Balienews.com – Tumpukan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, tercatat sebagai penghasil gas metana terbesar kedua di dunia setelah TPA Campo de Mayo di Buenos Aires, Argentina. Temuan ini terungkap berdasarkan pemantauan satelit Carbon Mapper yang dimuat dalam laporan Emmett Institute 2025 dari Fakultas Hukum University of California.
Produksi gas metana di TPST Bantargebang disebut mencapai lebih dari 6 ton per jam. Pakar biorefinery limbah hayati dan energi berkelanjutan dari Universitas Gadjah Mada, Hanifrahmawan Sudibyo, mengingatkan bahwa metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi besar terhadap peningkatan suhu bumi.
Metana dari Sampah Organik Jadi Ancaman Lingkungan
Hanifrahmawan menjelaskan, gas metana umumnya terbentuk dari proses penguraian bahan organik dalam kondisi minim oksigen atau anaerobik. Kondisi tersebut banyak ditemukan pada timbunan sampah organik, limbah industri pangan berkadar air tinggi, sedimen rawa, hingga kotoran hewan.
Menurut dosen Teknik Kimia UGM tersebut, lingkungan lembap dengan suplai oksigen terbatas menjadi tempat ideal bagi mikroorganisme penghasil metana berkembang.
“Selama proses penguraian tersebut berlangsung, gas metana akan terbentuk dan dapat terlepas ke atmosfer apabila tidak dikelola dengan baik,” ujar Hanifrahmawan, Senin (18/5/2026), dikutip dari situs resmi UGM pada Selasa (19/5/2026).
Meski metana merupakan bagian alami dari siklus karbon bumi, dampaknya terhadap pemanasan global dinilai lebih besar dibandingkan karbon dioksida dalam jangka pendek.
Potensi Biogas dari TPST Bantargebang
Di balik tingginya emisi, Hanifrahmawan melihat potensi besar pemanfaatan gas metana sebagai sumber energi alternatif ramah lingkungan. Salah satu solusi yang bisa diterapkan adalah teknologi methane capture atau penangkapan gas metana.
Teknologi tersebut dilakukan dengan memasang jaringan pipa vertikal maupun horizontal di area timbunan sampah untuk mengumpulkan gas dari dalam landfill.
Gas yang terkumpul kemudian dapat dialirkan ke unit pemurnian atau pembangkit listrik berbasis biogas sehingga bisa dimanfaatkan sebagai energi.
Menurutnya, tingginya produksi metana di TPST Bantargebang dapat menjadi momentum evaluasi pengelolaan sampah nasional sekaligus mendorong pengembangan energi hijau di Indonesia.
Pengelolaan Sampah Butuh Dukungan Lintas Sektor
Hanifrahmawan menilai pengelolaan gas metana di tempat pembuangan akhir tidak bisa hanya dibebankan kepada operator pengelola sampah atau sektor industri.
Ia menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, masyarakat, hingga badan usaha penyedia energi seperti PLN untuk membangun sistem pengelolaan gas landfill secara terintegrasi.
Selain itu, masyarakat juga diminta mulai mengurangi produksi limbah organik dengan memilah sampah sejak dari rumah antara sampah organik dan anorganik.
Pengurangan Sampah Jadi Solusi Jangka Panjang
Peningkatan konsumsi masyarakat tanpa diimbangi sistem pengelolaan limbah yang baik dinilai akan memperbesar beban tempat pembuangan akhir, baik dari sisi kapasitas maupun emisi gas metana yang dihasilkan.
Karena itu, sistem pengelolaan sampah berkelanjutan perlu diperkuat untuk mendukung konsep ekonomi sirkular dan pengurangan emisi gas rumah kaca dalam jangka panjang.
Masyarakat juga diharapkan lebih aktif menerapkan pengurangan sampah dari sumbernya guna membantu menekan dampak perubahan iklim. (BEM)




