Tabanan, Balienews.com – Di tengah derasnya pengaruh budaya global dan tren fashion modern, upaya mengenalkan sejarah bangsa kepada generasi muda membutuhkan pendekatan yang kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman. Berangkat dari semangat tersebut, Museum Majapahit Tanah Lot Bali menggelar Lomba Peragaan Busana Majapahit Kekinian 2026 dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno.
Ajang yang memperebutkan Piala Ibu Bupati Tabanan Ni Ketut Rai Wahyuni, SH., MM. ini akan berlangsung pada Sabtu, 20 Juni 2026, mulai pukul 08.00 WITA di Museum Majapahit Tanah Lot, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali. Lomba terbuka bagi peserta dari kategori TK, SD, SMP, SMA/SMK hingga umum.
Lebih dari sekadar kompetisi fashion, kegiatan ini dirancang sebagai sarana edukasi budaya yang mengajak peserta memahami sejarah Nusantara melalui kreativitas dan seni peragaan busana.
Menghidupkan Kembali Semangat Majapahit di Era Modern
Kerajaan Majapahit dikenal sebagai salah satu simbol kejayaan Nusantara yang meninggalkan warisan budaya, seni, dan nilai persatuan yang masih relevan hingga saat ini.
Melalui tema “Majapahit Kekinian”, peserta diajak menghadirkan interpretasi baru terhadap budaya masa lampau dengan sentuhan modern tanpa meninggalkan identitas tradisionalnya.
Panitia menilai pendekatan ini penting untuk membangun kedekatan generasi muda dengan sejarah bangsa. Ketika budaya dikemas dalam bentuk yang kreatif dan menarik, proses belajar menjadi lebih menyenangkan dan mudah diterima.
Museum Majapahit Tanah Lot sendiri menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program edukasi, literasi sejarah, dan pelestarian budaya yang selama ini menjadi fokus lembaga tersebut.
Tidak Sekadar Berjalan di Atas Panggung
Berbeda dengan lomba peragaan busana pada umumnya, peserta tidak hanya dinilai dari penampilan fisik atau keindahan kostum.
Panitia menyiapkan sistem penilaian yang menekankan keseimbangan antara kreativitas, pemahaman tema, serta kemampuan menampilkan karakter budaya di atas panggung.
1. Konsep Busana dan Kesesuaian Tema (40 Persen)
Aspek ini menjadi penilaian terbesar. Juri akan melihat bagaimana peserta mengolah unsur budaya Majapahit menjadi karya yang kreatif dan relevan dengan masa kini.
Beberapa unsur yang dinilai meliputi:
- Kesesuaian dengan tema Majapahit
- Kreativitas desain
- Perpaduan unsur tradisional dan modern
- Detail kostum
- Tata rambut dan aksesori
- Kerapian penampilan
- Keunikan konsep
2. Penampilan dan Penguasaan Panggung (35 Persen)
Peserta juga harus menunjukkan kemampuan tampil yang baik melalui:
- Teknik berjalan atau catwalk
- Gestur tubuh
- Pose
- Penguasaan panggung
- Kepercayaan diri
- Keluwesan gerakan
3. Karakter dan Kesan Keseluruhan (25 Persen)
Penilaian terakhir berfokus pada karakter peserta saat tampil, termasuk:
- Ekspresi wajah
- Sikap dan etika
- Elegansi
- Aura penampilan
- Kesan yang ditinggalkan setelah tampil
Menariknya, sistem penjurian akan disesuaikan dengan kelompok usia peserta. Untuk kategori anak-anak, juri lebih menitikberatkan pada keberanian tampil, ekspresi alami, dan keceriaan. Sementara kategori dewasa akan lebih banyak dinilai dari teknik catwalk, konsep fashion, serta profesionalisme penampilan.
Juri Profesional dari Dunia Fashion dan Budaya
Untuk menjaga kualitas kompetisi, panitia menghadirkan juri profesional yang berasal dari kalangan model, desainer, serta unsur Dinas Kebudayaan Kabupaten Tabanan.
Kehadiran para juri ini diharapkan mampu memberikan penilaian yang objektif sekaligus menjadi pengalaman berharga bagi para peserta yang ingin mengembangkan bakat di bidang fashion dan seni pertunjukan.
Terbuka untuk Anak-anak Hingga Masyarakat Umum
Lomba ini terbagi dalam beberapa kategori, yaitu:
- TK Putra dan Putri
- SD Putra dan Putri
- SMP Putra dan Putri
- SMA/SMK Putra dan Putri
- Umum Putra dan Putri
Untuk kategori TK dan SD, peserta menggunakan pakaian kasual yang nyaman dan sopan.
Sementara peserta SMP, SMA/SMK, dan kategori umum diwajibkan mengenakan busana adat Nusantara yang dimodifikasi secara kreatif sesuai tema Majapahit Kekinian.
Pendaftaran Dibuka Hingga 15 Juni 2026
Pendaftaran Lomba Peragaan Busana Majapahit Kekinian 2026 telah dibuka sejak 26 Mei 2026 dan akan ditutup pada 15 Juni 2026.
Peserta dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp150.000 per orang. Biaya tersebut sudah mencakup piala, piagam penghargaan, snack, serta tiket masuk Museum Majapahit Tanah Lot.
Selain itu, para juara pada masing-masing kategori berhak memperoleh piala, piagam penghargaan, dan uang pembinaan. Sebagai bentuk apresiasi, seluruh peserta juga akan mendapatkan piala dan piagam penghargaan dari panitia.
Masyarakat yang ingin mengikuti lomba dapat melakukan pendaftaran secara daring melalui tautan berikut:
Link Pendaftaran:
https://forms.gle/DDmbxeYeFtE6wu3U8
Sementara itu, informasi lengkap mengenai proposal kegiatan, persyaratan peserta, dan kriteria penilaian dapat diakses melalui:
Detail Pendaftaran, Proposal, dan Kriteria Lomba:
https://drive.google.com/file/d/1VEgy5Z368PYH-d3O560Ddt3TpX0vl0Yg/view?usp=drive_link
Untuk informasi lebih lanjut, calon peserta dapat menghubungi panitia:
- Dewa Suwirya: 081337039147
- Kadek Juli: 0895400757000
Belajar Sejarah Lewat Cara yang Menyenangkan
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup generasi muda, upaya mengenalkan sejarah dan budaya membutuhkan pendekatan yang lebih kreatif dan dekat dengan dunia mereka. Lomba Peragaan Busana Majapahit Kekinian 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana warisan budaya dapat dikemas secara menarik melalui seni, fashion, dan ekspresi diri.
Melalui ajang ini, peserta tidak hanya berlomba menampilkan busana terbaik, tetapi juga diajak memahami nilai-nilai sejarah, kreativitas, dan identitas budaya bangsa. Semangat Majapahit yang pernah menjadi simbol kejayaan Nusantara diharapkan dapat terus hidup dan menginspirasi generasi masa kini.
Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan yang digelar Museum Majapahit Tanah Lot ini menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak, pelajar, dan masyarakat umum untuk mengenal akar budayanya. Dengan cara itulah pelestarian budaya tidak berhenti sebagai kenangan masa lalu, tetapi terus tumbuh menjadi bagian dari kehidupan generasi mendatang. (BEM)




