Bangli, balienews.com – Fenomena letupan belerang (upwelling) di Danau Batur, Kabupaten Bangli, Bali, menyebabkan sekitar 25 ton ikan nila budidaya mati dan mengakibatkan kerugian yang diperkirakan mencapai Rp800 juta. Peristiwa tersebut mulai terjadi pada Senin (20/7) sekitar pukul 03.30 Wita, ketika gas dan sedimen dari dasar danau naik ke permukaan sehingga kadar oksigen di air menurun drastis dan memicu kematian massal ikan.
Letupan Belerang Picu Kematian Massal Ikan
Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangli, I Wayan Agus Wirawan, mengatakan letupan belerang terjadi dari dasar Danau Batur dan bergeser ke sejumlah titik.
“Letupannya terjadi di bawah dan bergeser,” ujar Agus saat dikonfirmasi, Rabu (22/7).
Menurutnya, fenomena tersebut bukan kejadian baru. Letupan belerang atau proses upwelling memang kerap muncul pada periode tertentu, terutama memasuki Juli hingga Agustus, meski tidak selalu terjadi setiap tahun.
“Hampir setiap tahun terjadi, walaupun tidak selalu setiap tahun,” katanya.
Kadar Oksigen Turun Drastis
Agus menjelaskan, letupan belerang membawa gas dan sedimen dari dasar danau ke permukaan. Kandungan seperti hidrogen sulfida (H₂S), nitrat, dan nitrit menyebabkan berkurangnya kadar oksigen terlarut di dalam air.
Akibat kondisi tersebut, ikan mengalami stres karena kekurangan oksigen hingga akhirnya mati secara massal.
“Kandungannya ada H₂S, nitrat, nitrit yang menyebabkan pengikatan unsur oksigen di air sehingga kadar oksigen menurun,” jelasnya.
Sekitar 25 Ton Ikan Nila Mati
Berdasarkan laporan yang diterima Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Bangli, kematian ikan budidaya terjadi di kawasan Dusun Dukuh, Danau Batur.
Hingga saat ini, jumlah ikan nila yang tercatat mati mencapai sekitar 25 ton.
“Itu yang baru tercatat ada 25 ton ikan mati,” kata Agus.
Kerugian yang dialami para pembudidaya diperkirakan mencapai sekitar Rp800 juta. Meski demikian, tidak seluruh ikan yang mati menjadi kerugian total karena sebagian masih dapat dimanfaatkan.
Menurut Agus, ikan yang baru mati segera dikirim ke pabrik pengolahan sehingga masih memiliki nilai ekonomi.
“Ikan yang mati itu langsung dikirim ke pabrik untuk diolah. Kondisinya masih bagus dan belum busuk, sehingga masih ada nilai ekonominya,” ujarnya.
Pembudidaya Sudah Antisipasi Fenomena Tahunan
Agus menambahkan, para pembudidaya ikan di Danau Batur telah memahami pola munculnya fenomena upwelling karena sudah berulang kali terjadi.
Sebagai langkah antisipasi, mereka biasanya menunda penebaran benih pada musim rawan serta melakukan panen lebih awal untuk mengurangi potensi kerugian.
“Teman-teman pembudidaya sudah sangat paham. Biasanya pada bulan-bulan seperti ini mereka menghindari penebaran benih dan memanen lebih awal,” tuturnya.
Masyarakat dan pembudidaya di sekitar Danau Batur diimbau terus memantau perkembangan kondisi perairan serta mengikuti informasi dari instansi terkait guna meminimalkan dampak fenomena alam tersebut. (BEM)




