Balienews.com – Fenomena tren viral di media sosial kerap memengaruhi anak dan remaja untuk ikut-ikutan tanpa mempertimbangkan risiko. Psikolog klinis dari Lembaga Psikolog Terapan Universitas Indonesia, Anna Surti Ariani, mengungkapkan cara yang bisa dilakukan orang tua untuk membimbing anak tetap kritis.
Tips ini disampaikan di Jakarta, baru-baru ini, sebagai respons atas maraknya tren viral yang berdampak negatif, serta pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak menghadapi pengaruh media sosial.
Mengapa Anak Mudah Terpengaruh Tren Viral?
Anak dan remaja umumnya lebih cepat mengetahui tren terbaru dibandingkan orang dewasa. Hal ini membuat mereka rentan mengikuti sesuatu yang sedang populer tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Menurut Anna, sekadar memberikan larangan atau penjelasan tidak cukup. Orang tua perlu pendekatan yang lebih mendalam agar anak tidak sekadar ikut-ikutan, tetapi mampu berpikir kritis terhadap tren yang muncul.
Kunci Utama: Bangun Hubungan yang Kuat
Membangun kedekatan emosional menjadi langkah paling penting dalam mencegah anak mudah terpengaruh tren viral. Anak yang merasa aman dan nyaman dengan orang tua cenderung lebih terbuka, sehingga komunikasi berjalan dua arah dan nasihat lebih mudah diterima.
Beberapa cara yang bisa dilakukan:
- Luangkan waktu khusus untuk berbicara dari hati ke hati
Sisihkan waktu tanpa gangguan, misalnya saat makan bersama atau sebelum tidur, untuk mengobrol santai. Tidak harus selalu membahas hal serius—justru percakapan ringan dapat membuka ruang bagi anak untuk bercerita lebih dalam. - Dengarkan tanpa menghakimi
Saat anak berbagi cerita, hindari langsung menyalahkan atau memotong pembicaraan. Tunjukkan empati dan pahami sudut pandang mereka. Dengan begitu, anak tidak takut untuk jujur, termasuk saat menghadapi tekanan dari lingkungan atau tren di media sosial. - Berikan perhatian penuh saat anak bercerita
Hindari distraksi seperti ponsel atau pekerjaan lain. Tatap mata anak, respon dengan bahasa tubuh yang positif, dan berikan tanggapan yang menunjukkan bahwa cerita mereka benar-benar didengar dan dihargai.
Hubungan yang sehat dan hangat akan membuat orang tua menjadi figur yang dipercaya sekaligus panutan. Dari sinilah fondasi terbentuk agar anak mampu menyaring pengaruh luar dan tidak mudah ikut-ikutan tren yang belum tentu berdampak baik.
Kenali Lingkungan Pergaulan Anak
Selain hubungan dalam keluarga, lingkungan pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir dan perilaku anak. Apa yang dilakukan teman sebaya sering kali menjadi acuan, termasuk dalam mengikuti tren viral di media sosial.
Orang tua disarankan untuk:
- Mengenal teman-teman anak secara langsung
Ketahui siapa saja yang sering berinteraksi dengan anak, baik di sekolah maupun di lingkungan bermain. Dengan mengenal mereka, orang tua bisa memahami dinamika pergaulan dan potensi pengaruh yang muncul. - Mengundang teman-teman anak ke rumah
Sesekali ajak teman anak untuk berkumpul di rumah. Selain mempererat hubungan sosial anak, hal ini juga memberi kesempatan bagi orang tua untuk mengamati karakter dan kebiasaan teman-temannya secara lebih dekat. - Menciptakan suasana yang nyaman saat mereka berkumpul
Jadilah tuan rumah yang ramah dan terbuka, tanpa terkesan mengawasi secara berlebihan. Lingkungan yang hangat akan membuat anak dan teman-temannya merasa dihargai, sehingga komunikasi bisa terjalin lebih baik. - Diskusikan secara terbuka jika ada pengaruh negatif
Jika melihat tanda-tanda pergaulan yang kurang sehat, bicarakan dengan anak secara santai dan tidak menghakimi. Jelaskan alasan kekhawatiran Anda dan ajak anak berpikir kritis terhadap situasi tersebut.
Dengan pendekatan ini, anak merasa didukung, bukan dikontrol. Di sisi lain, teman-temannya pun cenderung lebih segan untuk mengajak pada perilaku negatif karena mengenal orang tua sebagai sosok yang peduli dan terlibat.
Orang Tua Harus Jadi Teladan
Anak belajar bukan hanya dari apa yang didengar, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat setiap hari. Karena itu, sikap dan perilaku orang tua menjadi contoh nyata yang akan ditiru oleh anak, termasuk dalam menyikapi tren viral dan tekanan sosial.
Langkah penting yang bisa diterapkan:
- Menjaga kesehatan mental dan emosi
Orang tua perlu mampu mengelola stres, emosi, dan tekanan hidup dengan baik. Ketika anak melihat orang tuanya tetap tenang dalam menghadapi masalah, mereka akan belajar untuk tidak reaktif dan lebih bijak dalam mengambil keputusan. - Menunjukkan kepercayaan diri
Tampilkan sikap percaya diri dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat menghadapi opini orang lain atau tren yang sedang populer. Hal ini akan mengajarkan anak untuk tidak mudah terpengaruh dan berani memiliki pendirian sendiri. - Menghindari perilaku ikut-ikutan yang tidak perlu
Orang tua juga perlu selektif dalam mengikuti tren, baik di media sosial maupun kehidupan nyata. Hindari menunjukkan perilaku latah atau sekadar ikut arus tanpa pertimbangan, karena anak akan meniru pola tersebut. - Konsisten antara ucapan dan tindakan
Pastikan apa yang diajarkan kepada anak selaras dengan perilaku sehari-hari. Konsistensi ini penting agar anak tidak bingung dan dapat menanamkan nilai yang kuat dalam dirinya.
Sikap positif dan konsisten dari orang tua akan membantu membentuk pola pikir anak yang lebih mandiri, kritis, dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial maupun tren yang belum tentu membawa dampak baik.
Dampak Negatif Tren Viral
Tidak semua tren viral membawa dampak baik. Salah satu contoh adalah fenomena permainan Koin Jagat yang sempat viral dan menyebabkan kerusakan fasilitas umum karena perburuan koin di ruang publik.
Orang tua perlu aktif mengajak anak berdiskusi mengenai tren semacam ini, termasuk risiko dan konsekuensinya bagi diri sendiri maupun lingkungan.
Peran Aktif Orang Tua Sangat Penting
Mencegah anak ikut tren viral bukan hanya soal melarang, tetapi membangun komunikasi, memahami lingkungan, dan memberi contoh yang baik.
Dengan pendekatan tersebut, anak akan lebih bijak dalam menyikapi tren dan tidak mudah terpengaruh oleh hal yang merugikan.
Di era digital, peran orang tua semakin krusial. Mulailah dengan komunikasi yang terbuka dan jadilah panutan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang kritis dan bertanggung jawab. (BEM)




