BerandaKesehatanWaspada! 4 Penyakit yang Bisa Berasal dari Bulu Kucing

Waspada! 4 Penyakit yang Bisa Berasal dari Bulu Kucing

Balienews.com – Bulu kucing memang terlihat bersih dan menggemaskan, tetapi di balik tampilannya, ada sejumlah risiko kesehatan yang perlu diwaspadai. Bulu kucing dapat membawa bakteri, jamur, hingga parasit yang berpotensi menyebabkan penyakit pada manusia, terutama bagi ibu hamil, penderita alergi, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah.

Meski bukan berarti semua kucing berbahaya, risiko penularan penyakit bisa meningkat jika kebersihan hewan peliharaan dan lingkungan tidak dijaga dengan baik.

Penyakit yang Bisa Ditularkan Melalui Bulu Kucing

Melansir dari laman Alodokter, berikut beberapa penyakit yang dapat berkaitan dengan paparan bulu kucing.

1. Penyakit Cakar Kucing (Cat Scratch Disease)

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Bartonella henselae. Penularan tidak hanya terjadi melalui gigitan atau cakaran, tetapi juga dapat berasal dari bulu kucing yang telah terkontaminasi bakteri.

Risiko meningkat apabila seseorang menyentuh bulu kucing, kemudian tanpa sadar mengusap mata atau bagian wajah sebelum mencuci tangan. Pada orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah, infeksi dapat berkembang menjadi lebih serius.

2. Kurap (Ringworm)

Kurap merupakan infeksi jamur dermatofita yang dapat menular dari kucing ke manusia.

Kucing yang bulunya lembap atau kurang terawat lebih rentan mengalami kurap. Tandanya antara lain muncul bercak melingkar berkerak yang disertai kerontokan bulu. Jika menemukan gejala tersebut, segera periksakan kucing ke dokter hewan dan bersihkan lingkungan rumah untuk mencegah penyebaran spora jamur.

3. Toksoplasmosis

Toksoplasmosis disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii yang umumnya terdapat pada kotoran kucing yang telah terinfeksi, bukan pada bulunya secara langsung. Namun, bulu kucing dapat terkontaminasi apabila terkena kotoran tersebut.

Penyakit ini perlu diwaspadai terutama oleh ibu hamil karena dapat meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, hingga gangguan bawaan pada janin. Orang dengan sistem imun rendah juga berisiko mengalami komplikasi yang lebih berat.

4. Reaksi Alergi

Tidak sedikit orang mengalami alergi setelah berinteraksi dengan kucing. Pemicunya bukan hanya bulu, tetapi juga protein yang berasal dari air liur, urine, maupun serpihan kulit (dander) yang menempel pada bulu.

Gejala yang muncul dapat berupa bersin, hidung berair, mata gatal, ruam kulit, hingga kambuhnya asma pada sebagian penderita.

Cara Mengurangi Risiko Paparan Bulu Kucing

Memelihara kucing tetap aman dilakukan selama kebersihan dijaga secara konsisten. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Cuci tangan menggunakan sabun setelah memegang kucing atau membersihkan kotak pasir.
  • Mandikan kucing secara rutin menggunakan sampo khusus dan jaga kebersihan kandang.
  • Hindari membiarkan kucing masuk ke kamar tidur atau tidur di tempat tidur.
  • Pastikan anak tidak bermain di area yang berpotensi terkontaminasi kotoran kucing.
  • Lakukan pemeriksaan kesehatan dan vaksinasi kucing secara berkala ke dokter hewan.

Menurut Alodokter, menjaga kebersihan kucing, lingkungan rumah, serta menerapkan kebiasaan mencuci tangan merupakan langkah sederhana namun efektif untuk menurunkan risiko penularan penyakit dari hewan peliharaan.

Tetap Sayangi Kucing dengan Cara yang Sehat

Memelihara kucing memiliki banyak manfaat, mulai dari mengurangi stres hingga menjadi teman di rumah. Namun, pemilik juga perlu memahami potensi risiko kesehatan yang mungkin muncul agar dapat melakukan pencegahan sejak dini.

Apabila mengalami gejala alergi atau keluhan kesehatan setelah berinteraksi dengan kucing, segera konsultasikan dengan tenaga medis agar mendapatkan penanganan yang tepat. (BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI