Jakarta, Balienews.com – Pawai ogoh-ogoh dari kawasan Patung Kuda hingga Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, tetap berlangsung meriah meski diguyur hujan pada Minggu pagi (8/3/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, sekaligus menunjukkan semangat keberagaman budaya di ibu kota.
Acara tersebut dihadiri Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Wakil Gubernur Rano Karno, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, serta Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa.
Sebanyak 13 ogoh-ogoh dari berbagai daerah, termasuk Jakarta, Bekasi, dan Cibubur, turut memeriahkan pawai yang disaksikan masyarakat dengan payung dan jas hujan.
Apresiasi Pemprov DKI Jakarta
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengapresiasi semangat peserta dan masyarakat yang tetap mengikuti pawai di tengah hujan.
Menurutnya, hujan justru menjadi pertanda baik bagi kegiatan tersebut. Ia optimistis pawai ogoh-ogoh di Jakarta akan semakin meriah di tahun-tahun mendatang.
“Dengan adanya hujan ini berkah. Saya yakin tahun depan pawai ini akan lebih luar biasa lagi,” ujarnya.
Ia juga menyinggung momentum penting pada 2027 mendatang, ketika Jakarta akan merayakan usia ke-500 tahun. Berbagai ekspresi budaya, termasuk pawai ogoh-ogoh, diharapkan dapat turut meramaikan perayaan tersebut.
Dukungan untuk Umat Hindu di Jakarta
Ketua Suka Duka Hindu Dharma (SDHD) Jakarta Raya, Made Sudarta, mengungkapkan rasa terima kasih atas kehadiran pimpinan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam pawai tersebut.
Menurutnya, momen ini menjadi sejarah karena untuk pertama kalinya gubernur dan wakil gubernur hadir langsung menyaksikan pawai ogoh-ogoh di Jakarta.
Kehadiran para pejabat tersebut dinilai memberikan dukungan moral bagi umat Hindu yang merayakan rangkaian Hari Raya Nyepi di ibu kota.
Simbol Keragaman Budaya Indonesia
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka mengaku terharu melihat antusiasme masyarakat.
Ia menilai pawai ogoh-ogoh di Bundaran HI memiliki makna penting sebagai simbol keberagaman Indonesia. Terlebih kegiatan tersebut berlangsung di tengah suasana bulan Ramadan dan perayaan Imlek.
Menurutnya, mulai dari anak-anak hingga lansia hadir bersama keluarga untuk menyaksikan pawai ogoh-ogoh yang baru pertama kali digelar di kawasan Bundaran HI menjelang Nyepi.
“Ini bukti bahwa masyarakat Indonesia bisa tetap bersatu dalam keberagaman,” katanya.
Potensi Daya Tarik Wisata Budaya
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa juga mengapresiasi antusiasme masyarakat dan peserta pawai. Ia menilai pawai ogoh-ogoh memiliki potensi besar menjadi daya tarik wisata budaya di Jakarta.
Menurutnya, banyak masyarakat yang tetap datang ke Bundaran HI dengan payung dan jas hujan untuk menyaksikan pawai tersebut.
“Ini luar biasa. Mudah-mudahan kegiatan ini terus dipertahankan sehingga dapat menambah kunjungan wisatawan ke Jakarta,” ujarnya.
Kreativitas Ogoh-Ogoh dari Berbagai Daerah
Koordinator Pawai Ogoh-ogoh, I Gusti Agung Arya Wirayudha, menyebutkan ada 13 ogoh-ogoh yang ikut dalam pawai tersebut. Pesertanya tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga dari Bekasi dan Cibubur.
Salah satu peserta dari Banjar Bekasi menampilkan ogoh-ogoh bertema Detya Kala Baka, yang terinspirasi dari kisah Bima dalam tradisi Hindu.
Ketua STT Yowana Bhagasasi, I Nengah Dharma Pradnyandita, menjelaskan ogoh-ogoh tersebut dibuat sejak 1 Februari 2026 menggunakan bahan daur ulang seperti kardus bekas, koran bekas, bambu, dan kawat dengan metode ulatan.
Meski sempat khawatir karena bahan kertas mudah rusak akibat hujan, ogoh-ogoh tetap tampil maksimal sepanjang pawai.
“Di setiap pertigaan jalan kami sempat memutar ogoh-ogoh, lalu memberi hormat kepada gubernur sebelum melakukan atraksi sekitar tiga menit,” ujarnya.
Harapan Tradisi Terus Berlanjut
Pawai ogoh-ogoh di Bundaran HI diharapkan dapat menjadi agenda tahunan menjelang Hari Raya Nyepi di Jakarta. Selain menjaga tradisi umat Hindu, kegiatan ini juga memperkuat nilai toleransi dan memperkaya atraksi wisata budaya di ibu kota. (BEM)




