BerandaBeritaDaerahBMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Bali Saat Pancaroba, Warga Diminta Waspada

BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Bali Saat Pancaroba, Warga Diminta Waspada

Buleleng, Balienews.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Bali agar mewaspadai potensi cuaca ekstrem selama masa peralihan musim atau pancaroba dari kemarau menuju musim hujan. Kondisi atmosfer yang tidak stabil pada periode ini berpotensi memicu hujan lebat, banjir, dan tanah longsor di sejumlah wilayah Bali.

Masa pancaroba di Bali diperkirakan berlangsung selama dua hingga tiga dasarian atau sekitar 20–30 hari. Namun, durasinya dapat berbeda di setiap wilayah, bergantung pada karakteristik Zona Musim (ZOM).

Kepala Stasiun Klimatologi Bali, Aminudin Al Roniri, mengatakan kondisi atmosfer selama pancaroba cenderung tidak stabil sehingga cuaca dapat berubah secara cepat dalam waktu singkat.

“Pada periode pancaroba memang kondisi atmosfer sedang tidak stabil, karena akan mengalami transisi musim, sehingga banyak potensi terjadinya cuaca ekstrem yang terjadi dalam waktu singkat dan berubah-ubah,” kata Aminudin, Kamis (5/11/2026).

Pancaroba Tingkatkan Risiko Banjir dan Tanah Longsor

Menurut Aminudin, perubahan kondisi atmosfer selama masa peralihan musim juga meningkatkan potensi terjadinya bencana hidrometeorologi.

Sejumlah bencana yang perlu diwaspadai masyarakat antara lain banjir, tanah longsor, serta dampak lain yang dipicu oleh intensitas hujan tinggi.

“Maka dari itu, potensi terjadinya bencana hidrometeorologi juga berpeluang tinggi, seperti tanah longsor, banjir, dan lain-lain,” ujarnya.

BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan perubahan cuaca secara mendadak.

Longsor di Badung Rusak Empat Tenda Glamping

Peringatan BMKG tersebut menjadi perhatian menyusul sejumlah kejadian bencana yang dilaporkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali dalam beberapa hari terakhir.

Salah satu kejadian terjadi di kawasan Pelaga Ecopark, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, pada Selasa (3/11/2026) sekitar pukul 23.00 Wita.

Tanah longsor di kawasan tersebut merusak empat tenda glamping. Bahkan, satu tenda dilaporkan hanyut terbawa material longsor.

Dua wisatawan juga dilaporkan hilang akibat kejadian tersebut. Hingga berita ini ditulis, tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap kedua korban.

Berdasarkan catatan BPBD, curah hujan di kawasan tersebut mencapai 121 milimeter dalam sehari. Angka tersebut masuk kategori hujan sangat lebat.

Longsor Juga Putuskan Dua Ruas Jalan di Bangli

Selain Badung, bencana tanah longsor juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Bangli. Material longsor mengakibatkan dua ruas jalan terputus sehingga mengganggu akses masyarakat.

Kejadian longsor lainnya dilaporkan terjadi di kawasan Pura Kehen, Banjar Pekuwon, Kelurahan Cempaga, Kabupaten Bangli.

Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan pentingnya kewaspadaan masyarakat selama masa pancaroba, terutama di wilayah perbukitan, lereng, dan kawasan yang rawan longsor.

Masyarakat diimbau memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG serta mengikuti arahan petugas kebencanaan setempat.

Kewaspadaan terhadap perubahan cuaca menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko bencana dan menjaga keselamatan selama peralihan musim di Bali. (BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI