back to top
Selasa, Februari 10, 2026
- Advertisement -spot_img
BerandaLingkunganBNPB Ingatkan Potensi Banjir Besar Terulang di Bali, Perlu Mitigasi Jangka Panjang

BNPB Ingatkan Potensi Banjir Besar Terulang di Bali, Perlu Mitigasi Jangka Panjang

Jakarta, Balienews.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan potensi banjir besar yang melanda Bali pada awal September 2025 bisa terulang di masa mendatang.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menegaskan perlunya mitigasi jangka panjang dan pembangunan daerah yang memperhatikan daya dukung lingkungan.

Banjir Bali Berpotensi Berulang

Menurut Abdul, banjir besar memiliki periode ulang berdasarkan kajian ilmiah, yakni bisa muncul kembali setelah puluhan tahun.

“Ada periode ulang 50 tahun, ada 100 tahun. Artinya banjir besar seperti di Bali kemarin kemungkinan akan terjadi lagi,” ujarnya dalam konferensi daring “Disaster Briefing”, Senin (15/9/2025) malam.

BNPB saat ini tengah menggali data historis bencana untuk memperkuat strategi mitigasi jangka panjang. Abdul menekankan, pemulihan pariwisata Bali harus dibarengi dengan kesadaran bahwa bencana dapat berulang jika faktor pemicu tetap ada.

Dampak Banjir September 2025

BNPB mencatat curah hujan ekstrem pada 9–10 September memicu meluapnya debit DAS Ayung, yang mengaliri Badung, Jembrana, Buleleng, Karangasem, Gianyar, Bangli, hingga Denpasar.

Hampir seluruh stasiun BMKG di Bali bagian selatan melaporkan curah hujan lebih dari 200 milimeter per hari.

Akibat bencana ini, 18 orang meninggal dunia dan 149 warga mengungsi. Selain itu, banjir bandang juga merusak rumah serta infrastruktur di sejumlah wilayah terdampak.

Faktor Penyebab: Sampah dan Alih Fungsi Lahan

Selain curah hujan ekstrem, BNPB menyoroti masalah sampah dan alih fungsi lahan yang memperparah banjir. Visualisasi di lapangan menunjukkan banyak aliran sungai tertutup sampah.

Bahkan, Kementerian Lingkungan Hidup mencatat lebih dari 200 ton sampah terbawa arus dan menghambat aliran sungai.

Data BNPB juga menunjukkan penyusutan hutan seluas 553 hektare dan berkurangnya lahan pertanian sekitar 650 hektare pada 2012–2019. Konversi lahan menjadi kawasan terbangun menyebabkan daya resapan air menurun drastis.

Risiko ke Depan

Kajian spasial memprediksi kawasan terbangun di Denpasar bisa mencapai 35.000 hektare pada 2025, meningkat tajam dari tahun 2000. Kondisi ini membuat wilayah dengan curah hujan tinggi semakin rawan banjir.

“Kalau daerah dengan curah hujan ekstrem didominasi bangunan, maka banjir akan mudah terjadi. Kita harus kembalikan pariwisata pada ekosistem yang seimbang,” tegas Abdul.

BNPB mengajak pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku pariwisata untuk bersama-sama menjaga lingkungan agar Bali tetap aman dari ancaman bencana hidrometeorologi. (BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI