back to top
Rabu, Maret 4, 2026
- Advertisement -spot_img
BerandaEkonomiHarga BBM Terancam Naik Imbas Konflik Global

Harga BBM Terancam Naik Imbas Konflik Global

Balienews.com – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu ledakan besar pada Sabtu (28/2) berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dunia hingga menembus 100 dolar AS per barel. Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menyebut eskalasi konflik dapat memicu gangguan pasokan global, terutama jika distribusi minyak di Selat Hormuz terganggu.

Faisal menjelaskan harga minyak saat ini masih berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Namun, jika konflik berlanjut dan memanas, harga bisa melonjak ke level 80 dolar AS per barel, bahkan menembus 100 dolar AS per barel apabila jalur distribusi strategis terdampak.

Potensi Gangguan di Selat Hormuz

Faisal menekankan bahwa kunci lonjakan harga minyak dunia terletak pada stabilitas distribusi di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan pintu keluar masuk sekitar 20 persen perdagangan minyak global.

Jika terjadi gangguan distribusi akibat konflik regional, pasar energi dunia akan bereaksi cepat. Harga minyak mentah berpotensi melonjak tajam karena kekhawatiran pasokan.

“Kalau sudah sampai 100 dolar per barel, itu masuk zona tinggi, bahkan mendekati rekor dalam beberapa tahun terakhir. Terakhir kita mengalami lonjakan signifikan saat awal perang Rusia-Ukraina,” kata Faisal, dikutip dari Antara.

Risiko Konflik Meluas ke Tingkat Regional

Menurut Faisal, konflik Iran dan Israel berpotensi berkembang menjadi konflik regional dengan keterlibatan Amerika Serikat. Bahkan, dukungan dari China dan negara-negara sekutu Iran bisa memperpanjang eskalasi.

Ia memperingatkan bahwa perang bisa berlangsung lebih lama dari perkiraan pasar, sehingga ketidakpastian global semakin tinggi. Ketidakpastian inilah yang biasanya mendorong spekulasi dan kenaikan harga komoditas energi.

Dampak ke Harga BBM di Indonesia

Lonjakan harga minyak dunia hampir pasti berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

BBM nonsubsidi dipastikan mengikuti harga pasar internasional. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah potensi penyesuaian harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, yang banyak digunakan masyarakat kelas menengah ke bawah.

Kenaikan harga minyak dunia tak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga dapat memicu inflasi, meningkatkan biaya logistik, dan menekan daya beli masyarakat.

Jika harga minyak menembus 100 dolar AS per barel, beban subsidi energi pemerintah berpotensi meningkat signifikan. Pemerintah pun dihadapkan pada pilihan sulit: menambah anggaran subsidi atau menyesuaikan harga di tingkat konsumen. (BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI