Tabanan, Balienews.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan berencana menghidupkan kembali Sekaa Manyi, kelompok tradisional pemanen padi, untuk mengatasi krisis tenaga panen yang selama ini bergantung pada pekerja dari luar Bali seperti Jawa dan NTB.
Program ini mulai digulirkan pada Januari 2026 dengan menjadikan dua subak di Kecamatan Selemadeg sebagai proyek percontohan.
Langkah ini diambil menyusul kerap terjadinya kelangkaan tenaga panen saat pekerja luar Bali mudik pada hari besar keagamaan. Pemkab menilai kebangkitan Sekaa Manyi menjadi solusi strategis untuk menjaga keberlanjutan pertanian padi di Tabanan.
Dua Subak Jadi Pilot Project Pemulihan Sekaa Manyi
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Tabanan, I Made Subagia, mengatakan dua subak yang ditunjuk sebagai pilot project adalah Subak Aseman IV di Selemadeg Timur dan Subak Bebali di Selemadeg.
“Nanti anggota subak akan kami berdayakan sebagai tenaga pemanen. Mereka juga akan dibekali power thresher atau mesin perontok padi,” ujar Subagia, Jumat (30/1/2026).
Menurutnya, program ini diharapkan menjadi titik awal penguatan tenaga panen lokal yang berbasis kelembagaan subak.
Setiap Subak Didorong Miliki Sekaa Manyi Resmi
Subagia menjelaskan, Sekaa Manyi sebenarnya pernah berkembang pesat di Tabanan. Namun, dalam tiga tahun terakhir, keberadaannya tidak lagi terorganisir secara resmi.
“Karena itu, kami akan membina kembali kelembagaan Sekaa Manyi agar resmi dan bisa dipublikasikan. Selama ini ada, tapi sifatnya parsial,” jelasnya.
Ke depan, setiap subak akan didorong memiliki Sekaa Manyi sendiri untuk memenuhi kebutuhan panen internal. Dengan begitu, ketergantungan terhadap tenaga panen dari luar daerah dapat ditekan secara bertahap.
Tidak Ada Regenerasi, Usia Anggota Semakin Lanjut
Salah satu subak yang masih mempertahankan Sekaa Manyi adalah Subak Lanyah Bajera III, Selemadeg. Ketua Gapoktan setempat, I Ketut Sunada, menyebut anggota Sekaa Manyi tersebar di beberapa banjar di Desa Berembeng.
“Di Banjar Dinas Bebali Kelod saja ada empat kelompok, masing-masing berisi enam orang,” ungkap Sunada.
Namun, ia mengakui saat ini hampir tidak ada regenerasi. Mayoritas anggota Sekaa Manyi berusia di atas 40 tahun, sehingga produktivitas menurun.
“Dulu satu karung gabah bisa diangkut sekali jalan, sekarang hanya setengah karung,” katanya.
Petani Harapkan Power Thresher Ukuran Kecil
Sunada menyambut baik rencana Pemkab Tabanan, khususnya bantuan power thresher. Namun ia berharap mesin yang diberikan berukuran kecil dan menggunakan bahan bakar pertalite.
“Lahan sawah di Tabanan banyak yang terasering. Mesin kecil lebih cocok, ringan, dan mudah dipindahkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebagian besar anggota Sekaa Manyi adalah perempuan, sehingga mesin yang praktis sangat dibutuhkan.
Selain panen di subaknya sendiri, kelompok ini juga kerap diminta membantu panen di subak lain dengan upah berkisar Rp90 ribu hingga Rp100 ribu per kuintal, tergantung akses lokasi.
Selain alat, Sunada juga berharap adanya perbaikan jalan subak untuk memudahkan mobilisasi mesin dan hasil panen.
Dorong Kemandirian Tenaga Panen Lokal
Pemkab Tabanan optimistis kebangkitan Sekaa Manyi akan mengubah pola pikir petani agar lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan tenaga panen. Jika pilot project berhasil, program ini akan diperluas ke seluruh subak di Tabanan. (BEM)




