Buleleng, Balienews.com – Bau menyengat dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bengkala di Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali, dikeluhkan warga desa penyangga. Keluhan itu disampaikan karena aroma tidak sedap disebut sudah berlangsung lama dan bahkan disertai asap pada malam hari, sehingga mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar.
Kepala Desa Kubutambahan, Gede Pariadnyana, mengatakan pemerintah desa telah berulang kali menyampaikan persoalan tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Buleleng. Namun hingga kini, warga menilai belum ada langkah penanganan yang signifikan.
Warga Resah dengan Bau dan Asap dari TPA Bengkala
Menurut Pariadnyana, bau dari TPA Bengkala kerap tercium hingga wilayah permukiman warga yang berada dekat lokasi pembuangan sampah. Kondisi itu disebut sudah berlangsung cukup lama.
“Ini sudah lama dan berbau. Kami sudah sampaikan itu, namun belum ada tindak lanjut. Kalau malam juga kadang ada asap, baunya sampai ke sini. Karena kami ada di wilayah dekat TPA,” kata Pariadnyana, Selasa (26/5).
Ia menegaskan, keresahan warga semakin meningkat karena persoalan bau menyengat belum juga teratasi. Pemerintah desa pun meminta agar Pemkab Buleleng segera menghadirkan solusi konkret.
“Saya minta agar dicarikan solusi segera, masyarakat sudah tidak bisa banyak bicara. Sudah saya sampaikan juga ke Bupati,” ujarnya.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan resmi terkait gangguan kesehatan akibat bau menyengat dari TPA Bengkala.
DLH Buleleng Sebut Sampah Campur Jadi Penyebab Bau
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Buleleng, Gede Putra Aryana, menjelaskan bahwa bau dari TPA Bengkala dipicu oleh masih bercampurnya sampah yang dibuang ke lokasi tersebut.
Menurutnya, minimnya pemilahan sampah sejak dari rumah tangga membuat proses pengelolaan di TPA menjadi tidak optimal. Sampah organik yang bercampur dengan jenis sampah lain memicu munculnya aroma tidak sedap.
“Kalau bau itu mungkin karena masih budaya kita yang sampahnya masih dicampur. Saya sering juga ke TPA, walaupun bau, tetap saya lihat langsung kondisi di sana,” kata Aryana.
DLH Buleleng, lanjut dia, beberapa kali bahkan menolak kiriman sampah yang belum dipilah karena menyulitkan proses pengolahan di TPA.
DLH Dorong Pemilahan Sampah dari Rumah Tangga
Untuk mengurangi dampak bau di TPA Bengkala, DLH Buleleng mengaku telah melakukan sejumlah upaya, termasuk penyemprotan eco enzyme di area pembuangan sampah.
Selain itu, masyarakat juga didorong mulai memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah tangga agar volume sampah campuran yang masuk ke TPA dapat berkurang.
“Solusi sudah kita lakukan, termasuk penyemprotan eco enzyme juga sudah. Kalau semua sampah dikelola dari awal, seharusnya tidak ada yang terbuang sembarangan,” pungkasnya.
Persoalan bau TPA Bengkala kini menjadi perhatian warga sekitar yang berharap pemerintah daerah segera menghadirkan solusi jangka panjang agar lingkungan tetap nyaman dan sehat. (BEM)




