Tabanan, Balienews.com – Pemerintah Kabupaten Tabanan kembali mengajak masyarakat menjaga dan melestarikan kearifan lokal Bali melalui perayaan Hari Suci Tumpek Uye, Sabtu Kliwon Wuku Uye.
Perayaan ini menjadi wujud nyata implementasi Visi Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul, dan Madani, sekaligus pengingat pentingnya hubungan harmonis antara manusia, hewan, dan alam.
Ajakan tersebut disampaikan Pemkab Tabanan sebagai bagian dari upaya memperkuat nilai spiritual, ekologis, dan kemanusiaan di tengah tantangan kerusakan lingkungan global.
Makna Tumpek Uye dalam Kehidupan Umat Hindu Bali
Tumpek Uye, yang juga dikenal sebagai Tumpek Kandang, merupakan hari suci umat Hindu di Bali untuk memuliakan hewan.
Istilah “kandang” merujuk pada tempat pemeliharaan hewan, menandakan bahwa momentum ini didedikasikan bagi penghormatan terhadap hewan ternak maupun hewan peliharaan.
Melalui perayaan ini, umat Hindu diajak menyadari bahwa kehidupan manusia tidak terpisahkan dari makhluk hidup lainnya.
Hewan dipandang sebagai bagian penting dari keberlangsungan hidup manusia yang patut dihormati, bukan sekadar dimanfaatkan.
Ritual Penghormatan terhadap Hewan
Dalam pelaksanaannya, umat Hindu memandikan, menghias, serta mempersembahkan sesajen dan doa kepada hewan seperti sapi, kerbau, ayam, anjing, kucing, burung, hingga ikan peliharaan.
Ritual ini menjadi simbol rasa syukur dan penghormatan lahir batin atas peran hewan dalam kehidupan sehari-hari.
Tradisi ini juga mengajarkan nilai empati dan tanggung jawab manusia terhadap makhluk hidup ciptaan Tuhan.
Bupati Tabanan: Sejalan dengan Ajaran Tat Twam Asi
Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, dikonfirmasi Jumat (6/2), menegaskan bahwa Tumpek Uye sejalan dengan ajaran Tat Twam Asi, yang bermakna “aku adalah engkau, engkau adalah aku”.
Menurutnya, seluruh makhluk hidup merupakan manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan memiliki kedudukan yang layak dihormati.
“Hewan bukan sekadar objek atau makhluk yang bisa dieksploitasi, melainkan bagian dari semesta yang harus diperlakukan dengan kasih dan tanggung jawab,” ujar Sanjaya.
Nilai Ahimsa dan Tri Hita Karana
Tumpek Uye juga merepresentasikan nilai Ahimsa atau tanpa kekerasan, yang mengajarkan manusia membangun hubungan harmonis dengan hewan tanpa kekejaman.
Nilai ini menjadi bagian tak terpisahkan dari konsep Tri Hita Karana, yakni keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan.
Konsep tersebut dinilai relevan dalam memperkuat kesadaran ekologis masyarakat.
Pendidikan Karakter bagi Generasi Muda
Dalam konteks pendidikan karakter, Tumpek Uye memiliki peran strategis sebagai sarana pembelajaran spiritual bagi generasi muda.
Keterlibatan anak-anak dalam perayaan ini menanamkan empati sejak dini bahwa hewan juga memiliki hak untuk hidup layak dan dihargai.
Nilai-nilai ini diharapkan tumbuh menjadi sikap peduli lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Relevan di Tengah Krisis Lingkungan Global
Di tengah krisis lingkungan global, mulai dari kerusakan ekosistem, kepunahan spesies, hingga perubahan iklim, nilai-nilai luhur Tumpek Uye dinilai semakin relevan.
Melalui pelestarian tradisi ini, Pemkab Tabanan berharap masyarakat terus menjaga keharmonisan dengan alam sebagai fondasi mewujudkan Tabanan Era Baru yang berkelanjutan. (BEM/r)




