BerandaBeritaDaerahKamardiyana Dorong Pelestarian Lingkungan dan Budaya Jadi Penggerak Ekonomi Pejeng

Kamardiyana Dorong Pelestarian Lingkungan dan Budaya Jadi Penggerak Ekonomi Pejeng

Gianyar, Balienews.com — Pelestarian lingkungan dan budaya dinilai dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat Desa Pejeng, Gianyar. Tokoh muda Desa Pejeng, I Made Kamardiyana, mendorong kolaborasi masyarakat dalam kegiatan konservasi agar tidak hanya menjaga warisan alam dan budaya, tetapi juga membuka peluang usaha bagi warga.

Gagasan tersebut telah ia praktikkan sejak 16 tahun lalu melalui perintisan kebun organik di tanah kelahirannya, Banjar Panglan, Desa Pejeng. Dari kegiatan itu, berkembang komunitas Mai Organic yang kini aktif dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan dan budaya.

Raih Penghargaan Inovasi

Komitmen Kamardiyana di bidang pertanian dan lingkungan mendapat apresiasi melalui Anugerah Citra Karya Raksita 2026 yang diberikan Bupati Gianyar I Made Mahayastra di Alun-alun Kota Gianyar, Minggu (19/4).

Penghargaan tersebut diberikan bertepatan dengan peringatan HUT ke-255 Kota Gianyar.

Kamardiyana meraih penghargaan Citra Karya Raksita 2026 sebagai Terbaik Inovasi Bidang Kelautan dan Perikanan melalui inovasi pengembangan pakan fermentasi berbahan limbah upacara.

Pada kategori tersebut, hanya satu inovator yang dipilih sebagai penerima penghargaan. Kamardiyana dinilai unggul berdasarkan kematangan konsep dan kemampuan memaparkan inovasinya.

Konservasi Bisa Gerakkan Ekonomi Warga

Menurut Kamardiyana, kegiatan pelestarian seharusnya tidak berhenti pada upaya menjaga lingkungan. Jika dikelola secara tepat, kegiatan konservasi juga dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan ekonomi masyarakat.

Ia mencontohkan kegiatan pelepasliaran jalak Bali yang melibatkan berbagai institusi nasional dan internasional.

Kehadiran peserta tidak hanya bertujuan mengamati dan meliput jalak Bali, tetapi juga mengenal kekayaan budaya yang dimiliki Desa Pejeng.

Ketika kegiatan tersebut diikuti ratusan orang, kebutuhan konsumsi seperti makanan dan minuman dapat dipenuhi dari masyarakat setempat.

Kondisi itu, menurut Kamardiyana, menjadi contoh sederhana bagaimana kegiatan pelestarian dapat menciptakan perputaran ekonomi di tingkat desa.

“Kegiatan ini bisa dipakai sebagai ajang promosi untuk pariwisata regeneratif, di mana keberadaan pariwisata bisa menunjang aktivitas pertanian ramah lingkungan. Ketika bisa dikelola dengan baik, kegiatan ini memiliki potensi yang luar biasa untuk kemajuan desa,” kata mantan Kelian Dinas Banjar Panglan tersebut, Sabtu (5/9).

Pelestarian Mata Air Libatkan Masyarakat

Konsep serupa juga diterapkan dalam kegiatan pelestarian mata air atau beji di Desa Pejeng.

Kegiatan konservasi tersebut membutuhkan semangat gotong royong yang melibatkan tidak hanya masyarakat setempat, tetapi juga pihak dari luar desa yang memiliki perhatian terhadap pelestarian lingkungan.

Kamardiyana melihat keterlibatan banyak pihak sebagai peluang untuk memperkenalkan Pejeng sekaligus menggerakkan ekonomi warga.

“Sama seperti yang tadi (pelepasliaran jalak Bali), kegiatan ini akan membuka peluang ekonomi karena dalam pelestarian ini kita pasti memerlukan sarana dan prasarana atau paling tidak makan dan minum yang bisa dibeli di warga lokal,” ujarnya.

Menurut dia, kegiatan tersebut dapat menjadi daya tarik wisata apabila dikemas dan dipromosikan secara berkelanjutan.

“Kegiatan ini kalau dipromosikan dengan baik, dapat menjadi daya tarik agar orang berkeinginan datang ke Pejeng,” lanjutnya.

Potensi Pertanian hingga Wisata Sejarah

Kamardiyana menilai Desa Pejeng memiliki potensi besar yang belum digali secara maksimal.

Sektor pertanian yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak zaman leluhur diyakini tetap dapat dipertahankan sekaligus dikembangkan dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan.

Selain pertanian, Pejeng sebagai salah satu desa tua di Bali memiliki beragam peninggalan purbakala dan pura bersejarah.

Potensi tersebut dinilai dapat dikembangkan untuk mendukung sektor pendidikan, kebudayaan, konservasi, dan pariwisata.

Dengan kekayaan tersebut, Pejeng dinilai memiliki modal kuat untuk mengembangkan konsep pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Butuh Program Berkelanjutan

Kamardiyana mengatakan pengembangan potensi Desa Pejeng membutuhkan program yang berkesinambungan dan tidak hanya mengandalkan program jangka pendek.

Menurut dia, pembangunan multiyears serta peningkatan kemampuan dan keterampilan masyarakat menjadi bagian penting agar potensi desa dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.

“Sekarang tinggal bagaimana membuat program yang berkesinambungan, pembangunan multiyears, dan meningkatkan kemampuan dan skill masyarakat. Potensi dan peluang itu sangat besar. Ini yang belum tergali maksimal selama ini. Kemungkinan karena arah kebijakan. Kemungkinan kedua, belum tahu harus mulai dari mana,” kata Kamardiyana.

Pengembangan desa, menurutnya, perlu dilakukan dengan mempertemukan kekuatan masyarakat, pertanian, budaya, lingkungan, dan pariwisata.

Dengan kolaborasi tersebut, pelestarian lingkungan dan budaya diharapkan tidak hanya menjaga warisan Desa Pejeng, tetapi juga membuka sumber ekonomi baru bagi masyarakat. (BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI