BerandaPeristiwaKemarau Panjang Ancam Sumber Air Satwa di TNBB

Kemarau Panjang Ancam Sumber Air Satwa di TNBB

Buleleng, Balienews.com – Musim kemarau panjang mulai berdampak pada ketersediaan air bagi satwa liar di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Sejumlah kubangan air menyusut, bahkan beberapa kubangan berukuran kecil dilaporkan telah mengering.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I TNBB, Isai Yusidarta, mengatakan kondisi tersebut terpantau dalam pemantauan petugas pada Rabu (16/9/2026).

Menurut Isai, kubangan yang mengering umumnya memiliki luas kurang dari 10 meter persegi dan berada di kawasan dengan ketinggian lebih dari 50 meter di atas permukaan laut.

Kubangan Kecil Lebih Cepat Mengering

Isai menjelaskan, kubangan berukuran kecil tersebut biasanya memperoleh pasokan air dari aliran permukaan yang bukan merupakan aliran utama.

Saat terisi penuh pada musim hujan, kedalaman air di kubangan tersebut hanya sekitar 20 sentimeter.

“Kubangan ukuran ini menampung air dari aliran air permukaan yang bukan utama. Kedalamannya saat air penuh biasanya hanya sekitar 20 sentimeter,” kata Isai, Rabu (16/9/2026).

Karena tidak mendapat tambahan aliran air yang cukup selama kemarau, sejumlah kubangan akhirnya menyusut hingga mengering total.

Sebagian Kubangan di TNBB Masih Berair

Meski beberapa kubangan telah mengering, kondisi sumber air di kawasan TNBB tidak seluruhnya sama.

Petugas masih menemukan kubangan yang terisi air di kawasan Cekik. Namun, volumenya mengalami penyusutan cukup signifikan dibandingkan saat musim hujan.

Isai mengatakan, kubangan tersebut biasanya memiliki luas sekitar 500 meter persegi dengan kedalaman mencapai 1 meter ketika musim hujan.

Saat pemantauan dilakukan, luas permukaan airnya menyusut menjadi sekitar 100 meter persegi. Kondisi tanah di sekitar kubangan masih terlihat lembap dan basah.

Jejak sejumlah satwa juga masih ditemukan di sekitar lokasi, di antaranya babi hutan, rusa timor, kijang, dan ayam hutan.

Kondisi serupa terpantau di kawasan Tegalbunder serta sejumlah cekungan di sekitar Teluk Gilimanuk yang masih memiliki genangan air.

Petugas juga menemukan jejak monyet ekor panjang, babi hutan, dan rusa di sekitar sumber air tersebut.

Kubangan Berperan Penting bagi Satwa Liar

Isai menjelaskan, keberadaan kubangan air memiliki peran penting bagi ekosistem hutan TNBB. Sumber air tersebut dimanfaatkan berbagai jenis satwa, mulai dari serangga, reptil, burung hingga mamalia.

Sejumlah mamalia seperti babi hutan, rusa, kijang, monyet ekor panjang, dan lutung memanfaatkan kubangan sebagai tempat minum.

Air dan lumpur juga membantu satwa menjaga kondisi tubuh, terutama ketika suhu lingkungan meningkat selama musim kemarau.

“Bagi satwa, kubangan dimanfaatkan untuk minum dan mendinginkan suhu tubuh. Burung pun bisa berendam di kubangan air, begitu juga babi yang suka membenamkan dirinya,” ujar Isai.

Selain membantu mendinginkan tubuh, lumpur juga dapat digunakan satwa untuk melindungi kulit sekaligus membantu mengusir serangga maupun parasit.

Rusa Timor Manfaatkan Air Payau

Kebutuhan satwa terhadap sumber air tidak hanya berkaitan dengan minum.

Isai mengatakan, rusa timor memiliki perilaku mendatangi kubangan air payau yang berada di sekitar kawasan mangrove.

Air tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan mineral, khususnya garam, bagi tubuh rusa timor.

“Khusus rusa timor biasanya mendatangi kubangan air payau di sekitar mangrove untuk memenuhi kebutuhan mineral garam dalam tubuh,” katanya.

Kondisi sumber air selama kemarau menjadi salah satu bagian yang terus dipantau petugas TNBB karena keberadaan kubangan berkaitan langsung dengan aktivitas berbagai satwa liar di dalam kawasan konservasi. (BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI