BerandaKesehatanManfaat Sunat bagi Kesehatan Reproduksi, dari Kebersihan hingga Pencegahan Infeksi

Manfaat Sunat bagi Kesehatan Reproduksi, dari Kebersihan hingga Pencegahan Infeksi

Balienews.com – Sunat atau khitan bukan hanya berkaitan dengan alasan agama dan budaya. Secara medis, prosedur yang disebut sirkumsisi (circumcision) ini juga memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan reproduksi, terutama dalam menjaga kebersihan penis dan membantu menurunkan risiko beberapa jenis infeksi.

Sunat dapat dilakukan pada bayi, anak-anak, maupun orang dewasa dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan dan rekomendasi dokter.

Apa Itu Sunat?

Sunat merupakan prosedur medis untuk mengangkat kulup, yakni kulit yang menutupi kepala penis. Prosedur ini umumnya dilakukan di rumah sakit atau klinik oleh tenaga medis.

Selain sebagai bagian dari tradisi dan keyakinan tertentu, sunat dapat menjadi pilihan medis pada kondisi tertentu, termasuk masalah pada kulup yang tidak membaik dengan pengobatan lain.

Manfaat Sunat bagi Kesehatan Reproduksi

Menurut Alodokter, salah satu manfaat utama sunat adalah membuat kepala penis lebih mudah dibersihkan. Dengan kulup yang telah diangkat, area tersebut lebih mudah dirawat sehingga kebersihan penis dapat dijaga.

Dari sisi kesehatan reproduksi, sunat juga dikaitkan dengan sejumlah manfaat, antara lain:

  • Membantu menjaga kebersihan penis.
  • Menurunkan risiko infeksi saluran kemih.
  • Mengurangi risiko beberapa infeksi menular seksual.
  • Menurunkan risiko kanker penis.
  • Membantu menurunkan risiko kanker serviks pada pasangan dalam konteks infeksi HPV tertentu.

Meski demikian, sunat bukan berarti seseorang sepenuhnya terbebas dari infeksi menular seksual. Perilaku seksual yang aman, penggunaan kondom, vaksinasi HPV, dan pemeriksaan kesehatan tetap penting untuk menjaga kesehatan reproduksi.

Kapan Sunat Diperlukan Secara Medis?

Dalam kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan sunat ketika gangguan pada kulup sulit ditangani dengan metode lain.

Beberapa kondisi tersebut antara lain balanitis, yaitu peradangan pada penis, balanopostitis yang melibatkan kulup dan kepala penis, serta fimosis ketika kulup sulit atau tidak dapat ditarik.

Sunat juga dapat dipertimbangkan pada kasus parafimosis, ketika kulup yang telah ditarik ke belakang tidak dapat dikembalikan ke posisi semula.

Tidak Semua Orang Bisa Langsung Disunat

Sebelum menjalani sunat, pasien perlu menjalani konsultasi dan pemeriksaan dokter. Prosedur dapat ditunda atau membutuhkan penanganan khusus pada pasien dengan kondisi tertentu.

Di antaranya adalah kelainan bentuk penis, mikropenis, hipospadia, epispadia, kelamin ganda (ambiguous genitalia), serta gangguan pembekuan darah seperti hemofilia.

Pada bayi prematur, sunat umumnya ditunda hingga kondisi tubuh dan berat badan bayi dinilai cukup aman untuk menjalani prosedur.

Apa yang Perlu Disiapkan Sebelum Sunat?

Dokter biasanya akan menjelaskan manfaat, prosedur, pilihan anestesi, serta kemungkinan risiko kepada pasien atau orang tua pasien.

Riwayat kesehatan pasien dan keluarga juga perlu disampaikan, terutama bila terdapat riwayat gangguan pembekuan darah.

Jika sunat dilakukan dengan bius total, pasien biasanya perlu berpuasa selama beberapa jam sesuai petunjuk dokter. Pasien dewasa juga sebaiknya meminta keluarga atau orang terdekat untuk menemani setelah prosedur.

Bagaimana Prosedur Sunat Dilakukan?

Metode sunat dapat berbeda sesuai usia, kondisi pasien, fasilitas kesehatan, dan pertimbangan dokter. Beberapa metode yang dikenal antara lain sunat konvensional dengan pisau bedah, metode kauter yang sering disebut sunat laser, stapler, serta metode klamp atau cincin.

Anestesi dapat berupa bius lokal atau bius total, tergantung kondisi dan kebutuhan pasien.

Setelah anestesi bekerja, area penis dibersihkan. Dokter kemudian mengangkat dan memotong kulup menggunakan teknik serta alat yang sesuai. Perdarahan dikendalikan, kemudian luka dapat dijahit dan diberi perawatan sesuai metode yang digunakan.

Dalam banyak kasus, prosedur sunat berlangsung relatif singkat, tetapi lama tindakan dapat berbeda bergantung pada metode dan kondisi pasien.

Berapa Lama Pemulihan Setelah Sunat?

Setelah prosedur selesai, sebagian pasien dapat langsung pulang dengan mengikuti instruksi perawatan dari dokter. Masa pemulihan umumnya membutuhkan beberapa minggu.

Nyeri, bengkak, kemerahan, atau memar ringan selama beberapa hari pertama dapat terjadi. Keluhan tersebut biasanya merupakan bagian dari proses penyembuhan, tetapi tetap perlu dipantau.

Untuk membantu pemulihan, pasien dapat:

  • Membersihkan penis sesuai petunjuk dokter menggunakan air dan sabun yang lembut.
  • Mengganti perban jika basah atau sesuai instruksi tenaga medis.
  • Menggunakan obat pereda nyeri yang diresepkan atau dianjurkan dokter.
  • Mengenakan pakaian yang longgar untuk mengurangi gesekan dan iritasi.
  • Menghindari aktivitas fisik berat selama masa pemulihan.
  • Menghindari hubungan seksual hingga luka benar-benar pulih dan dokter menyatakan aman.

Jangan menggunakan obat, krim, atau bahan tertentu pada luka sunat tanpa petunjuk tenaga medis.

Waspadai Tanda Komplikasi

Sunat pada umumnya merupakan prosedur yang aman jika dilakukan oleh tenaga medis dengan teknik yang tepat. Namun, seperti prosedur medis lainnya, sunat tetap memiliki risiko komplikasi.

Komplikasi yang dapat terjadi antara lain perdarahan, infeksi, iritasi, nyeri berkepanjangan, gangguan penyembuhan, perubahan sensitivitas kepala penis, hingga masalah pada saluran uretra.

Segera periksakan diri ke dokter jika setelah sunat muncul demam, perdarahan yang tidak berhenti, pembengkakan atau kemerahan yang semakin parah, keluar nanah, sulit buang air kecil, atau aliran urine tersendat.

Sunat dan Kesehatan Reproduksi: Tetap Utamakan Konsultasi

Sunat dapat memberikan manfaat kesehatan, terutama dalam membantu menjaga kebersihan penis serta menurunkan risiko sejumlah infeksi dan penyakit tertentu. Namun, manfaat tersebut tidak berarti sunat menggantikan kebiasaan hidup sehat atau perlindungan terhadap infeksi menular seksual.

Karena kondisi setiap orang berbeda, keputusan mengenai waktu dan metode sunat sebaiknya dilakukan setelah berkonsultasi dengan dokter. Jangan ragu memeriksakan diri untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda atau anak. (BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI