Denpasar, Balienews.com – Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa teknologi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang akan dibangun di Bali hanya menerima sampah berkualitas. Hal itu disampaikan di Denpasar, Bali, Jumat (17/4), sebagai upaya meningkatkan efisiensi pengolahan sampah sekaligus mengatasi krisis sampah yang terjadi, dengan mendorong pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
PSEL Hanya Gunakan Sampah Terpilah
Hanif menjelaskan, sistem waste to energy atau PSEL membutuhkan bahan baku sampah yang tidak tercampur. Sampah yang bercampur dinilai sulit diolah dan tidak memenuhi standar kualitas.
Menurutnya, sampah yang selama ini menumpuk di TPA Suwung sebagian besar tidak dapat dimanfaatkan untuk PSEL.
“Kalau pun bisa, mungkin hanya sekitar 10 persen, karena kandungan sulfurnya sangat tinggi,” ujarnya.
Pemilahan Sampah Jadi Kunci
Pemerintah pusat meminta Pemerintah Provinsi Bali, termasuk Pemkot Denpasar dan Pemkab Badung, untuk memperkuat sistem pemilahan sampah dari hulu.
Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan ketersediaan sampah berkualitas sebagai bahan baku energi listrik di masa depan.
Hanif juga mengakui bahwa masalah pengelolaan sampah bukan hanya terjadi di Bali, melainkan di berbagai daerah di Indonesia yang masih menghadapi kondisi darurat sampah.
Progres Positif di Denpasar dan Badung
Meski demikian, ia mengapresiasi capaian cepat yang ditunjukkan masyarakat dan pemerintah daerah di Denpasar dan Badung.
Dalam waktu kurang dari satu bulan, tingkat pemilahan sampah telah mencapai lebih dari 50 persen.
“Semangat ini tidak boleh kita kendorkan,” tegasnya.
Target TPST dan TPS3R Rampung Juli 2026
Namun, tantangan masih ada, terutama terkait belum optimalnya sarana dan mesin pengolahan sampah organik.
Pemerintah menargetkan seluruh fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan TPS3R di Denpasar dan Badung dapat rampung pada akhir Juli 2026.
Dengan demikian, TPA Suwung diharapkan tidak lagi menerima sampah organik.
Sampah Berkualitas Jadi Energi Masa Depan
Jika pemilahan berjalan konsisten, sampah anorganik yang tersisa akan memiliki kualitas tinggi dan siap diolah menjadi energi listrik saat PSEL mulai beroperasi sekitar tiga tahun mendatang.
Hanif menyebut, sampah lama yang sudah terpilah bahkan masih bisa digali kembali untuk dimanfaatkan.
Pemilahan sampah menjadi langkah awal yang tidak bisa ditawar untuk mendukung keberhasilan PSEL di Bali. Pemerintah mengajak masyarakat untuk terus konsisten memilah sampah demi menciptakan lingkungan yang bersih sekaligus sumber energi baru. (BEM)




