Denpasar, Balienews.com – Delegasi Jepang dari Kimono Gallery Yawara menghadirkan kolaborasi unik antara kimono tradisional Jepang dan kain endek Bali dalam ajang Bali World Culture Celebration (BWCC) pada rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Denpasar. Pertunjukan budaya yang digelar pada Senin itu menjadi simbol persahabatan Indonesia-Jepang sekaligus memperkuat diplomasi budaya melalui perpaduan dua warisan tekstil yang sarat filosofi.
Direktur Kimono Gallery Yawara, Tomi Nakamura, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan hasil pengembangan selama tiga tahun untuk menghadirkan harmoni antara tradisi Jepang dan Indonesia.
“Kami berharap dapat melahirkan harmoni baru, inspirasi baru, dan mempererat persahabatan antara kedua negara,” ujarnya.
Sebelas Jenis Kimono Diperkenalkan kepada Publik Bali
Dalam pergelaran busana tersebut, Kimono Gallery Yawara memperkenalkan 11 jenis kimono yang merepresentasikan filosofi, tradisi, dan perjalanan budaya Jepang.
Beberapa jenis kimono yang ditampilkan antara lain Kurotomesode, yakni kimono formal tertinggi berwarna hitam yang biasa dikenakan keluarga dekat pengantin saat pernikahan. Selain itu, ada Furisode dengan lengan panjang khas perempuan muda, Homongi untuk acara resmi, hingga Tsukesage yang memiliki desain lebih sederhana namun tetap elegan.
Pengunjung PKB 2026 juga diajak mengenal Komon dan Edo Komon yang lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Meski tampak sederhana dari kejauhan, kedua jenis kimono tersebut memiliki detail motif yang menunjukkan keterampilan tinggi para perajin Jepang.
Perpaduan Wastra Jepang dan Nusantara
Tidak hanya menampilkan kimono tradisional, pertunjukan juga menghadirkan koleksi kolaboratif yang menggabungkan kain Jepang dengan berbagai wastra Indonesia, mulai dari endek Bali, batik Jawa, hingga tenun Nusantara.
Menurut Tomi Nakamura, salah satu keunikan koleksi tersebut terletak pada desain kimono dua sisi yang memungkinkan satu busana menghadirkan tampilan berbeda. Selain itu, obi atau sabuk tradisional Jepang dipadukan dengan unsur khas Bali untuk memperkuat identitas kedua budaya.
“Obi Jepang dan Bali juga saling dipadukan untuk memperkuat karakter kedua budaya,” katanya.
Filosofi Motif yang Menyatukan Dua Budaya
Setiap motif pada kimono memiliki makna mendalam. Motif sakura melambangkan keindahan kehidupan, bambu menjadi simbol harapan dan umur panjang, sementara motif ombak menggambarkan keteguhan hati serta keharmonisan manusia dengan alam.
Nilai-nilai tersebut dinilai memiliki kesamaan dengan filosofi yang terkandung dalam motif endek Bali. Keduanya sama-sama merepresentasikan hubungan manusia dengan alam, doa, serta harapan akan kehidupan yang harmonis.
Karena itu, perpaduan kimono dan endek Bali tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga mempertemukan dua tradisi yang saling melengkapi.
Dorong Generasi Muda Mencintai Busana Tradisional
Tomi Nakamura berharap kolaborasi ini dapat membantu mempertahankan bentuk dasar kimono sekaligus menghadirkan desain yang lebih praktis dan relevan bagi generasi muda.
Selain busana perempuan, pergelaran juga menampilkan kimono pria berbahan katun dengan obi Hakata, Hakama yang biasa digunakan dalam upacara kelulusan, hingga kimono anak perempuan dalam tradisi Shichi-Go-San yang merayakan pertumbuhan anak usia tiga, lima, dan tujuh tahun.
Gubernur Koster Apresiasi Kehadiran Jepang di PKB 2026
Gubernur Bali, Wayan Koster, yang turut menyaksikan pertunjukan tersebut menyampaikan apresiasi kepada delegasi Jepang atas partisipasinya dalam BWCC PKB 2026.
Menurutnya, keterlibatan Jepang menjadi pengalaman baru sekaligus memperkuat hubungan budaya antara Bali dan Jepang yang selama ini telah terjalin baik.
“Ini baru pertama, terima kasih tim yang telah hadir pada acara ini sekaligus memeriahkan Pesta Kesenian Bali yang juga diisi dengan BWCC,” ujar Koster.
Ia menambahkan, BWCC merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Bali untuk memperkuat dan memajukan kebudayaan dengan membuka ruang interaksi seni dari berbagai daerah dan negara.
Koster juga menilai hubungan Bali dan Jepang tidak hanya berkembang dalam bidang budaya, tetapi juga pendidikan dan ketenagakerjaan. Banyak generasi muda Bali yang mengikuti program magang maupun bekerja di Jepang sebagai bagian dari penguatan hubungan kedua wilayah.
Dengan kolaborasi budaya seperti ini, Bali dan Jepang diharapkan dapat terus mempererat kerja sama sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya bagi generasi mendatang. (BEM)



