Denpasar, Balienews.com – Sistem transportasi online berbasis desa adat, Ojol TriHita (Transportasi Hijau Terintegrasi Berbasis Desa Adat), mulai memasuki tahap pembentukan kelembagaan di sejumlah kawasan wisata Bali. Setelah diluncurkan di Tabanan pada pertengahan Mei 2026, sejumlah desa adat kini mulai menyiapkan koperasi transportasi untuk mengelola operasional layanan secara mandiri.
Founder PT Sentrik Persada Nusantara, I Made Sudiana, mengatakan fokus pengembangan saat ini adalah mempersiapkan desa adat sebelum sistem transportasi online tersebut berjalan penuh di kawasan wisata Bali seperti Canggu, Pererenan, dan Cemagi.
Menurut Sudiana, desa adat tidak hanya menjadi lokasi operasional transportasi online, tetapi juga akan dilibatkan dalam pengelolaan hingga pengawasan aktivitas transportasi di wilayah masing-masing.
Desa Adat Siapkan Koperasi Transportasi
Sudiana menjelaskan setiap desa di Bali memiliki karakteristik berbeda sehingga sistem pengelolaan Ojol TriHita tidak bisa diseragamkan.
“Sekarang fokusnya bagaimana desa siap dulu. Harus ada lembaga pengelola, bisa koperasi, BUPDA, atau desa wisata sesuai kondisi wilayahnya,” ujar Sudiana, Rabu (27/5/2026).
Ia menambahkan, di kawasan wisata seperti Canggu, masyarakat sudah mulai membentuk koperasi transportasi desa. Pengurus koperasi bahkan telah berkoordinasi dengan Dinas Koperasi Kabupaten Badung untuk memperkuat legalitas dan kelembagaan.
Langkah ini dinilai penting untuk memastikan pengelolaan transportasi wisata berbasis desa adat berjalan lebih tertib dan memberi manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat lokal.
Fokus Penataan Transportasi Kawasan Wisata Bali
Selain menyiapkan kelembagaan, pengelola Ojol TriHita juga mulai memetakan kebutuhan transportasi di sejumlah kawasan wisata yang selama ini mengalami kepadatan aktivitas wisatawan.
Wilayah seperti Canggu, Pererenan, hingga Cemagi disebut menjadi prioritas awal operasional karena tingginya mobilitas wisatawan dan kebutuhan layanan transportasi harian.
Sudiana menyebut sistem ini diharapkan mampu membantu pemerintah dalam menata transportasi wisata Bali yang selama ini kerap menghadapi persoalan kemacetan, persaingan layanan transportasi, hingga minimnya keterlibatan masyarakat lokal.
“Tujuan akhirnya supaya transportasi di Bali lebih tertib dan desa adat ikut merasakan manfaat ekonominya,” katanya.
Ratusan Pengemudi Sudah Mendaftar
Minat masyarakat terhadap sistem transportasi online berbasis desa adat ini disebut cukup tinggi. Hingga akhir Mei 2026, hampir 400 orang telah mendaftar sebagai pengemudi ojek online dan lebih dari 300 orang terdaftar sebagai driver transportasi.
Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah seiring rencana operasional bertahap yang akan dimulai dari wilayah barat Badung dan daerah penyangga wisata lainnya.
“Pendaftar terus bertambah. Ini menunjukkan masyarakat mulai melihat sistem berbasis desa adat sebagai peluang baru,” ujar Sudiana.
Desa Adat Didorong Siapkan SDM Lokal
Sudiana mengakui kebutuhan layanan transportasi di kawasan wisata Bali terus meningkat, sementara jumlah warga lokal yang bekerja sebagai pengemudi masih terbatas.
Karena itu, desa adat didorong mulai menyiapkan sumber daya manusia (SDM) lokal agar kebutuhan driver tidak sepenuhnya bergantung pada tenaga kerja dari luar daerah.
“Kalau kebutuhan driver besar tetapi SDM lokal kurang, itu harus dipikirkan dari sekarang,” katanya.
Sistem Ojol TriHita diharapkan menjadi model transportasi wisata berbasis kearifan lokal yang mampu menciptakan tata kelola transportasi lebih terintegrasi sekaligus memperkuat ekonomi desa adat di Bali. (BEM)




