BerandaBeritaDaerahSetelah 60 Tahun, Pawiwahan Agung Puri Agung Singasana Digelar Kembali

Setelah 60 Tahun, Pawiwahan Agung Puri Agung Singasana Digelar Kembali

Tabanan, Balienews.com – Puri Agung Singasana Tabanan kembali menggelar Pawiwahan Agung setelah sekitar 60 tahun tidak dilaksanakan. Rangkaian upacara pernikahan keluarga puri yang melibatkan Puri Agung Singasana dan Puri Dangin Tabanan tersebut berlangsung pada Agustus 2026 dengan mempertahankan sejumlah ritual langka, termasuk penggunaan Gong Beri dan Joli kerajaan.

Pawiwahan Agung ini tidak hanya menjadi perayaan pernikahan dua keluarga besar puri, tetapi juga menjadi upaya menghidupkan kembali tradisi kerajaan Tabanan yang hampir tidak lagi diselenggarakan.

Gong Beri Kembali Bergema di Tabanan

Salah satu momen penting berlangsung pada Minggu, 16 Agustus 2026, dalam prosesi pengambilan mempelai wanita. Dalam arakan tersebut, Gamelan Gong Beri kembali dimainkan untuk mengiringi perjalanan mempelai dari Puri Dangin Tabanan menuju Puri Agung Singasana Tabanan.

Gong Beri merupakan perangkat gamelan yang memiliki unsur akulturasi budaya Bali dan China. Instrumen ini digunakan dalam momentum tertentu yang dianggap khusus dan sakral, termasuk pawiwahan keluarga puri serta upacara besar lainnya.

Baca Juga :  Bupati Tabanan Hadiri Upacara Pujawali Pasemetonan Agung Pratisentana Sri Nararya Kenceng

Perpaduan gong, klentang atau kenong bergaya China, kendang, dan suling menghasilkan tetabuhan dengan karakter ritmis yang kuat. Dalam prosesi mepeed, Gong Beri berfungsi mengiringi sekaligus mengatur langkah barisan arak-arakan.

Manggala Karya Pawiwahan Agung Puri Tabanan, DR. I Gusti Ngurah Ardana, menyebut kembalinya Gong Beri menjadi bagian penting dari upaya menghidupkan sejarah dan tradisi Tabanan.

Menurutnya, Gong Beri terakhir kali digunakan untuk mengiringi arakan mempelai kerajaan di Tabanan sekitar 60 tahun lalu.

Mempelai Diarak Menggunakan Joli

Kemegahan Pawiwahan Agung juga terlihat dari penggunaan Joli, yakni tandu berupa kursi usung yang digunakan untuk membawa kedua mempelai.

Arak-arakan turut dilengkapi perangkat kebesaran puri, seperti Tombak Bandrang dan Tedung Agung.

Prosesi diawali dengan Ngungkab Lawang, berupa ritual mengetuk pintu suci yang dilakukan dua Sulinggih bersama dua Juru Gending. Mereka melantunkan kidung atau kekawin sebelum prosesi dilanjutkan dengan sungkem dan pamit kepada orang tua.

Baca Juga :  Bupati Tabanan Hadiri Upacara Pujawali Pasemetonan Agung Pratisentana Sri Nararya Kenceng

Setelah itu, kedua mempelai dinaikkan ke Joli dan diarak dari Puri Dangin Tabanan menuju Puri Agung Singasana.

Setibanya di depan Apit Surang Puri Agung Singasana, mempelai wanita disambut dengan Banten Penyapa oleh ibu mempelai pria. Prosesi tersebut didahului penyingkapan krudung mempelai wanita sebagai bagian dari simbol penerimaan ke dalam keluarga baru.

Dua Ritual Khusus dalam Pawiwahan Agung

Rangkaian upacara kemudian mencapai puncaknya pada Rabu, 19 Agustus 2026 melalui prosesi Mesakapan dan Widi Widana.

Selain mengikuti pakem Pawiwahan Puri Agung Singasana, terdapat dua ritual tambahan yang memiliki makna filosofis, yakni Mesop-Sopan dan Meangget-Anggetan.

Mesop-Sopan merupakan ritual saling menyuapi makanan antara suami dan istri. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan, kerja sama, serta komitmen pasangan dalam membangun kehidupan rumah tangga.

Sementara itu, Meangget-Anggetan merupakan prosesi memetik daun pohon dalam rangkaian Medagang-dagangan. Ritual tersebut memiliki makna tentang tawar-menawar kehidupan, kesabaran, serta harapan akan kesejahteraan dan rezeki.

Baca Juga :  Bupati Tabanan Hadiri Upacara Pujawali Pasemetonan Agung Pratisentana Sri Nararya Kenceng

Ditutup dengan Upacara Ngunye

Tiga hari setelah puncak upacara, tepatnya pada 22 Agustus 2026, kedua mempelai bersama keluarga besar dijadwalkan melaksanakan Ngunye di Puri Dangin Tabanan.

Upacara tersebut berupa persembahyangan bersama di merajan puri yang dipimpin seorang Sulinggih sekaligus menjadi penutup rangkaian Pawiwahan Agung.

Menghidupkan Kembali Warisan Budaya Tabanan

Pawiwahan Agung Puri Agung Singasana menjadi momentum penting dalam pelestarian tradisi puri di Tabanan. Setelah sekitar enam dekade vakum, sejumlah ritual yang jarang dijumpai kembali ditampilkan dalam satu rangkaian upacara.

Kembalinya Gong Beri, penggunaan Joli, hingga ritual-ritual khusus dalam pawiwahan menjadi bagian dari upaya menjaga warisan leluhur agar tetap dikenal generasi berikutnya.

Bagi masyarakat dan wisatawan yang memiliki ketertarikan terhadap budaya Bali, rangkaian Pawiwahan Agung ini juga menjadi kesempatan untuk menyaksikan secara langsung tradisi puri yang sarat nilai sejarah, adat, seni, dan filosofi.(BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI