BerandaBeritaDaerahTernak Babi di Perean Kangin Tabanan Mati Mendadak, Warga Rugi Besar

Ternak Babi di Perean Kangin Tabanan Mati Mendadak, Warga Rugi Besar

Tabanan, Balienews.com – Kematian ternak babi dilaporkan terjadi di Desa Perean Kangin, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, dalam dua bulan terakhir. Sebagian besar babi milik warga disebut mati mendadak diduga akibat serangan penyakit atau virus yang hingga kini belum terkonfirmasi penyebab pastinya.

Perbekel Desa Perean Kangin, I Ketut Astra, mengatakan kasus kematian babi mulai terjadi sejak sekitar dua bulan lalu dan terus bertambah hingga membuat populasi ternak warga nyaris habis.

“Sudah dua bulan berjalan. Bahkan sudah habis ternak babi di Perean Kangin. Ada beberapa yang tidak terkena penyakit,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (24/5/2026).

Babi Gemetar Usai Makan hingga Mati Mendadak

Berdasarkan laporan warga, babi yang terserang penyakit menunjukkan gejala gemetar setelah makan lalu mati mendadak. Sebagian lainnya mengalami penurunan nafsu makan selama dua hari sebelum akhirnya mati.

Kondisi tersebut membuat peternak di wilayah Perean Kangin semakin khawatir karena kerugian ekonomi yang dialami cukup besar. Apalagi, sebagian warga menggantungkan pendapatan dari usaha peternakan babi.

Astra mengungkapkan pihak Puskeswan sudah turun melakukan pengecekan ke desa. Namun, penanganan langsung kepada seluruh peternak terdampak disebut belum dilakukan secara menyeluruh.

“Dari Puskeswan sudah turun mengecek ke desa, kalau penanganan atau tindak lanjut ke peternak belum,” katanya.

Penyebab Kematian Babi Belum Dipastikan

Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, drh. I Gede Eka Parta Ariana, menegaskan kematian ternak babi tidak selalu disebabkan African Swine Fever (ASF).

Menurutnya, kasus kematian babi juga bisa dipicu penyakit lain seperti kolera babi, infeksi bakteri, maupun virus lainnya. Karena itu, dugaan ASF harus dipastikan melalui hasil uji laboratorium agar tidak terjadi kesalahan diagnosis.

“Kematian ternak babi tidak hanya disebabkan ASF. Untuk diagnosa ASF harus dipastikan dengan hasil uji laboratorium. Jadi kasus kematian babi yang terjadi di wilayah Tabanan ini belum ada diagnosa pasti agar tidak salah,” jelasnya.

Ia menambahkan, hingga saat ini Tabanan belum terkonfirmasi adanya kasus ASF. Jika ditemukan indikasi, kasus tersebut akan dilaporkan dan ditindaklanjuti melalui pemeriksaan laboratorium.

Dinas Pertanian Siapkan Langkah Pencegahan

Dinas Pertanian Tabanan menyebut kasus ASF mulai muncul kembali di wilayah Badung dan Gianyar. Karena itu, pemerintah daerah terus meningkatkan kewaspadaan melalui edukasi dan pengawasan kesehatan ternak oleh UPTD terkait.

Selain itu, Pemkab Tabanan juga menyiapkan permohonan bantuan disinfektan ke pemerintah pusat melalui BBVet Denpasar guna memperkuat langkah pencegahan di lapangan.

“Surat sudah kami siapkan untuk permohonan disinfektan ke pusat, besok akan dikirim melalui BBVet Denpasar,” ujarnya.

Pemerintah juga mengimbau peternak memperketat biosecurity di kandang, mulai dari penyemprotan disinfektan, menjaga kebersihan kandang, pengawasan lalu lintas ternak, hingga vaksinasi untuk mencegah penyebaran penyakit lebih luas.

Kasus kematian babi di Tabanan ini diharapkan segera mendapatkan kepastian penyebab agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan kerugian peternak tidak semakin besar. (BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI