Tabanan, Balienews.com – Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya bersama Wakil Bupati I Made Dirga resmi membuka Parade Budaya Hari Ulang Tahun (HUT) ke-34 LPD Desa Adat Bedha di Wantilan Desa Adat Bedha, Desa Bongan, Kecamatan Tabanan, Jumat (10/7).
Kegiatan yang berlangsung hingga Minggu (12/7) ini menjadi ajang pelestarian seni dan budaya Bali sekaligus penggerak ekonomi masyarakat melalui sektor UMKM dan industri kreatif.
Pembukaan parade dihadiri unsur DPRD Provinsi Bali, DPRD Kabupaten Tabanan, Forkopimda, Forkopimcam, para perbekel, Bendesa Adat Bedha, tokoh adat, serta masyarakat.
Acara diawali dengan penampilan Baleganjur dari 14 banjar adat sebagai simbol persatuan dan semangat menjaga warisan budaya.
Sanjaya Apresiasi Kemandirian Desa Adat Bedha
Dalam sambutannya, Bupati Sanjaya mengapresiasi kekompakan masyarakat Desa Adat Bedha yang dinilai berhasil membangun desa adat yang mandiri melalui pengelolaan LPD dan potensi lokal.
Menurutnya, keberhasilan Desa Adat Bedha tidak hanya terlihat dari tata kelola keuangan yang baik, tetapi juga dari kemampuan mengembangkan aset desa, termasuk keberadaan Krematorium Santha Graha sebagai salah satu wujud kemandirian ekonomi.
Ia berharap desa adat lainnya di Kabupaten Tabanan mampu menggali potensi sesuai kearifan lokal sehingga tidak bergantung sepenuhnya pada bantuan pemerintah.
Parade Budaya Jadi Penggerak Ekonomi
Sanjaya menegaskan desa adat merupakan pilar utama pelestarian adat, agama, seni, dan budaya Bali. Semakin kuat lembaga adat, semakin kuat pula upaya menjaga warisan budaya.
Menurutnya, Parade Budaya juga memberikan dampak ekonomi yang nyata karena melibatkan banyak pelaku UMKM, perajin, penjual busana adat, hingga pedagang kuliner.
Karena itu, ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan setiap tahun dengan mengedepankan partisipasi masyarakat dibanding kemegahan acara.
Libatkan Puluhan Banjar Adat
Sementara itu, Bendesa Adat Bedha I Nyoman Arnaya menjelaskan Parade Budaya tahun ini mengusung tema “Nangun Kerthi Jagat Bali, Jejak Lestari Banjar ring Alam lan Budaya Bedha”, yang mencerminkan semangat menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam berdasarkan nilai Tri Hita Karana.
Desa Adat Bedha yang terdiri atas 38 banjar adat melibatkan hampir seluruh wilayah dalam parade. Sebanyak 30 banjar mengikuti Parade Baleganjur, enam banjar tampil pada Parade Gong Kebyar, seluruh 38 banjar berpartisipasi dalam Parade Penjor, enam banjar mengikuti Parade Ogoh-ogoh, serta empat peserta menampilkan seni wali dan seni sakral.
Menurut Arnaya, tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa parade budaya bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga bentuk tanggung jawab bersama dalam melestarikan budaya sekaligus menggerakkan perekonomian desa.
Parade Budaya HUT ke-34 LPD Desa Adat Bedha diharapkan menjadi agenda tahunan yang semakin memperkuat persatuan masyarakat, melestarikan budaya Bali, dan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kearifan lokal. (BEM/Pro)



