleng, lanjutnya, tetap berupaya memfasilitasi komunikasi dan kebutuhan atlet agar bisa berkompetisi.
Sorotan Sistem dan Harapan Atlet Daerah
Kasus ini menjadi sorotan publik terkait sistem pembinaan dan dukungan terhadap atlet daerah. Minimnya kejelasan rekomendasi serta besarnya biaya yang harus ditanggung atlet dinilai dapat menghambat prestasi di kancah internasional.
Publik kini menantikan transparansi dari pihak terkait agar atlet berprestasi tidak kehilangan kesempatan emas di ajang dunia. Dukungan nyata dan sistem yang jelas dinilai penting untuk menjaga masa depan olahraga nasional. (BEM)




