Balienews.com – Bencana tidak selalu datang dengan tanda yang mudah dikenali. Gempa bumi dapat terjadi tanpa peringatan, banjir dapat meningkat dalam waktu singkat, longsor bisa terjadi setelah hujan deras, sementara kebakaran dapat berkembang hanya dalam hitungan menit.
Karena itu, kesiapsiagaan bencana sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika muncul kabar tentang gempa megathrust. Masyarakat perlu membangun kebiasaan bersiap menghadapi berbagai kemungkinan bencana, mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, kebakaran hingga kondisi darurat lainnya.
Kesiapsiagaan penting dilakukan sebelum bencana terjadi, karena ketika situasi sudah berubah menjadi darurat, waktu untuk berpikir dan mengambil keputusan bisa sangat terbatas.
Kenapa Kita Harus Bersiap Sebelum Bencana?
Salah satu contoh ancaman yang banyak dibicarakan adalah gempa bumi yang bersumber dari zona megathrust.
Megathrust merupakan zona subduksi tempat dua lempeng tektonik bertemu dan salah satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya. Pada bagian tertentu, pertemuan lempeng tersebut dapat terkunci dalam waktu lama sehingga energi atau regangan terus terakumulasi.
Menurut BMKG, zona tersebut dapat mengakumulasi energi besar dan memicu gempa bumi kuat dengan bidang patahan yang luas.
Namun, penting dipahami bahwa gempa megathrust tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi. Gempa bumi baru dapat diketahui setelah getaran terjadi.
Artinya, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya kapan gempa akan terjadi, tetapi apakah kita sudah tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana benar-benar terjadi?
Satu Prinsip untuk Banyak Jenis Bencana
Setiap bencana memiliki karakteristik berbeda. Cara menghadapi gempa tentu tidak sama dengan menghadapi banjir atau kebakaran.
Meski demikian, ada satu prinsip yang berlaku hampir untuk semua situasi darurat: kenali risikonya, siapkan kebutuhan dasar, pahami jalur penyelamatan, dan ketahui tindakan yang harus dilakukan.
Persiapan sederhana tersebut dapat mengurangi kepanikan sekaligus membantu seseorang mengambil keputusan lebih cepat ketika keadaan berubah menjadi darurat.
Mulai dari Rumah: Pastikan Lingkungan Aman
Kesiapsiagaan bencana sebenarnya dapat dimulai dari tempat paling dekat dengan kita, yaitu rumah.
Untuk menghadapi gempa, misalnya, perhatikan kondisi bangunan, terutama bagian struktur, fondasi, dinding dan atap. Retakan pada bagian tertentu perlu diperiksa dan diperbaiki agar tidak berkembang menjadi risiko yang lebih besar.
Perabotan berat seperti rak, lemari atau benda yang mudah jatuh juga sebaiknya ditempatkan dan dipasang dengan aman. Cermin atau benda yang digantung perlu diperiksa agar tidak mudah terlepas ketika terjadi guncangan.
Pastikan pula instalasi listrik dan gas berada dalam kondisi aman.
Untuk wilayah yang rawan longsor, kondisi lingkungan sekitar rumah juga perlu diperhatikan. Hindari membangun atau beraktivitas di lokasi yang memiliki risiko longsor tanpa mempertimbangkan kondisi tanah dan karakteristik lereng.
Sementara bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir, perhatikan ketinggian lokasi rumah, saluran air, kemungkinan genangan dan akses keluar ketika air mulai naik.
Dengan kata lain, mitigasi bukan hanya soal bangunan tahan bencana, tetapi juga memahami karakter lingkungan tempat kita tinggal.
Siapkan Tas Siaga untuk Keadaan Darurat
Salah satu persiapan yang dapat dilakukan setiap keluarga adalah membuat tas siaga bencana.
Tas ini berisi perlengkapan yang dapat segera dibawa ketika harus meninggalkan rumah atau menghadapi kondisi darurat. BMKG menyarankan perlengkapan yang dapat membantu seseorang atau keluarga bertahan pada masa awal setelah bencana.
Isi tas dapat disesuaikan dengan kebutuhan keluarga.
Beberapa perlengkapan yang dapat dipertimbangkan antara lain air minum, makanan, perlengkapan pertolongan pertama, obat-obatan yang diperlukan, dokumen penting, senter, telepon seluler, peluit dan kebutuhan dasar lainnya.
Tas tersebut sebaiknya tidak dibuat terlalu besar atau berat. Dalam situasi evakuasi, kemampuan bergerak dengan cepat justru menjadi hal yang sangat penting.
Simpan tas di lokasi yang mudah dijangkau dan pastikan seluruh anggota keluarga mengetahui tempat penyimpanannya.
Jangan Tunggu Sirene untuk Mencari Jalan Keluar
Salah satu kesalahan yang dapat terjadi dalam keadaan darurat adalah baru mencari jalan keluar ketika bencana sudah berlangsung.
Padahal, jalur evakuasi seharusnya dikenali sejak sebelum bencana.
Jika berada di gedung, ketahui lokasi tangga darurat dan pintu keluar. Kenali pula titik kumpul yang relatif aman dari bangunan, kaca atau benda yang berpotensi jatuh.
Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir, kenali jalur menuju tempat yang lebih tinggi atau lokasi evakuasi yang telah ditetapkan.
Hal yang sama berlaku untuk bencana lain. Ketahui akses keluar dari rumah, sekolah, kantor, pusat perbelanjaan atau tempat yang sering dikunjungi.
Jangan hanya tahu ke mana harus pergi. Pastikan juga tahu bagaimana cara mencapainya.
Saat Gempa Terjadi, Lindungi Diri Terlebih Dahulu
Ketika gempa mulai mengguncang, kepanikan dapat membuat seseorang mengambil keputusan yang berbahaya.
Jika berada di dalam ruangan, prinsip Drop, Cover, Hold On dapat digunakan. Merunduk, lindungi kepala dan tubuh, kemudian berpegangan pada benda atau perlindungan yang kuat hingga guncangan mereda.
Jauhi kaca, lemari, rak dan benda lain yang berpotensi jatuh.
Jika berada di luar ruangan, menjauhlah dari bangunan, tiang, pohon, papan reklame, jembatan, jalan layang atau benda lain yang dapat roboh.
Jika sedang berada di dalam kendaraan, menepilah dan berhenti di lokasi yang aman jika memungkinkan. Tetap berada di dalam kendaraan hingga guncangan mereda, selama kendaraan tidak berada dalam kondisi yang membahayakan.
Setelah Gempa, Jangan Langsung Menganggap Bahaya Berakhir
Guncangan yang berhenti bukan berarti seluruh risiko sudah selesai.
Setelah keadaan memungkinkan, ikuti jalur evakuasi menuju titik kumpul. Hindari bangunan yang mengalami kerusakan, serta jauhi lokasi yang tercium bau gas atau bahan bakar.
Periksa kondisi orang di sekitar dan berikan pertolongan pertama jika memungkinkan. Hubungi layanan darurat apabila diperlukan.
Tetap ikuti informasi resmi dan hindari menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Tinggal di Pesisir? Kenali Risiko Tsunami
Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir, gempa bumi kuat perlu diwaspadai karena dalam kondisi tertentu dapat diikuti tsunami.
BMKG mengingatkan masyarakat di wilayah rawan tsunami untuk segera melakukan evakuasi apabila merasakan guncangan gempa yang kuat atau berlangsung cukup lama.
Jangan menunggu sampai melihat air laut surut atau menunggu peringatan kedua jika kondisi gempa sudah memberikan alasan untuk segera menyelamatkan diri.
Jauhi pantai dan tepi sungai yang terhubung dengan laut, kemudian menuju lokasi yang lebih tinggi atau mengikuti jalur evakuasi yang telah ditentukan.
Informasi peringatan dapat diperoleh melalui kanal resmi BMKG, siaran televisi dan radio, sirene, pengeras suara, kentongan maupun sistem peringatan yang berlaku di daerah masing-masing.
Jika tidak mengetahui jalur evakuasi, segera bergerak menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi sambil tetap mencari informasi resmi.
Jangan Hanya Bersiap untuk Gempa
Kesiapsiagaan tidak seharusnya berhenti pada ancaman megathrust.
Ketika musim hujan datang, keluarga yang tinggal di wilayah rawan banjir perlu mengetahui tempat aman dan menyiapkan barang penting agar mudah dipindahkan.
Di daerah dengan risiko longsor, masyarakat perlu mengenali tanda-tanda perubahan kondisi tanah dan lingkungan serta mengetahui kapan harus meninggalkan lokasi.
Untuk menghadapi kebakaran, penghuni rumah perlu mengetahui lokasi alat pemadam, akses keluar dan cara memutus sumber listrik atau gas secara aman jika keadaan memungkinkan.
Prinsipnya sama: kenali ancaman yang mungkin terjadi di sekitar kita dan siapkan respons sebelum keadaan berubah menjadi darurat.
Buat Rencana Darurat Bersama Keluarga
Kesiapsiagaan akan lebih efektif jika tidak hanya diketahui satu orang.
Luangkan waktu bersama keluarga untuk menentukan tempat berkumpul apabila terpisah, siapa yang harus dihubungi, jalur evakuasi yang digunakan dan lokasi penyimpanan tas siaga.
Perhatikan pula anggota keluarga yang mungkin membutuhkan bantuan khusus, seperti anak-anak, lansia atau anggota keluarga dengan keterbatasan mobilitas.
Lakukan simulasi sederhana secara berkala. Tujuannya bukan untuk membuat semua orang takut terhadap bencana, melainkan agar tindakan penyelamatan menjadi lebih mudah dilakukan ketika kondisi sebenarnya terjadi.
Bencana Tidak Bisa Selalu Dicegah, Risikonya Bisa Dikurangi
Gempa bumi, tsunami dan berbagai bencana alam lainnya merupakan bagian dari risiko yang harus dihadapi masyarakat di wilayah rawan bencana.
Kita mungkin tidak dapat mengetahui secara pasti kapan sebuah bencana akan terjadi. Namun, kita dapat mempersiapkan diri agar tidak sepenuhnya bergantung pada keberuntungan ketika keadaan darurat datang.
Mulailah dari hal sederhana: kenali risiko di sekitar rumah, siapkan tas siaga, ketahui jalur evakuasi, simpan nomor darurat dan bicarakan rencana penyelamatan bersama keluarga.
Jangan menunggu bencana terjadi untuk belajar menyelamatkan diri. Kesiapsiagaan yang dilakukan hari ini dapat menjadi bekal penting ketika situasi darurat benar-benar datang. (BEM)




