Denpasar, Balienews.com — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mencatat lima dari sembilan kabupaten/kota di Bali terdampak banjir akibat pengaruh bibit Siklon 93S sejak Kamis (11/12). Dampak bencana meliputi kerusakan infrastruktur, ratusan kepala keluarga terdampak, hingga satu korban jiwa warga negara asing (WNA).
Kepala Pelaksana BPBD Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, menyampaikan hal tersebut di Denpasar, Selasa (16/12). Meski bibit siklon menjauh dari garis khatulistiwa, curah hujan tinggi dan angin kencang masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Lima Daerah Terdampak Banjir Sejak 11 Desember
Menurut BPBD Bali, Karangasem menjadi wilayah pertama yang mengalami banjir akibat luapan sungai. Selanjutnya, banjir terjadi di Denpasar dan Badung pada Minggu (14/12), disusul Gianyar dan Jembrana pada Senin (15/12).
“Ancaman ini masih berpotensi terjadi beberapa hari ke depan,” ujar Gede Teja.
Di Karangasem, banjir berdampak pada 50 kepala keluarga (KK) serta dua bangunan sekolah. Sementara di Denpasar tercatat 20 titik banjir dan Badung 14 titik, meski jumlahnya tidak sebesar banjir September lalu.
Gianyar dan Jembrana Alami Dampak Parah
Di Gianyar, banjir merendam lima titik jalan utama dengan ketinggian air mencapai lebih dari satu meter. Bahkan, tembok rumah warga runtuh dan menutup akses jalan raya.
“Ada satu warga luka, namun tidak sampai mengungsi. Banyak rumah terdampak, terutama di wilayah yang memang masuk peta rawan banjir,” jelas Gede Teja.
Sementara itu, Jembrana dilaporkan mengalami banjir di empat desa, disertai pohon tumbang dan genangan air di jalur utama Denpasar–Gilimanuk, mengganggu arus lalu lintas.
Satu WNA Meninggal, Ratusan Warga dan Wisatawan Terdampak
BPBD Bali mencatat satu korban meninggal dunia, seorang WNA perempuan yang identitasnya masih dalam penelusuran. Korban diduga terpeleset dan terseret arus banjir saat mengendarai sepeda motor.
Selain itu, sekitar 191 KK warga terdampak serta lebih dari 150 wisatawan turut merasakan dampak banjir. Para wisatawan tidak mengungsi ke pos pengungsian, melainkan pindah penginapan atau mempercepat kepulangan.
BPBD: Cuaca Ekstrem Bukan Satu-satunya Penyebab
BPBD Bali menegaskan bahwa Siklon 93S memiliki karakter berbeda dengan fenomena Gelombang Rossby yang memicu banjir besar pada September lalu. Meski demikian, dampaknya terhadap hujan dan angin tetap perlu diwaspadai.
Namun, BPBD juga mengakui bahwa daya dukung lingkungan yang belum optimal turut memperparah banjir.
“Masalah tata ruang dan sistem drainase masih perlu direkayasa agar mampu mengalirkan air dengan baik saat curah hujan tinggi,” kata Gede Teja.
Imbauan Kewaspadaan bagi Masyarakat
BPBD Bali mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah rawan banjir dan daerah aliran sungai, serta memantau informasi cuaca resmi dalam beberapa hari ke depan. (BEM)




