Denpasar, Balienews.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan produktivitas pertanian di tengah terus menyempitnya luas lahan panen padi.
Langkah ini dinilai krusial menyusul turunnya produksi padi dan beras Bali sepanjang tahun 2025 dan potensi penurunan lanjutan pada awal 2026.
Ketua Tim Statistik Pertanian BPS Bali, Sapto Wintardi, mengatakan peningkatan luas panen padi di Bali relatif sulit dilakukan karena keterbatasan lahan dan alih fungsi lahan.
Oleh karena itu, peningkatan produktivitas menjadi strategi paling realistis untuk menjaga produksi pangan daerah.
“Produksi itu merupakan perkalian antara luas panen dan produktivitas. Luas panen di Bali sulit ditingkatkan, sehingga produktivitas harus didorong,” ujar Sapto, Senin (2/2).
Produksi Padi Bali Sepanjang 2025 Mengalami Penurunan
BPS Bali mencatat, produksi padi di Bali sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai 587,87 ribu ton. Angka ini turun 47,61 ribu ton atau 7,49 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024.
Penurunan juga terlihat pada subround III (September–Desember 2025). Produksi padi pada periode ini tercatat 199,31 ribu ton, atau turun 6,99 persen setara 14,97 ribu ton dibandingkan subround III tahun sebelumnya.
“Hampir di ketiga subround terjadi penurunan produksi padi. Subround I turun 4,66 persen dan subround II turun paling dalam, yakni 9,90 persen,” jelas Sapto.
Produksi Beras Ikut Menyusut
Sejalan dengan penurunan produksi padi, produksi beras Bali sepanjang 2025 juga mengalami penurunan. BPS mencatat total produksi beras mencapai 331,53 ribu ton, turun 26,65 ribu ton atau 7,49 persen dibandingkan tahun 2024.
Khusus pada subround III 2025, produksi beras tercatat 112,40 ribu ton, turun 8,44 ribu ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Alih Fungsi Lahan Jadi Faktor Utama
BPS Bali menilai penurunan produksi padi dan beras berkorelasi erat dengan menyempitnya luas panen padi akibat alih fungsi lahan. Pembangunan infrastruktur pendukung sektor pariwisata disebut menjadi salah satu faktor utama.
“Bali merupakan ujung tombak sektor pariwisata. Hampir setiap tahun terjadi alih fungsi lahan. Dari 2019 hingga 2024 saja, luas lahan pertanian berkurang sekitar 6 ribu hektare,” kata Sapto.
Sepanjang 2025, luas panen padi di Bali tercatat 96,44 ribu hektare, turun 7,09 persen dibandingkan tahun 2024. Penurunan terjadi di seluruh subround, dengan penurunan terbesar pada subround II (Mei–Agustus) sebesar 12,40 persen atau sekitar 5,35 ribu hektare.
BPS Perkirakan Penurunan Berlanjut Awal 2026
Jika produktivitas pertanian tidak segera ditingkatkan, BPS Bali memperkirakan penurunan produksi padi dan beras akan berlanjut pada awal 2026.
Berdasarkan proyeksi BPS, produksi padi pada Januari–Februari 2026 berpotensi turun 12,05 ribu ton atau 17,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Produksi beras juga diperkirakan mengalami penurunan serupa, dengan penurunan terbesar diproyeksikan terjadi pada subround II 2026, mencapai 13,85 ribu ton.
Dorongan Kolaborasi untuk Ketahanan Pangan Bali
BPS Bali menegaskan perlunya kolaborasi antara pemerintah daerah, petani, dan pemangku kepentingan lainnya untuk meningkatkan produktivitas pertanian melalui teknologi, perbaikan irigasi, serta perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan.
Upaya ini dinilai penting untuk menjaga ketahanan pangan Bali di tengah tekanan pembangunan dan dinamika sektor pariwisata. (BEM)




