Buleleng, Balienews.com — Anak yang berisiko mengalami disleksia di Bali menghadapi tantangan pembelajaran yang lebih kompleks karena pada jenjang awal sekolah dasar dapat diperkenalkan dengan tiga bahasa, yakni bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Bali. Akademisi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Ketut Trika Adi Ana, menilai kondisi tersebut membutuhkan strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik anak, terutama pada kelas I dan II SD.
Disleksia Mulai Terlihat pada Awal Sekolah Dasar
Ketut Trika Adi Ana mengatakan, disleksia merupakan kesulitan belajar spesifik yang berkaitan dengan perbedaan cara otak memproses informasi tertulis.
Anak dengan disleksia umumnya mengalami kendala dalam pemrosesan fonologis, seperti menghubungkan huruf dengan bunyi, membedakan bunyi atau huruf yang mirip, serta mengeja. Kondisi tersebut dapat membuat proses otomatisasi membaca berlangsung lebih lambat.
Menurut Trika, karakteristik anak yang berisiko disleksia biasanya mulai lebih mudah dikenali setelah mereka memasuki pendidikan formal, khususnya ketika berada di kelas I dan II sekolah dasar.
Dengan jumlah peserta didik baru SD di Bali yang mencapai puluhan ribu setiap tahun serta prevalensi disleksia secara global yang diperkirakan sekitar 10–20 persen, terdapat potensi banyak anak membutuhkan dukungan pembelajaran yang lebih sesuai.
Tantangan Belajar Tiga Bahasa
Tantangan tersebut dapat menjadi lebih kompleks ketika anak mulai berhadapan dengan lebih dari satu bahasa dalam proses pembelajaran.
Selain bahasa Indonesia sebagai bahasa utama pembelajaran, sejumlah sekolah atau lingkungan pendidikan di Bali juga memperkenalkan bahasa Inggris dan bahasa Bali kepada peserta didik.
Kondisi tersebut membuat pengalaman belajar membaca pada anak di Bali memiliki karakteristik tersendiri. Pada kelas awal, anak tidak hanya membangun kemampuan membaca dalam bahasa Indonesia, tetapi juga dapat mulai mengenal sistem bahasa lain.
Bahasa Indonesia relatif memiliki hubungan grafem dan fonem yang lebih konsisten sehingga dapat menjadi fondasi dalam pembelajaran membaca awal.
Sebaliknya, bahasa Inggris memiliki sistem ortografi yang lebih kompleks. Kombinasi huruf yang sama dapat menghasilkan bunyi berbeda sehingga berpotensi menambah beban pemrosesan bagi anak yang sedang membangun kemampuan membaca dasar.
Aksara Bali Juga Menjadi Tantangan
Tantangan lain dapat muncul ketika anak mulai mengenal bahasa Bali, terutama apabila pembelajaran melibatkan aksara Bali.
Dalam kondisi tersebut, anak tidak hanya dituntut memahami bunyi dan kosakata baru, tetapi juga mengenali bentuk, aturan penulisan, serta sistem aksara yang berbeda dari alfabet Latin.
Meski demikian, Trika menegaskan bahwa persoalannya bukan terletak pada pembelajaran multilingual atau penguasaan lebih dari satu bahasa.
Menurutnya, kemampuan menggunakan lebih dari satu bahasa justru dapat memberikan berbagai manfaat bagi perkembangan anak. Tantangan utamanya adalah bagaimana bahasa-bahasa tersebut diperkenalkan dan diajarkan kepada anak dengan karakteristik belajar yang berbeda.
Bahasa Indonesia Perlu Menjadi Fondasi Literasi
Untuk mengurangi beban belajar pada tahap awal, pembelajaran kelas I dan II SD dinilai perlu memberikan prioritas terhadap kemampuan membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia sebagai fondasi literasi.
Sementara itu, pengenalan bahasa Inggris dan bahasa Bali pada tahap awal dapat lebih diarahkan pada kemampuan menyimak dan berbicara.
Metode tersebut dapat dilakukan melalui permainan, lagu, percakapan, serta aktivitas komunikasi sederhana. Tuntutan literasi dalam kedua bahasa tersebut kemudian dapat diberikan secara bertahap sesuai perkembangan dan kesiapan anak.
Pendekatan ini memungkinkan anak tetap memperoleh pengalaman belajar bahasa tambahan tanpa menjadikan kemampuan membaca dan menulis dalam beberapa bahasa sekaligus sebagai beban utama pada tahap awal pendidikan.
Sistem Asesmen Perlu Disesuaikan
Penyesuaian juga diperlukan dalam sistem penilaian. Anak yang berisiko disleksia dinilai tidak semestinya hanya diukur berdasarkan kemampuan membaca dan menulis dalam tiga bahasa.
Pada tahap awal, kemampuan bahasa Inggris dan bahasa Bali dapat dinilai melalui kemampuan memahami instruksi, menyimak, berbicara, dan berkomunikasi.
Dengan demikian, hambatan dalam membaca tidak menjadi satu-satunya ukuran untuk menentukan kompetensi bahasa seorang anak.
Trika menilai pendekatan tersebut merupakan bentuk akomodasi pembelajaran, bukan perlakuan istimewa.
Pembelajaran Berdiferensiasi Jadi Pilihan
Guru dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dengan memanfaatkan berbagai media dan aktivitas yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Media visual, audio, permainan, aktivitas kinestetik, hingga teknologi dapat digunakan untuk membantu anak memahami materi dengan cara yang lebih beragam.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu anak berisiko disleksia mengikuti pembelajaran secara lebih optimal tanpa mengurangi kesempatan mereka untuk mempelajari bahasa Indonesia, bahasa Inggris, maupun bahasa Bali.
Pada akhirnya, tantangan pembelajaran tiga bahasa di Bali bukan berarti anak harus dibatasi dalam mempelajari bahasa. Yang lebih penting adalah memastikan setiap bahasa diperkenalkan secara bertahap dengan metode, beban literasi, dan asesmen yang sesuai dengan perkembangan anak.
Orang tua dan guru dapat berperan dengan mengenali kesulitan membaca sejak dini serta memberikan dukungan belajar yang sesuai agar anak tidak tertinggal dalam proses pendidikan. (BEM)




