Buleleng, Balienews.com – Peneliti Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, I Ketut Trika Adi Ana, menegaskan orang tua harus berperan aktif menjadi “guru di rumah” bagi anak dengan disleksia. Pernyataan itu disampaikan di Singaraja, Bali, Sabtu (21/2/2026), sebagai respons atas masih banyaknya orang tua yang menganggap kesulitan membaca pada anak hanya fase perkembangan biasa.
Padahal, menurutnya, disleksia adalah gangguan belajar berbasis saraf yang memengaruhi kemampuan membaca, menulis, mengeja, dan memproses bahasa, sehingga membutuhkan pendekatan khusus dan dukungan berkelanjutan di rumah.
Disleksia Bukan Tanda Anak Tidak Cerdas
Dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Ganesha itu menjelaskan, disleksia merupakan perbedaan cara kerja otak dalam memproses simbol bahasa.
“Disleksia bukan tanda rendahnya kecerdasan anak. Banyak anak dengan disleksia memiliki intelektualitas normal, bahkan bakat luar biasa di bidang kreatif, visual, atau pemecahan masalah,” ujarnya.
Ia yang juga dikenal sebagai penemu font khusus “TrikaIndoDyslexic” untuk anak berpotensi disleksia visual menambahkan, tantangan utama terletak pada cara anak mengenali huruf, menghubungkan bunyi dengan simbol, serta memproses kata secara cepat.
Anak dengan kebutuhan disleksia memerlukan waktu lebih lama, pengulangan lebih sering, serta strategi pembelajaran yang sistematis. Namun dalam sistem kelas yang serba cepat, kebutuhan ini kerap belum terakomodasi secara optimal.
Dampak Psikologis yang Sering Terabaikan
Trika menuturkan, kegagalan membaca yang terjadi berulang dapat memicu pengalaman belajar yang tidak menyenangkan. Aktivitas membaca yang seharusnya membuka wawasan justru menjadi sumber kecemasan.
Anak merasa takut salah, takut ditertawakan, hingga takut dianggap bodoh. Jika kondisi ini terus berulang, anak bukan hanya mengalami kesulitan akademik, tetapi juga kecemasan akademik yang mendalam.
Dalam jangka panjang, anak cenderung menghindari membaca. Sikap tersebut sering disalahartikan sebagai kemalasan, padahal sebenarnya merupakan mekanisme perlindungan diri dari rasa gagal dan malu.
Nilai rendah yang terus terjadi dapat memperkuat keyakinan negatif bahwa dirinya tidak pintar. Dampaknya, kepercayaan diri menurun, motivasi melemah, dan kemampuan sosial ikut terpengaruh.
Peran Krusial Orang Tua di Rumah
Menurut Trika, banyak orang tua baru menyadari masalah ketika anak menunjukkan perubahan perilaku, seperti menjadi pendiam, mudah marah, frustrasi, atau kehilangan minat belajar.
Padahal, akar persoalan kerap berawal dari kesulitan membaca yang tidak ditangani secara tepat dan empatik.
“Sekolah memang bertanggung jawab dalam pendidikan, tetapi waktu guru bersama anak terbatas. Satu guru harus membagi perhatian kepada banyak siswa. Intervensi individual tidak selalu bisa intensif. Sebaliknya, orang tua adalah figur paling konsisten hadir dalam kehidupan anak,” jelasnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pemahaman orang tua terhadap disleksia. Dengan pemahaman yang tepat, anak tidak lagi dianggap malas atau kurang usaha, melainkan dipahami sebagai individu yang membutuhkan strategi belajar berbeda.
Pendampingan yang sabar, konsisten, dan penuh empati di rumah menjadi kunci mencegah dampak psikologis sekaligus meningkatkan kemampuan literasi anak.
Saatnya Lebih Peka terhadap Disleksia
Trika mengajak orang tua untuk tidak menunda evaluasi ketika anak mengalami kesulitan membaca. Deteksi dan intervensi dini dapat membantu anak berkembang optimal tanpa kehilangan rasa percaya diri.
Orang tua yang ingin mengetahui lebih jauh tentang disleksia dan strategi pendampingan dapat berkonsultasi dengan guru, psikolog pendidikan, atau tenaga profesional terkait. (BEM)




