BerandaLingkunganKrisis Sampah Bali: 600 Ton Sampah Organik Tak Terolah

Krisis Sampah Bali: 600 Ton Sampah Organik Tak Terolah

Denpasar, Balienews.com – Forum Komunikasi Swakelola Sampah Bali (Forkom SSB) mengungkapkan sekitar 600 ton sampah organik per hari tidak tertampung di TPA Suwung sejak diberlakukannya pembatasan awal April 2026. Kondisi ini memicu penumpukan sampah di berbagai titik dan dikhawatirkan berdampak luas, termasuk pada sektor pariwisata Bali.

600 Ton Sampah Organik Tak Tertangani Setiap Hari

Ketua Forkom SSB, I Wayan Suarta, menyebutkan total sampah yang diangkut pihaknya mencapai sekitar 800 ton per hari, dengan 65 persen di antaranya merupakan sampah organik.

Artinya, sekitar 600 ton sampah organik harus dialihkan ke pengolahan mandiri atau fasilitas lain karena tidak lagi bisa masuk ke TPA Suwung.

Baca Juga :  TPA Suwung Batal Tutup, Tetap Beroperasi hingga Juni 2026

Namun, kondisi di lapangan tidak mendukung. Banyak Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) mengalami kelebihan kapasitas.

TPST Kewalahan, Warga Antre Buang Sampah

Menurut Suarta, warga di sejumlah wilayah seperti Sesetan harus antre panjang untuk membuang sampah ke TPS3R.

“Antre seperti orang mencari sembako, bahkan ada yang ditolak karena sudah penuh,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah daerah sudah berupaya mengatasi persoalan ini, namun keterbatasan kapasitas dan tekanan regulasi membuat situasi semakin sulit dikendalikan.

Kapasitas Pengolahan Jauh dari Kebutuhan

Saat ini, kemampuan pengolahan sampah organik di beberapa TPST di Denpasar masih sangat terbatas:

  • TPST Kertalangu: 30 ton/hari
  • TPST Tahura: 15 ton/hari
  • TPST Padangsambian: 15 ton/hari
Baca Juga :  TPA Suwung Batal Tutup, Tetap Beroperasi hingga Juni 2026

Totalnya hanya sekitar 60 ton per hari, jauh di bawah volume sampah organik yang mencapai 600 ton.

Selain itu, hasil olahan berupa cacahan sampah juga tidak terserap karena minimnya pihak yang menampung, sehingga menambah beban penyimpanan di TPST.

Ancaman Penumpukan dan Pembakaran Sampah

Keterbatasan ini berdampak langsung ke masyarakat. Banyak sampah tidak terangkut dari rumah warga, memicu penumpukan dan praktik pembakaran sampah.

Forkom SSB memperingatkan kondisi ini berpotensi menjadi masalah serius dalam waktu dekat jika tidak segera ditangani secara sistematis.

Swakelola Mulai Putus Asa

Krisis ini juga memukul pelaku swakelola sampah. Banyak operator mulai berhenti beroperasi bahkan menjual armada mereka karena tidak jelasnya sistem pembuangan.

Baca Juga :  TPA Suwung Batal Tutup, Tetap Beroperasi hingga Juni 2026

“Takutnya sampah tidak ada yang mengangkut, akhirnya menumpuk di mana-mana dan merugikan semua pihak,” kata Suarta.

Dampak ke Pariwisata Bali Mengintai

Jika situasi terus berlanjut, Forkom SSB khawatir dampaknya meluas hingga ke sektor pariwisata, yang menjadi tulang punggung ekonomi Bali.

Ia menilai penanganan sampah membutuhkan lahan luas dan teknologi pengolahan modern, bukan sekadar kebijakan pembatasan tanpa solusi menyeluruh.

Permasalahan sampah di Denpasar membutuhkan kolaborasi cepat antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Tanpa solusi konkret, krisis ini berpotensi membesar dan mengganggu kehidupan warga serta citra pariwisata Bali. (BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI