back to top
Minggu, Februari 8, 2026
- Advertisement -spot_img
BerandaBeritaDaerahTumpek Uye, Komitmen Pemkab Tabanan Lestarikan Kearifan Lokal dan Harmoni Alam

Tumpek Uye, Komitmen Pemkab Tabanan Lestarikan Kearifan Lokal dan Harmoni Alam

Tabanan, Balienews.com – Pemerintah Kabupaten Tabanan kembali mengajak masyarakat menjaga dan melestarikan kearifan lokal Bali melalui perayaan Hari Suci Tumpek Uye, Sabtu Kliwon Wuku Uye.

Perayaan ini menjadi wujud nyata implementasi Visi Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul, dan Madani, sekaligus pengingat pentingnya hubungan harmonis antara manusia, hewan, dan alam.

Ajakan tersebut disampaikan Pemkab Tabanan sebagai bagian dari upaya memperkuat nilai spiritual, ekologis, dan kemanusiaan di tengah tantangan kerusakan lingkungan global.

Makna Tumpek Uye dalam Kehidupan Umat Hindu Bali

Tumpek Uye, yang juga dikenal sebagai Tumpek Kandang, merupakan hari suci umat Hindu di Bali untuk memuliakan hewan.

Istilah “kandang” merujuk pada tempat pemeliharaan hewan, menandakan bahwa momentum ini didedikasikan bagi penghormatan terhadap hewan ternak maupun hewan peliharaan.

Baca Juga :  Aksi Gerebek Sampah Warnai HUT Kota Singasana ke-532

Melalui perayaan ini, umat Hindu diajak menyadari bahwa kehidupan manusia tidak terpisahkan dari makhluk hidup lainnya.

Hewan dipandang sebagai bagian penting dari keberlangsungan hidup manusia yang patut dihormati, bukan sekadar dimanfaatkan.

Ritual Penghormatan terhadap Hewan

Dalam pelaksanaannya, umat Hindu memandikan, menghias, serta mempersembahkan sesajen dan doa kepada hewan seperti sapi, kerbau, ayam, anjing, kucing, burung, hingga ikan peliharaan.

Ritual ini menjadi simbol rasa syukur dan penghormatan lahir batin atas peran hewan dalam kehidupan sehari-hari.

Tradisi ini juga mengajarkan nilai empati dan tanggung jawab manusia terhadap makhluk hidup ciptaan Tuhan.

Bupati Tabanan: Sejalan dengan Ajaran Tat Twam Asi

Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, dikonfirmasi Jumat (6/2), menegaskan bahwa Tumpek Uye sejalan dengan ajaran Tat Twam Asi, yang bermakna “aku adalah engkau, engkau adalah aku”.

Baca Juga :  Koster Ajak Warga Bali Lestarikan Kearifan Lokal Lewat Perayaan Tumpek Wariga

Menurutnya, seluruh makhluk hidup merupakan manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan memiliki kedudukan yang layak dihormati.

“Hewan bukan sekadar objek atau makhluk yang bisa dieksploitasi, melainkan bagian dari semesta yang harus diperlakukan dengan kasih dan tanggung jawab,” ujar Sanjaya.

Nilai Ahimsa dan Tri Hita Karana

Tumpek Uye juga merepresentasikan nilai Ahimsa atau tanpa kekerasan, yang mengajarkan manusia membangun hubungan harmonis dengan hewan tanpa kekejaman.

Nilai ini menjadi bagian tak terpisahkan dari konsep Tri Hita Karana, yakni keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan.

Konsep tersebut dinilai relevan dalam memperkuat kesadaran ekologis masyarakat.

Pendidikan Karakter bagi Generasi Muda

Dalam konteks pendidikan karakter, Tumpek Uye memiliki peran strategis sebagai sarana pembelajaran spiritual bagi generasi muda.

Baca Juga :  Gianyar Larang Pembakaran Sampah dan Jerami Demi Cegah Polusi dan Bahaya Kesehatan

Keterlibatan anak-anak dalam perayaan ini menanamkan empati sejak dini bahwa hewan juga memiliki hak untuk hidup layak dan dihargai.

Nilai-nilai ini diharapkan tumbuh menjadi sikap peduli lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Relevan di Tengah Krisis Lingkungan Global

Di tengah krisis lingkungan global, mulai dari kerusakan ekosistem, kepunahan spesies, hingga perubahan iklim, nilai-nilai luhur Tumpek Uye dinilai semakin relevan.

Melalui pelestarian tradisi ini, Pemkab Tabanan berharap masyarakat terus menjaga keharmonisan dengan alam sebagai fondasi mewujudkan Tabanan Era Baru yang berkelanjutan. (BEM/r)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI